Andai Indonesia Sadar?!

24 May

Sering kali kita berandai-andai tanpa ada tindakan dan dukungan.

Kali ini saya berandai-andai berdasarkan padangan saya terhadap lingkungan saya dan beberapa merupakan input dari rekan dekat saya.

Beberapa hari lalu saya ngobrol bareng dengan rekan, membahas mengenai gossip Hamish dan Raisa. Banyak yang berkomentar patahati baik dari sudut padang laki-laki maupun perempuan. Bukan itu yang akan saya bahas, melainnya perjalanan Hamish saat pertama kali menjadi host di My Trip My Adventure, TransTV. Kembali ke sudut pandang saya saat itu, jujur saya bangga dan acungkan jempol saya kepada para staf TransTV yang meng-create acara TV show se-spectakuler itu. Saya pengikut dan penggemar berat beberapa acara besar dari Korea Selatan seperti 1N2D, RM, RS, Fantastic Duo, dll. Jadi kerap kali saya membandingkan acara yang ditayangkan di TV.

Bukan bermaksud buruk, ini menurut saya terkait MTMA saat pertama kali tayang:

  1. Host-nya total dan “good looking”.
  2. Ide untuk keliling Indonesia, sembari mempromosikan adat istiadat daerah dan keindahanya.
  3. Cara pengambilan gambar yang sangat baik.
  4. Editor dan transkrip yang sangat baik.
  5. Waktu yang konsisten (tidak diperpanjang-panjang) dan tidak bertele-tele.
  6. *pokoknya saat jaman Hamish, Denisumargo, Nadine, Vicky, yang menjadi host saya -Solute-

Yang saya sayangkan saat itu adalah Tidak Ada Dukungan Dari Pemerintah untuk acara sebagus ini. Maksudnya apa? saya saat itu rutin menonton acara MTMA dimana hanya tayang setiap Minggu selama 1 Jam. Setiap usai saya selalu membaca credit title MTMA, yang mau saya cari tau adalah SPONSOR utama. betapa kecewanya saya selama 2 minggu pertama saya pantau tidak ada Logo Pemerintah -Pariwisata Indonesia- dengan slogan mereka “Wonderful Indonesia “. Yang ada dikepala saya, Kenapa tidak ada dukungan dari pemerintah? apakah TransTV yang tidak mengajukan sponsor atau pariwisata yang tidak tau?

At the end, setelah 1-2 bulan acara MTMA ada, dan host semakin banyak, saya melihat Sponsor yang saya cari-cari itu. Tidak hanya di bagian credit title, Wonderful Indonesia juga tampil di opening dan beberpa produk (kaos) yang digunakan host. GREAT! Bayangkan jika yang menonton MTMA adalah orang luar negeri. Sama seperti saya yang menonton 1N2D dari TV online saja yang pada akhirnya mencintai dan ingin tau banyak tentang Korea Selatan.

Lambat, Kurang Perhatian, Kurang Sadar, ini menurut saya terhadap Pemerintah Indonesia dan Penduduknya (ini artinya termasuk saya).

Andai Indonesia Sadar?

  1. Pemerintah secara detail membuat tim sendiri yang tugasnya mengawasi linkungan. Bukan seperti Polisi atau Tentara. Yang saya maksud adalah mereka akan menangkap semua informasi terkini tentang Indonesia secara positif dan inovatif dengan tujuan mempromosikan Indonesia.
  2. Pemerintah tegas terhadap peraturan. saya melihat TV itu tidak ada kontrol, dan terkadang saya mengaggap isinya seperti “Sampah” tidak mendidik saya. Secara jaman sekarang informsai sudah bisa kami dapatkan hanya dengan sebuah tombol. Saya sering membahas ini, apa yang seharusnya dilakukan agar tayangan di indonesia lebih teratur. Filter seperti apa yang seharusnya dilakukan.
  3. Indonesia itu kaya akan Adat Istiadat dan Budaya. Ini merupakan nilai jual yang sangat tinggi.
  4. Indonesia itu punya banyak innovator. Pemuda pemudi jika diberikan kesempatan dan ruang, saya yakin Indonesia akan terkenal jauh dibandingkan Korea Selatan. Jika bingung maksud saya, ini contohnya: Jika saat ini acara TV itu jelek semua dan banyak yang bersifat copy karena scriptwriter yang sudah kehabisan Ide, maka lakukan intern scriptwriter atau sekalian open scriptwriter tujuannya untuk melihat ide-de dari orang lain, meskipun bukan keahliannya. Yang mahal itu idenya, setelah memperoleh ide dan sepakat visi misi, bisa saja intern/open scriptwriter tsbt hanya berfungsi sebagai second scriptwriter atau bisa saja hanya membeli idenya. Next-nya seharusnya sudah paham dong. Yang susah dicari itu Idenya.
  5. Kita itu sering kali hanya melihat kelemahan dan kekurangan Indonesia saja, sehingga tidak pernah mau speak-up dan sering kali hanya ngikut. Atau sekalinya berteriak, malah memalukan negara, heboh, hingga anarkis. Tidak main cerdas.
  6. Kita itu egois, hanya mementingkan lingkungan kecil saja. melihatnya hanya jarak pendek bukan jarak panjang.
  7. Kita itu tidak konsisten dan mudah dipengaruhi. Bodoh.
  8. Kita itu tidak mau rugi sejenak atau mau mencoba hal baru atau tidak mau ambil resiko. Cobalah belajar dari Korea Selatan, yang saat ini mereka berani Speak-up meskipun masih perang dengan Korea Utara. Saya ingat dengan quote acara Hitam Putih “Kita itu tidak berani ambil resiko, padahal belum tentu yang beresiko itu buruk, bisa jadi itu adalah awal dari kebaikan” yang panjang.

Ya mungkin banyak lagi yang bisa dilakukan oleh kita khususnya Pemerintah.

Kami hanya bisa berharap padamu dan berandai “Andai Indonesia Sadar?!” (ip)

Bunga Tidur

2 Feb

Bunga tidur itu apa?

