It is Hurt Me!

Minggu (29/4), Di mana remaja wanita di sebagian penjuru muka bumi ini sedang berbahagia atas kedatangan salah satu Boyband besar dari Negara Gingseng ke Indonesia. Sedangkan aku yang tersudut dan berada dibalik selimut yang sudah tidak layak disebut selimut itu hanya bisa menatap atap kamarku yang gelap. Aku tidak sedang sakit saat itu dan aku rasa aku juga tidak dalam keadaan yang sehat. Aku hanya merasakan kehampaan yang sangat dalam akibat acara rutin disetiap kali salah satu teman satu rumahku menghampiri kamarku. Aku rasa saat itu aku ataupun temanku itu tidak bermaksud untuk curhat atau evaluasi kesalahan masing-masing.

Awalnya temanku hanya berkunjung untuk memberikan potongan kue-keju hasil buah tangan Ibunya. Dari potongan itu mulailah perbincangan ringan antara kami. Pertanyaan yang bermula dari tugas kuliah entah bagaimana berakhir dengan tekanan batin yang sangat dalam. Ini bukanlah hal negatif bagiku ataupun orang lain. Hanya saja, aku merasakan bulan atau tahun ini Tuhan begitu sayang denganku. Banyak pelajaran dan kekuatan yang Dia berikan kepadaku. Dan aku rasa ini belum berakhir, aku belum mencapai puncak atas segala pelajaran yang diberikan Tuhan agar aku lebih dewasa dalam bertindak.

Aku akui kalau aku adalah satu dari sekian ribu ciptaan Tuhan yang memiliki EGO yang sangat tinggi, PRINSIP yang keras bahkan orang bilang aku ini KERAS KEPALA, aku juga CEREWET, atau mungkin saja sebagian dari teman dekatku mengatakan kalau aku ini EMBER sehingga tidak dapat dipercaya. Memang sangat sulit mengetahui kelebihan dari kita sendiri. Tapi untuk mengetahui seberapa buruknya kita, aku rasa itu sangat mudah didapatkan.

Apakah kalian ingat beberapa hari yang lalu aku sempat menceritakan evaluasiku bersama temanku yang lain? dari sana aku memang mulai mengolah hati, pikiran dan tindakanku dalam berteman. Bukan berarti aku menjadi tertutup dan tidak mau bergaul, tapi aku sedang belajar untuk menjadi orang yang dapat dipercaya dan berguna terutama oleh orang-orang yang dekat denganku. Rasanya sakit ketika mendengar teman yang begitu dekat dengan kita menyebutkan nama orang lain yang dianggap lebih berharga dan berjasa atasnya. Padahal kita berfikir bahwa kita juga ada di saat teman kita itu benar-benar kesepian dan kesulitan. Mungkin inilah yang dikatakan “Dekat di Mata Jauh di Hati” setiap orang tidak akan pernah tau apa yang sebenarnya ada di hatinya. Kita sering berfikir bahwa kitalah yang telah membantunya dan turut memberikan kebahagiaan kepadanya, tapi ternyata itu TIDAK, maka siapkah hati kita menerima kata-kata itu? Sebaiknya kita sudah lebih siap sebelum kita lebih jauh sakit untuk mengetahui kenyataan yang lebih gila.

Lalu sebenarnya bagaimanakah tingkat kepuasan sebagai teman untuk dapat berharga dihatinya?

Ini adalah pilihan yang harus dilakukan kita sebagai seorang manusia ataupun teman, kita ingin lebih dihargai atau diingat oleh teman kita sendiri? aku lebih memilih dihargai jika memang harus memilih. (IP)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s