Impian, harapan, kenangan, kebahagiaan, kekecewaan, ketakutan …

Tidak semua orang bisa mengingat mimpinya untuk satu malam. beruntunglah dimana kita dapat mengingatnya saat kita membuka mata. mengapa? karena alam bawah sadar kita saat tertidur dan bangun kembali memiliki dimensi yang berbeda.

Aku sendiri tipe orang yang jarang bermimpi ataupun dapat mengingat mimpiku. ada, mungkin beberapa mimpi yang bisa aku ingat salah satunya mimpi ini.

Harapan dan doa itu selalu beriringan. sama halnya harapanku dengan usiakun saat ini sebagai seorang wanita. melengkapi kewajiban sebagai anak. benar? menikah. Aku bukan bermimpi menikah. mimpiku adalah menemukan orang yang tepat yang berani mengambil langkah bersamaku.

Di dalam mimpiku, dia seorang yang baik dan tulus. Dia lebih tinggi dariku. Dia memiliki bahu yang nyaman bila aku bersandar padanya. Dia memiliki orang yang harus dia jaga dengan keterbatasan kemampuan. Dia menerimaku dengan senyumnya. Dia membuka lengannya untuk kekuranganku. Dia merangkulku saat aku  benar-benar membutuhkan orang lain.

Ini mimpi, jadi besar kemungkinan bagian penting lainnya sudah aku lupakan saat aku terbangun. Tapi hangat suasana dan rasa nyaman yang diberikan dia dalam mimpi membuatku bahagia menyamput hariku hari itu.

Mimpi dimana membuatku juga menerima dia dan membuka hatiku untuknya. yang aku rasakan pada saat itu adalah aku tidak menyukainya karena orangtuaku. dalam mimpiku, tidak ada pernikahan yang diapksakan seperti drama-drama. saat itu sepertinya dia sudah lama berada disisiku namun aku hanya menganggapnya sebagai orang lain. keberadaannya saat itu membuatku sadar kalau aku juga perlu bahagia dengan caraku sendiri. Dia yang berani berjanji akan membahagiakan orangtuaku.

Aku ingat dimana dia membawaku dengan motornya. Aku yang tidak mau menyentuhnya meski hanya sekedar untuk keamananku saat dibonceng dia. yang akhirnya dia mengatakan sesuatu hal yang membuatku menangis tersedu-sedu. perkataannya membuat tanganku mengulur dengan mudahnya untuk memeluknya dari belakang dan menangis sejadi-jadinya di bahunya. membuatku mengatakan “iya aku mau bahagia”.

Entar bagaimana dia membawaku kesebuah rumah. dalam bayang-bayang ada yang mengatakan itu akan menjadi rumahmu. tapi aneh, rumah itu saat ini adalah warung yang ditempati oleh seorang ibu-ibu lanjut usia yang sangat kejam. ibu itu tidak suka dengan keberadaanku. lalu ada seorang anak bertubuh tinggi, namun kembali ada yang berbisik mengatakan anak itu adalah anak ‘dia’ yang memiliki latar belakang yang berbeda dengan anak-anak lainnya. anak itu tinggi namun tingkahnya benar-benar seperti anak usia 7 tahun. anak itu marah saat ibu itu memarahiku yang aku sendiri tidak tau alasannya. untuk menenangkan anak itu, aku menariknya dengan memeluknya dan mengelus dadanya dari belakang. dan anak itu menangis di bahuku karena dia tidak suka ada orang berteriak padaku. saat itu aku tidak tau persis dimana ‘dia’ tapi aku melihatnya tersenyum.

Ini mimpi jadi jelas semua wajah yang ada dimimpiku tidak ada yang aku ingat. tapi sikap ‘dia’ dan anak laki-laki itu membuatku sangat nyaman bangun di pagi hari itu. Mimpi yang membuatku ingin selalu memimpikan mereka kembali dan melihat akhir ceritanya. Mimpu di rabu (1/2)

Kemana Para Atlet Indonesia

24 Jan

Kerja keras yang tidak terlihat

Usaha yang tidak dihargai

Mimpi yang tidak pernah tercapai

Senin (23/1) saya bersama salah seorang rekan kerja ngobrol bareng. Awalnya hanya membahas mengenai tawaran beliau untuk saya mulai rajin olahraga. Selain untuk kesehatan juga manambah kemampuan dan minat saya sejak SMP terhadap badminton. Benar, saya sangat menyukai badminton. Sepertinya dari semua olahraga, badmintonlah yang pertama mencuri perhatian saya mungkin karena saya tinggal di kota kecil jadi permainan yang paling mudah dimainkan dan sedikit keren hanya badminton.

Apa yang kami obrolin sehingga tiga kalimat saya quote pada tulisan saya ini.

Awalnya saya hanya menanyakan terkait atlet badminton saat ini. saya mengungkapkan bahwa kenapa piala sudirman menjadi sangat sulit kita raih ya? mengapa para pemain badminton di Indonesia (sorry) hanya itu-itu saja ya? emang masa para pemain badminton itu sampai usia berapa seharusnya?

rekan kerja yang biasa saya panggil ayah tersebuh hanya merespon dengan senyuman. hingga akhirnya saya memancing beliau untuk lebih banyak mengungkapkan pengalaman beliau terkait ‘keluh kesah’ saya terhadap para atlet badminton.

Dan dari percakapan tsb saya dapat menyimpulkan bahwa sistem kepemimpinan untuk olahraga badminton di Indonesia saat ini sangat buruk! mengapa?

saya sudah lama menyadari mengapa pada atlet badminton yang biasanya berangkat mewakili nama Indonesia hanya berasal dari club itu itu saja. Menurut saya sendiri berdasarkan pandangan saya terhadap cara main para atlet senior seperti taufik didayat sudah tidak bisa dipertanyakan lagi. dulu saya hanya menganggap jika taufik kalah itu hanya 2 penyebabnya dia gugup jadi hilang kontrol atau dia sedang tidak enak badan. kalau saya perhatikan, bola bola taufik jauh lebih baik daripada lawan bertahannya li chong wei.

selain taufik saya juga memperhatikan para pemain lainnya (sorry) yang dapat saya bilang ‘payah’ seperti mereka tidak pernah serius bermain, masih labil, kadang saya berfikir senior saya jauh lebih baik mainnya dari pada mereka.

masih ingat dengan kasus atlet badminton Indonesia yang didiskualifikasi karena tidak sportif yang mengakibatkan dia tidak dapat main untuk beberapa pertandingan (?) saya pikir mereka benar-benar akan di-take-out dari daftar atlet badminton dan memberikan kesempatan kepada atlet lainnya yang mungkin jauh lebih sportif daripada mereka. saya kurang paham masalah ini apakah disebabkan pelatih atau atletnya (?) tapi yang saya percaya adalah “saya sendiri yang dapat memutuskan apa yang akan saya pilih sebagai langkah saya di kemudian hari bukan orang lain”, jadi berdasarkan prinsip saya itu saya akan memberikan nilai 0 (nol besar) kepada atlet yang tidak sportif padahal membawa nama besar Indonesia di pundak mereka. bukankah itu artinya mereka tidak siap disebut dengan atlet?

saya juga bertanya tentang apakah benar se-indonesia ini tidak ada atlet yang bisa kita perjuangkan ataupun tampil membawa nama Indonesia?

Ayah mengatakan ‘banyak’ namun sepertinya sulit untuk dipilih. Alasan yang dikemukakan sangat membuat hati ini miris. Apakah masih ada main belakang dan senioritas padalah mereka yang melakukan seleksi adalah juga pada atlet dan pelatih untuk nama baik Indonesia. Demi piala yang sudah tidak pernah balik kerumahnya lagi.

miris sekali bila hingga saat ini pada pemimpin ataupun sistem kepemimpinan olahraga di Indonesia belum berani pasang badan dan menggunakan kacamata kuda untuk mendapatkan kembali piala dan nama baik Indonesia.

Sebagai tambahan untuk mereka yang bergerak di bidang olahraga: mengapa saat di Olimpiade Rio 2016, Indonesia hanya memfokuskan pada badminton? atlet lainnya bagaimana? mengapa Indonesia hanya mengirimkan segelintir atlet tidak seperti negara lainnya yang mengirimkan banyak atlet untuk berbagai bidang lomba? tidakah memikirkan peluangnya?

saya kaget saat tiba-tiba banyak iklan yang menyebutkan akan memberikan hadiah bermiliar-miliar untuk yang berasil memperoleh medali di Olimpiade Rio 2016. lalu yang tidak membawa medali apapun bagaiman? apakah tidak mendapatkan royalti? Mengapa uang sebesar itu tidak digunakan untuk menambah kontingen Indonesia saja. Hadiah boleh diberikan, saya rasa ratusan juta sudah cukup karena mereka atlet yang membawa nama baik Indonesia. saya yakin mereka akan mendapatkan banyak royalti dan keuntungan lainnya jika media kita bisa dengan benar memasarkan mereka.

Saya menganggap kepemimpinan seperti ini adalah kepemimpinan yang masih plinplan. tidak berani ambil resiko dan peluang. Saya juga tidak tau seberapa kaya atau miskinnya Indonesia ini.

Atlet lainnya yang saya harap tidak disia-siakan adalah Rio Haryanto (Pembalap F1 Indonesia). Jangan sampai dia mengibarkan bendera selain Indonesia hanya karena tidak pernah mendapatkan peluangnya dari negaranya sendiri. Penyesalan itu bisa terlihat saat sudah terjadi.

salam hangat! (ip)

Jejak Kreativitas Siaran Indonesia

16 May

Saya bukan mau menceritakan jejak sejarah siaran di Indonesia. Saya mau berkomentar tentang siaran di Indonesia saat ini. Jikalau kurang berkenan silahkan tidak perlu melanjutkan membaca halaman ini karena mungkin saja apa yang kalian cari tidak akan kalian temukan.

Kalian tentu tau bagaimana saat ini perkembangan musik di Indonesia. Saya pribadi menilainya ‘bergerak lambat’, ‘tidak banyak yang menarik’, ‘hanya beberapa yang easy listening’ dan ‘tidak eksis’. Mengapa itu bisa terjadi? ini kira-kira penilaian saya (sebenarnya saya sangat berharap banyak pihak yang  bergerak dibidang pertelevisian/industri musik/iklan/hiburan dapat melakukan ini apalagi kalau bisa terlihat hasilnya).

Tidak Ada Dukungan dan Pengawasan dari Industri Televisi/Penyiaran di Indonesia

Dukungan seperti apa yang diinginkan? masih ingat dengan MTV Ampuh? nah itu salah satu channel yang tidak pernah saya lupakan sepanjang masa. Hanya bermodalkan musik, channel ini bisa menjadi media yang baik dalam mempromosikan musik. Dari channel ini pula saya bisa banyak belajar bahasa Inggris (karena Host/VJ-nya terkadang mencampur bahasa).

Memang sudah ada acara tertentu di salah satu Channel Nasional yang pasti hingga keplosok daerah di Indonesia bisa mendapatkan channel ini: saya sebut TVRI, RCTI/MNC group, Transmedia group, SCTV, Indosiar, TVOne, dan MetroTV.

Maaf, TVRI mungkin bukan pilihan terbaik, mengapa? karena TVRI adalah media pemerintah (non-komersil) dan bisa dikatakan channel ini sangat terbatas dengan dana sehingga cukup kecil harapannya untuk dapat menyajikan siaran yang spektakuler. Tapi secara pribadi saya mengucapkan terimakasih dengan TVRI karena TVRI adalah channel pertama yang berhasil mempertemukan Idola saya (SHINee) pada tahun 2009. Ini mengapa saya bilang TVRI adalah stasiun TV yang tidak komersil, karena pada saat ini TVRI hanya ber-partner dengan Kedutaan Korea Selatan mengundang SHINee tanpa memungut biaya untuk dapat menonton penampilannya. Kapan coba bisa nonton SHINee gratis hehehe…

Jika demikian kita coba ke channel yang besar dan tertua dahulu RCTI, SCTV, dan Indosiar. tayangan musik seperti apa yang stasiun ini sajikan? Dahsyat/Inbox/DA? Dari sisi konten, secara pribadi saya bisa bilang ‘aneh’. kenapa aneh? acara musik tapi ada lawaknya. acara musik tapi yang berkenaan dengan musik hanya maksimal 5 artis saja. acara musik tapi menyajikan gosip. acara musik malah curhat…yah ada banyak lagi.

Okay seandainya mau bilang bahwa kalian menyesuaikan dengan audiance. Tapi kalau kalian cerdas dan tidak hanya berfikir komersil, audiance itu ‘kalian’ yang membentuknya. saya jarang nonton Channel Indonesia karena saya bosan dengan kontennya. Konten yang disajikan selain membosankan, tidak jelas pangkal dan ujungnya. Ada acara musik 1 orang dikomentari sampai 1 jam? Ada acara musik dari jam 6 sore sampai jam 1 malam? Ada acara musik malah tangis-tangisan? Coba deh lakukan penelitian/riset kecil-kecilan dari berbagai negara. Bagaimana sebaiknya Penyiaran Nasional seharusnya.

Ini sepenuhnya menjadi Kebijakan Pemerintah. Kalau seandainya Pemerintah Indonesia yang tidak peduli/bergerak lambat saya rasa bisa dimulai dari akarnya yaitu Stasiun TV yang bersangkutan. Buat saja internal SOP dari masing-masing acara/judul. Saya yakin kalau bisa dimulai dari sekarang, 5 tahun atau bisa lebih cepat saya akan kembali mencintai Channel di Indonesia.

Secara singkat saya sangat ingin peryiaran di Indonesia menambahkan/memberlakukan hal-hal berikut ini:

  • Semua konten tidak boleh mengandung unsur SARA (ini perlu pengawasan dari setiap script writer acara)
  • Setiap judul hanya tayang masimal 2 hari per 1,5 jam + 0,5 jam iklan. Hitungannya 1 episode acara berkisar 1,5 jam. Akan lebih baik bila iklan hanya ditampilkan pada ending judul (sponsor)..karena jedah iklan biasaya saya pakai untuk ganti channel yang ujung-ujungnya saya lupa kembali ke channel awal
  • Setiap judul punya slot yang disesuaikan dengan:
    • Variety show, Talk show, Music show >> tidak tercatat dengan catatan tidak mengubah konsep konten
    • Mini seri: 1-2 episode
    • Drama pendek: 4-12 episode
    • Drama sedang: 18-26 episode
    • Drama panjang: 60 episode
    • Drama keluarga: 200 episode
  • Jika ingin memperpanjang judul karena sudah selesai cerita harus update judul misal ditambahkan ‘part 2’/’sesi 2’ dll
  • Harus tegas, pada saat cerita sudah tidak sesuai atau melenceng dari konsep, Penyiaran/Pemerintah harus mencabut hal ijin siarannya (tanpa mengubah nama). Saya ingat dengan judul YKS (Yuk Kita Sahur jadi Yuk Keep Smile)
  • Masih banyak lagi jika serius melakukan riset kecil-kecilan….

Apa keuntungan adanya perubahan? Industri penyiaran jadi lebih beraneka ragam dan menarik. TV akan punya banyak database judul yang setiap saat bisa diulang untuk kembali menyegarkan pikiran audiance.

Saya kangen dengan Tralala-Trilili/Inbox/Dahsyat yang dulu…awal-awal yang menyajikan banyak artis update. yang punya playlist…kalau mau dibuat kreatif lagi, playlist tersebut bisa saja memberikan piagam mingguan yang melakukan rating popular musik mingguan. Pasti akan mencuri perhatian para Manajemen Musik di Indonesia untuk menghasilahkan musik terkini.

Run to you…sorry!

13 Apr

Entah apa yang membuatku ingin menuliskan keluh kesah ini.

Kekhawatiran yang tidak pernah berujung….

Kepuasan manusia memang tidak pernah terbatas…itu adalah fakta yang tak terelakan.

Dalam doa aku selalu berharap bisa dekat dengan kedua orangtuaku. Mengabdikan diri sebagai anak. Tapi pilihan tetaplah pilihan…bukannya tidak mau memilih yang terbaik. Tapi ada rasa ‘khawatir’ yang selalu menghantui setiap ingin menentukan langkah. Apakah ini tanda-tanda orang yang ‘mati’ langkah?.

Taukah kalau sebenarnya tulisan ini tidak ku buat untuk menceritakan hal ini. Diawal paragraf yang telah ku buat ‘kekhawatiran’ itu datang kembali. Dihadapkan pilihan dan keputusan yang membuat rasa kosong di dada ini terasa penuh dengan air. Sesak di dada hingga hanya emosi yang ingin aku keluarkan.

Apakah ada yang memilih untuk sendiri selamanya? Akukah orangnya?

Dimanapun tempat berteriak yang bisa membawaku pulang dalam sekejap mata maka akan kugapai sejauh apapun tempat itu. ‘Aku ingin pulang’. Inikah tiga kata yang selama ini tersembunyi di dalam lubuk hatiku. Kubuang jauh-jauh selama aku hidup ‘jauh’ dari mereka.

Mungkin bukan hanya aku yang jauh dari orangtua. Mungkin ada yang lebih lama, jauh dari orangtuanya. Mungkin ada yang bahkan benar-benar sudah tidak bisa kembali merasakan kehangatan orangtua. Lalu apalah aku ini?

Aku hanya mencoba berfikir positif bahwa ‘kalimat’ yang mereka lontarkan hanya agar aku bisa kembali berkumpul bersama mereka. Hanya harapan mereka kepadaku. ‘kalimat’ yang hanya ingin mengatakan “Anakku kapan kau pulang”.

Jika ditanya ‘bagaimana kabarmu?’ maka dengan sangat cepat akan kujawab ‘Alhmdulillah, baik’. Itu tidak bohong, secara fisik aku benar-benar dalam keadaan baik. Bahkan sangat baik. ‘hati’ku bagaimana? Itu butuh waktu agar aku sendiri bisa memahaminya.

Selama ini yang aku lakukan adalah membuat diriku sendiri bahagia, nyaman dengan lingkungan sekitarku dan memudahkan semua urusan hidupku. Benar-benar orang yang mudah kan?. Tanpa target, tanpa rencana, tanpa ambisi, tanpa paksaan….hanya ingin hidup dengan rasa cinta. Pagi hari aku sudah memutuskan akan bahagia maka jika dipertengahan jalan ada ‘titik’ yang membuatku sulit, ‘titik’ itu akan aku tinggalkan jauh, berusaha keras agar hanya aku yang mengetahui keberadaannya.

Siapa yang akan aku salahkan? Adakah orang yang ingin aku salah?

Hidup ini aku yang menjalaninya. Jadi rasa sakit yang ada di ‘dalam’ sana hanya aku yang bisa menyembuhkannya. Psikolog itu hanya seorang teman bagiku. Jadi siapapun bisa menjadi psikolog untukku.

Kembali lagi, jadi apa yang akan aku lakukan? Waktu yang sudah aku buang, mau aku apakan? Rasa sesal yang menghantuiku mau aku kenamankan? Apakah benar saat ini aku sudah benar-benar membutuhkan ‘sosok’ lainnya?

Memikirkannya saja membuatku menyerngitkan dahiku. Bagaimana bila saat itu memang sudah didekatkan oleh Tuhan? Apa yang bisa aku lalukan? Lari? Mau lari kemana?

Maafkan aku yang masih belum bisa membahagiakan kalian. Maafkan aku yang hanya bisa memberikan rasa rindu pada dada kalian. Maafkan aku yang masih bodoh, yang tetap egois dengan rasa nyamanku sendiri. Maafkan aku Ibu….Bapak….Maafkan karena sudah menyakiti kalian.

“Aku juga rindu dengan kalian”. Ingin rasanya aku berlari kepelukkan kalian. Tapi egoku ini masih terlalu kuat. Andai ‘kekalahan’ itu tidak pernah datang. Mungkin saat ini aku akan selalu berlari ke arah kalian. Mungkin aku adalah salah satu anakmu yang belum pernah siap atau bakan tidak siap dengan ‘kekalahan’.

‘Maafkan aku’ untuk kalian yang pernah merasakan keegoisanku. “Maaf”.

~Di bawah cahaya lampu kamar, derasnya kerinduan, padatnya pekerjaan, dan dua hari  setelah hari ulang tahunku. (ip)

Never Happy, ever after!

8 Jun

Minggu (7-6-2015), menjadi salah satu hari yang paling menyedihkan dalam hidup dan perjalananku.

Tuhan, mohon gantikan rasa sakit ini dengan kesehatan keluargaku

buat kami bisa lebih lama bertahan dan bahagia

Tidak pernah ada yang tau kalau niat baik, silahturahmi, itu akan menjadi awal kesedihanku. Pagi-pagi aku sudah beranjak dari tempat tidurku. Hari yang biasanya aku gunakan untuk lebih banyak beristirahat. Dengan meninggalkan setumpuk rendaman pakaian kotor, akupun bersiap-siap ke luar kosan menuju rumah saudaraku. Satu-satunya saudara kandung yang aku punya di kota rantau ini.

Awalnya berjalan dengan lancar, hingga salah satu orangtua sahabatku yang juga merantau di kota yang sama menghubungiku. Ayahnya menghubungiku untuk meminta menghubungi anaknya (sahabatku) yang tidak kunjung mengangkat telponnya. Selepas kontak dari ayahnya, akupun menghubungi sahabatku. Benar, telponnya tidak kunjung diangkat.Hampir saja aku berbelok arah untuk menuju kosannya setibaku di St. Manggarai. namun tiba-tiba aku mendapatkan WhatsApp darinya yang mengatakan bahwa dia sudah menghubungi ibunya dan menintaku untuk tidak perlu menghubunginya.

Mungkin itu salah satu pertanda dari Sang Khaliq agar aku tidak perlu ke ruamah saudaraku

Nasib berkehendak lain. Silahturahmi tetaplah jalan yang harus aku pilih

Aku melanjutkan perjalanan ke rumah saudaraku hingga sampailah di rumahnya.

Semuanya berjalan dengan lancar hingga rencana kepulanganku. Tiba-tiba pamanku mengajak anak-anaknya untuk pergi ke suatu tempat. Anaknya yang paling kecil, mengajakku untuk ikut bersama mereka. Aku menghargai tawaran anaknya, bahkan senang. Karena aku kenal dengan anak-anaknya sejak 6 tahun lamanya. Mereka terutama yang paling kecil bukanlah tipe anak yang suka berlama-lama dengan seseorang kecuali uminya. Atau mungkin karena hari ini, Bibi/Uminya sedang tidak ada di rumah karena ikut diklat, lantas dia lebih merasa dekat denganku. Jujur aku senang.

Akhirnya aku tidak menolak ajakannya namun tidak juga menerima sepenuhnya karena aku sudah punya janji dengan temanku untuk mengajaknya makan siang di Rest. Daebak. Akupun mengatakan dengan perlahan kalau aku harus segera pulang, meskipun tetap memaksa pada akhirnya dia mengerti.

Kebahagiaan itu tidak bertahan lama, yang pada detik berikutnya merupakan detik-detik terberat dalam setiap tarikkan nafasku. Memang bukan pertama kalinya kata-kata itu keluar dari mulut pamanku. Dulu, entah beberapa tahun yang lalu, pamanku pernah menyinggung topik ini. Mungkin aku yang terlalu bodoh atau tidak pernah belajar dari pengalaman. Aku tetap diam tidak menanggapi perkataannya.

“Indah, lebaran dimana?”, tanya paman sembari menyetir

“Tempat Dedi (adikku)”, jawabku jujur. Dedi adikku kedua. Dia sudah bekerja dan tinggal jauh dari rumah, Palembang.

“ITULAH….KAPAN LAGI MAU LEBARAN BARENG! TEMPAT ORANGTUA!”

“KENAPA? MASIH ADA ORANGTUA DI SANA?”

“….”, aku tidak bisa menjawab apapun kecuali ‘tidak’ untuk menjawab pertanyaan keduanya.

“emang ngga bisa apa cuti? kan bisa kumpul. kapan lagi mau nyenengin orangtua?”

“Om, Dedi ngga bisa cuti pas lebaran. Dia kerja, Jadi kita yang deketin dia”

Pendek cerita atau mungkin karena aku sudah tidak cukup baik mendengar perkataan akibat emosiku yang sudah tinggi, akupun diam dan mendengarkan apa maksud perkataannya. Oke, yang dapat aku simpulkan adalah:

1. Mengapa tidak lebaran di Lampung (tempat nenek/Ibu kandung bapakku)?

Sejujurnya aku sudah membicarakannnya dengan Bapakku soal rencana lebaran. tapi bapakku memutuskan untuk lebaran bersama Dedi dan dengan kereta, untuk beberapa hari saja, kami akan berangkat ke Lampung (sama seperti tahun lalu).

2. Kapan lagi mau nyenengin orang tua/orangtua, mumpung dia masih hidup?

Kita tidak pernah tau dengan umur. Mungkin kalau dilihat dari usia, nenekku memang yang paling tua. Tapi umur siapa yang tau?! Menanyakan kebahagiaan?! tidakkah om berpikir kalau aku juga ingin membahagiakan orangtuaku. Apakah omku tau sejak dulu, setiap kali kami (keluargaku) lebaran di Lampung, selalu berakhir dengan tidak bahagia? bahkan aku masih sangat ingat di tahun 2011, aku bertengkar dengan tante (adik ipar bapak/istri adik pertama bapak), aku bertengkar karena aku beranggapan setiap kali kami ke lampung tidak pernah ada sambutan baik dari keluarga adik-adik bapakku dan ibuku selalu menjadi ‘kacung/pembantu’ di rumah nenekku sendiri atau tepatnya rumah mereka.

Alasan yang aku dengar:

“karena masakan Ayuk (panggilan ibuku) yang paling enak”

“Karana pingin sesekali makan masakan Ayuk”

Apakah itu mereka anggap sebagai pujian? Ibuku saat itu sedang sakit ‘ginjal’, Dokter memvonis ginjal ibuku hanya satu yang berfungsi dengan baik, sedangkan yang satunya terdapat batu (sudah dibersihakan batunya). Tidakkah menantu nenekku yang lain mengerti kondisi ibuku?!

Apa yang harus aku lakukan untuk kebahagiaan ibuku? jika diminta untuk menggantikan ginjalnya dengan ginjalku, Silahkan. Asalkan ibuku bisa bahagia.

Itu baru bagian ibuku, bagaimana dengan bapakku?

3. Menyamakan atau mengibaratkan aku dengan omku yang lain yang sudah tidak dia anggap sebagai saudara karena sombong?

Jika aku sudah atau memilih untuk sama seperti omku itu, mungkin aku akan benar-benar melarang bapakku berhubungan dengan keluarganya. Tapi kan tidak. Aku masih menghargai bapakku dan menyayanginya karena tidak mungkin seorang anak memaksa untuk membenci orangtuanya termasuk perasaan bapakku terhadap ibunya.

Jadi, tolong jangan mengibaratkan sesuatu apapun, karena aku bukan orang yang paham dengan segala sesuatu yang tersirat. Orang yang kau anggap sombong itupun belum tentu sombong dimata keluarga yang lain.

Sebutkan saja salahku dimana dan berikan solusinya. Jika itu baik untuk bersama, aku akan melakukannya walaupun kebahagiaanku sebagai taruhannya.

Mau sampai kapan? mau berapa lama lagi kita seperti ini?

kapan drama ini akan berakhir?

Dalam penderitaannya, Cinderella menemukan pangerannya. Aku bukan Cinderella, tapi aku berharap ada suatu yang bagaikan pangeran membawa pergi jauh rasa sedihku dengan memberikan kebahagiaannya kepada orangtuaku.

Aku masih sangat bodoh, jadi masih banyak yang harus aku pelajari. Tidak tau panjang pendeknya usia, aku berharap aku bisa terus belajar tentang hidup dan bisa memperbaiki dan memberikan penerus/garis keturunan bapakku, ibuku, dan agamaku, anak-anak yang baik agama dan ilmunya.

Ya Allah, selalu tundukkan aku untuk agamamu

Jangan buat aku menjadi golongan yang sombong dan dibenci oleh orang lain dengan sikapku

Aku bukan ornag yang sempurna, tapi aku tidak ingin menjadi orang yang paling bersedih di akhir khayatku hingga kau bangkitkan aku kembali

Aku pernah bersalah, maaf dan ampuni aku

NB: Kabahagiaan itu bukan untuk dicari tapi untuk kau buat. Belajar dari hidupku hari itu_(ip)_

He’s my hero (Cerita pendek di bis kota)

4 Jul

Hallo pembaca

Aku mau berbagi cerita pengalaman. ini kisah nyataku. yang meninggalkan kesan terindah di dalam hidupku. mungkin inilah yang pantas dibilang dengan PAHLAWAN.

Ternyata masih ada seseorang yang baik hatinya dari banyaknya penduduk kota yang terkenal dengan rasa ketidak-peduliannya.

Hanya sesaat tapi berkesan dan menyelamatkan hidupku. Dan pahlawan itu akan datang disaat kita benar-benar membutuhkannya.

Begini kisahnya:

Saat itu aku masih berstatus mahasiswi di salah satu PTN di Kota Depok. Pada masa liburan semester panjang biasanya program studi yang aku ambil menyelenggarakan kegiatan Kerja Praktik dan aku mengambil kesempatan itu bersama dengan dua teman dekatku. Pada semester panjang (3 bulan) aku dan dua rekanku berkesempatan bekerja di salah satu organisasi negara di daerah Kebayoran Baru Jakarta. Dan karena aku tinggal di kota Depok maka salah satu cara untuk dapat menempuhnya adalah dengan naik Bis Kota Depok-Blok M.

Hari itu aku bersama teman berangkat bersama seperti biasanya. kami berkumpul di depan gang untuk menunggu bis tersebut. Ya, seperti biasa hari-hari yang kami lewati, kami jarang sekali mendapatkan tempat duduk. hal hasil kami harus menahan dalam posisi berdiri untuk 1,5-2 jam lamanya. Biasanya aku selalu sehat, namun entah mengapa pagi itu matahari yang masuk melalui sela-sela jendela bis, benar-benar menampar pipi dan kepalaku. ditambah dengan desakkan para penumpang yang tidak saling mengerti, aku semakin terpojok ke salah satu sisi bis. Betapa tidak beruntungnya aku hari itu, dua temanku justru terdorong ke sudut belakang bis kota. ya setiknya mereka aman, pikirku saat itu.

Mungkin karena waktu dan sinar matahari pagi yang kurang tepat memaksaku sedikir ber-istighfar sepanjang perjalananku. Allahu Akbar, aku benar-benar merasa tidak kuat dengan kondisiku saat itu. Keringat dingin sudah bercucuran di tubuhku, Penglihatanku mulai berubah warna kuning. Lambat laun, aku merasa kakiku sudah tidak mampu menompang tubuhku. aku pikir aku mengantuk saat itu. Tidak, aku akan pingsan bila kondisi ini terus terjadi.

Tiba-tiba, seseorang yang duduk di depanku menarikku dan memintaku untuk duduk di kursinya. Dia laki-laki mengenakan kemeja dan celana formal hitam serta menggendong tas hitam didepannya. Saat itu aku pasrah dengan semua dorongan yang terjadi pada diriku. Allah yang akan menjagaku, aku yakin itu. Benar, laki-laki itu memberikan kelonggaran udara di sekitarku lalu membuka jendela di sisi kananku untuk mengganti udara yang aku hirup. Itu sangat membantuku. Aku sempat kehilangan kesadaran selama perjalanan di tol menuju Blok-M. saat tersadar, bis sudah keluar tol dan aku mulai mengangkat kepalaku dengan sedikit memijat, namun tidak berani menatap wajah pahlawanku.

Aku berniat melihat wajahnya namun aku tidak berani. aku malu dan ragu saat itu. Aku hanya berfikir mungkin sebentar lagi aku akan lebih membaik dan lebih enak untuk mengucapkan terima kasih padanya. Namun apa yang aku pikirkan tidak sejalan dengan apa yang ditakdirkan oleh Allah. Saat di simpang lampu merah setelah tol, laki-laki itu menjauh dariku menuju sisi pintu. Oh tidak! dia akan keluar. Saat keberanian itu datang, pahlawanku sudah keluar bis dan aku tidak bisa melihat wajahnya.

Demi Allah, aku tidak ingat wajahnya. Aku hanya ingin mengucapkan terima kasih atas segala bantuannya, hari itu.

Bila diantara pembaca ini adalah dia yang pernah menjadi pahlawanku. aku ingin mengucapkan dengan sungguh-sungguh untuk rasa Terima kasih ku kepada kau yang saat itu membantuku. Semoga kita bisa bertemu lagi dengan situasi yang lebih baik.

Prolog

3 Feb

Just because the name of love we can do anything for our LOVE.

Bisa saja cinta datang di saat semua orang sedang tertidur lelap atau justru di saat semua orang sibuk dengan aktivitasnya. Banyak yang bilang cinta datang dari hati padahal itu belum tentu benar. Karena cinta itu datang dari salah satu dari lima panca indera manusia. Bisa dari mata (penglihatan), telinga (pendengaran), hidung (penciuman), lidah(perasa), dan kulit (sentuhan/getaran). Logikanya adalah ada keahlian yang mampu menyentuh indera manusia yang akan mendapatkan tanggapan dari indera itu sendiri lalu lari ke pikiran manusia. Dilanjutkan dengan adanya bayang-bayang seseorang di bawah alam sadar manusia sehingga tergerak atau terlintas pengakuan bahwa ‘apakah ini yang dinamakan dengan cinta’.

Inilah yang menjadi awal pemikiran mengapa ada banyak jenis musik di dunia ini. Karena dari perbedaan tersebut dapat menciptakan jenis cinta yang berbeda-beda dengan cara mengungkapkan yang berbeda-beda pula. Dan setiap jenis musik pasti ada pencintanya masing-masing yang sama-sama bersumber dari panca indera manusia yaitu telinga.

Bagaimana bila cinta yang berawal dari musik harus ditolak karena adanya cinta lain yang bersumber dari indera lain. Ini adalah perperangan cinta dalam merebut perhatian sang panca indera manusia. Dan apa yang akan terjadi ketika cinta harus memilih jenis musik mana yang mampu menenangkan dan membutuhkan dia.

I Love You

17 Jan

Rabu (15/1) telah menjadi episode terakhir penayangan acara favorite saya -HITAM PUTIH-. And I don’t know, when it will come back?!

Saya merasa menyesal saat mengetahui berita ini. Bukan karena acara fav saya berakhir melainkan karena kesalahan saya sebab tidak sempat menonton ‘live’ acara tsb untuk episode terakhir.

Keesokannya tepatnya 16/1, entah mengapa perasaan saya memaksa saya untuk menonton ulang HT via YT, alhasil saya mendapatkan berita tersebut dan langsung menonton kebut acara HT. Sangat disayangkan memang, mengapa acara yang saya nilai mendidik dan memberikan kesan tersebut harus berakhir di awal tahun 2014. Acara yang sudah menemani saya selama 2 tahun lebih ini, membuat saya semakin merindukannya. Semoga harapan Kak Dedy C. bisa di kabulkan (“mungkin kita (HT) bisa kembali lagi menghadirkan acara yang lebih mengispirasi”) -saya tunggu come back nya HT.

Sekali lagi saya katakan ‘sangat disayangkan’! Acara yang benar-benar menginspirasi ini harus berakhir. Mengapa tidak berumur panjang sama seperti Bukan Empat Mata?!

Benar, Kak Dedy pernah mengatakan kalau ‘sesuatu yang pernah dimulai pasti akan ada akhirnya’, tapi mengapa HT berakhir dengan kesan yang  kurang baik di mata saya. Mengapa? ‘jujur’ beberapa bulan belakangan saya sempat dikagetkan dengan adanya sesi tambahan dalam HT yang dibantu oleh Bapak Farhat Abas. Ditambah lagi ada isu kalau Kak Dedy mau digantikan dengan FA. Ini maksudnya apa? Apakah ini salah satu cara Tim Kak Dedy untuk membuat kita tidak kaget dengan perkataan ‘HT Berakhir’ yang akhirnya telah Kak Dedy ucapkan?!

Kekecewaan ini membuat mata saya basah. Kekecewaan pertama saya muncul sejak jam tayang HT pindah ke jam 9 malam. Tapi saat itu saya bisa terima karena ini masalah perusahaan. Lalu diikuti dengan adanya sesi perang di HT antara DC dan FA?!  Astaga, kemana acara yang sangat saya cintai itu?!. Tidakkah Kak Dedy menyadari kalau sesi tersebut dapat mengubah pandangan dan minat penonton?!. Acara yang saya anggap meninspirasi itu berubah menjadi wadah HINA-CELA-SUMPAH-GOSIP.

Selama sebulan HT berubah menjadi acara yang benar-benar saya anggap tidak cerdas seperti biasanya. Rasanya saya ingin  orang tua, saudara dan orang-orang yang pernah saya rekomendasikan HT untuk melupakan HT, saat itu. Hingga akhirnya masa acara HT benar-benar harus berakhir, saya masih belum mendapatkan HT kembali seperti suasana yang saya banggakan. Ini membuat saya kecewa dan ingin menangis.

Tapi yang namanya pernah cinta, apapun kejelekan yang pernah ada pasti bisa aku tolak dan tetap mencari sisi positif dari hal yang kucintai itu. Saya lupa Quote ini saya dapatkan dari mana, mungkin dari salah-satu episode HT.

Tidaklah penting bagaimana kamu memulainya. Akan tetapi menjadi sangat penting bagaimana kamu mengakhirinya…

Hitam Putih akan selalu menjadi acara terbaik yang pernah saya tonton. Terima kasih banyak atas kerja keras Kak Dedy dan Tim Hitam Putih.

This is the last quote in the last episode Hitam Putih.

last

CNBLUE MOON Concert in Jakarta (Oct 19¬th, 2013)

22 Oct

Sabtu (19/10) menjadi hari yang membahagiakan bagi Boice (Fans base) CNBLUE. CNBLUE merupakan band kabangsaan Korea Selatan. CNBLUE beranggotakan empat orang yaitu Yong Hwa (main vocal, guitarist dan leader), Jong Hyun (sub vocal dan guitarist), Min Hyuk (sub vocal dan drummer) dan Jung Sin (rapper dan bassist). Selain di Korea Selatan, CNBLUE juga telah melebarkan sayap prestasi dan karirnya di negara Sakura (Jepang). Album yang berhasil mereka garap tidak hanya mencerminkan bahasa negara asalnya, Bahasa Inggris dan Jepang pun mereka berani coba. Alhasil dari kerja kerasnya selama ini, CNBLUE sukses menggelar konsernya di Jakarta pertengahan bulan Oktober 2013.

Konser yang bertajub CNBLUE MOON itu menggambarkan lokasi panggung bak bulan penuh. Penuh degan kemeriahan, keceriaan, teriakkan, kebahagiaan dan musik. Aku akan sedikt berbagi pengalaman tentang konser indah tersebut. Semoga para pembaca berkenan 🙂

PicsArt_1381842594800Sebelumnya, aku ucapkan terima kasih kepada koreanindo.net dan SumSung Galaxy Series yang memberikanku kesempatan untuk mendapatkan tiket konser gratis. Aku akui kalau sebenarnya masih ada yang seharusnya lebih beruntung dibandingkan aku saat itu. Aku akui kalau aku hanya seorang pencinta musik karya empat pemuda Korea Selatan tersebut. Aku akui kalau aku bukanlah maniak CNBLUE yang tau sampai hal terkecilnya atau pantas untuk disejajarkan dengan Boice. Karena aku hanya cinta karya dan pribadi mereka. Aku tidak perduli dengan kehidupan pribadi mereka masing-masing, selama mereka miliki karya, aku akan menantikannya.

Rasa terima kasih untuk Koreanindo dan Samsung, benar-benar aku ucapkan dengan tulus. Berkat merekalah aku dapat menikmati konser terindah tersebut. Berkat mereka aku benar-benar bisa melihat Jonghyun memainkan gitarnya dengan elegan. Entah direncanakan atau secara kebetulan aku mendapatkan tiket dimana posisi Jonghyun bisa aku nikmati disepanjang konser. Terima kasih.

Suasana konser sangat ramai bahkan mendekati full. Penuh dengan lampu yang berwarna-warni. Alunan musik dari awal hingga akhir begitu mengajakku untuk berlompat dan berlonjak ria. Begitu mengesankan. Benar-benar berbeda rasanya saat menonton karya boys/girls band Korea Selatan. CNBLUE benar-benar mengajak kita untuk merasakan euphoria pesta konser perdana mereka di Indonesia.

Aku berharap CNBLUE akan kembali menyelenggarakan konser di Indonesia. Dan saat itu tiba, semoga aku sudah lebih siap dan lebih baik untuk bergabung bersama CNBLUE.

Terima kasih CNBLUE. Terima kasih Indonesia. (IP)

PicsArt_1382403970661