Archive | June, 2012

Hak Cipta vs Hak Milik : Budaya Indonesia

29 Jun

Perbincangan hangat (25/6) yang lalu, telah melibatkan dua manusia dengan style dan pemahaman yang berbeda. Perbincangan tersebut seolah-olah membawa kami kedalam suasana komentator yang sudah profesional. Tidak, kami bukanlah seorang yang telah profesional, kami hanya dua wanita yang sedang menikmati santap makan siang yang diselingi dengan perbincangan yang tentunya sedang marak dibicarakan.

Saat ini banyak pemberitaan di pertelevisian Indonesia mengangkat tema Budaya Indonesia. Sekali lagi dan entah kapan akan berakhir, Budaya Indonesia mendapat cobaan. Kembali terulang pada masalah yang sama, Budaya Indonesia dikabarkan akan diklaim sebagai Budaya Negara Tetangga. Dengan adanya pemberitaan ini, secara pribadi saya meyakini bahwa ternyata Budaya Indonesia ini sangat kaya dan beragam sehingga banyak menarik perhatian Negara lain untuk turut serta dalam membudayakannya di Negara mereka sendiri.

Lalu, Apakah ini salah Budaya tersebut?

Tidak, sangat tidak mungkin Budaya salah. Budaya adalah sebuah hasil karya seni yang menjadi kebiasaan di dalam garis kehidupan masyarakatnya. Budaya hanya bersaing dalam tingkat kualitas di mata msyarakat yang paling berkesan maka dialah pemenangnya. Akan tetapi perlu banyak dukungan dari pihak-pihak terkait baik dari masyarakat, pemerintah dan hukum dimana budaya itu berada.

Kiat-kiat apa saja yang seharusnya kita lakukan untuk Budaya Indonesia?

Seperti sebelumnya saya menyebutkan bahwa perlu ada banyak dukungan dari pihak luar dalam hal ini. Membudayakan Budaya Indonesia tentunya tidaklah mudah ditambah lagi telah banyaknya budaya lain yang berhasil mencuri perhatian masyarakat karena kesesuaiannya dengan era globalisasi ini. Untuk itulah kita sebagai masyarakat yang peduli perlu ada tindakan tegas untuk Budaya sendiri. “Mencontoh itu boleh akan tetapi bukan untuk di Jiplak/Plagiarism“. Mencontoh bagaimana Negara lain mempelajari dan membudayakan Budaya mereka.

Saya beserta teman berinisial PH berhasil memberikan sedikit komentar mengenai masalah ini. Ditemani dengan santap makan siang kami mencoba menggaris bawahi hal-hal apa saja yang sebaiknya diperbaiki ataupun diperhatikan. Sekali lagi saya katakan bahwa kami bukanlah orang yang perofesional dalam bidang ini. Akan tetapi inilah kami, yang hanya sebatas penikmat Budaya dan hanya mampu memberikan saran yang kami rasa cukup menarik jika dilakukan.

Pemerintah Indonesia, dukungan terbesar ada ditangan mereka yang memang terpilih dan memiliki kedudukan dalam Budaya dan Negara Indonesia. Dukungan telah terlihat dengan secara khusus pemerintah Indonesia membentuk Departemen Budaya yang memang diperuntukkan bagi pembudayaan Budaya Indonesia. Biaya yang dikeluarkan juga tidak tanggung-tanggung bahkan sumber daya manusia juga telah banyak digunakan untuk membudayakannya.

Memang benar bahwa pemerintah telah bergerak dalam membudayakan. Tapi mengapa tidak tampak dimasyarakat, bahkan cenderung tidak terlihat bahwa ada pergerakan dalam budaya Indonesia. Sebenarnya saya dan rekan saya meyakini bahwa Budaya Insonesia telah banyak mencuri perhatian negara Asing untuk mempelajarinya. Tapi kenapa hanya negara Asing, negara sendiri mengapa tidak ada dukungan untuk mencuri penhatian mata masyarakat Indonesia terlebih dahulu. Jadi ini perlu adanya gebrekan baru didalam pengpublikasian.

Publikasi, dukungan yang juga menjadi perantara antara masyakat dan budaya adalah bagaimana mempublikasikannya. Beberapa waktu belakangan saya telah banyak menyimak pertelevisian Indonesia yang menghadirkan dan membahas mengenai Budaya Indonesia. Itu sangat baik sekali, dengan kemasan yang lebih menarik, maka lambat tahun Budaya Indonesia akan semakin kaya dan kreatif. Tapi kalau hanya berupa berita dan talkshow, maka itu akan sia-sia. Mengapa tidak dijadikan musiman? kita buat musiman di dalam pertelevisisan Indonesia. Akan tetapi ini memerlukan kerjasama dan kesepakatan dalam pelaksanaannya.

Indonesia terkenal dengan sinetron yang tidak jarang dibuat hingga tanpa ending. Bagaimana kalau kita buat menjadi beberapa cerita yang mengangkat tentang budaya. Misalnya kita buat menjadi drama yang terdiri dari maksimal 11 episode dan hanya tanyang 2 kali dalam seminggu dan perlu maksimal 2 jam beserta iklan. Otomatis drama tersebut membutuhkan setidaknya 2,5 bulan untuk tamat. Dalam seminggu terdapat 7 hari maka setidaknya kita memiliki 3 jenis drama yang berbeda. 2,5 bulan yang diperlukan bukankah menjadi angka musiman dalam satu tahun. Selain perfilman indonesia menjadi kaya jenis Film, tingkat persaingan antar produser juga akan lebih terasa karena mereka akan mengusahakan cerita akan tamat dengan ending yang maksimal bukan menggantung dan tidak terarah.

Dukungan ini merupakan media publikasi yang saya rasa sangat baik dan mudah disampaikan ke otak masyarakat secara visual. Dimana masyarakat Indonesia masih mudah menangkap ide yang berbau romantis, comedy dan pengetahuan. Sekaligus menjadi media yang juga dapat dinikmati oleh orang asing. Bukankah ini menguntungkan?

Hukum, semua yang saya paparkan diatas perlu juga dukungan dari Negara melalui badan hukum. Ketegasan dan kejelasan digambarkan melalui hukum sehingga tidak ada penyalahgunaan taupun menyimpangan baik Budaya Indonesia ataupun pengpublikasiannya.

Barulah imbas yang akan terpengaruh dari hasil jerih payah tersebut adalah pemahaman masyarakat atas pentingnya Budaya.

We can be something from anything” dan “Terkadang kita perlu JATUH dulu untuk mengetahui arti BERDIRI dengan KUAT”. (IP)

Bahagia Untuk Orang Lain

18 Jun

Beberapa minggu belakangan ini, menjadi minggu-minggu yang sangat membahagiakan bagiku. Aku merasakan kasih sayang dari kekasih Tunggalku, ALLAH SWT. Betapa kuatnya hati yang telah Dia ciptakan, yang telah ditanamkan pada tubuh lemah ku ini. Betapa kuatnya otak yang Dia hadirkan pada kepalaku ini, yang mampu menampung dan menyelesaikan semua masalah yang terjadi di hadapanku.

Kebahagiaan sejatinya datang di waktu yang tidak disangka-sangka. Kebahagiaan itu akan menggantikan air mata kesedihan menjadi air mata haru. Memberikan kekuatan yang lebih kepada tubuh lemah ini.

PENDENGAR YANG BAIK

Menjadi pendengar bagi orang-orang terdekat kita memang sangat membahagiakan. Kita menjadi berguna bagi orang yang kita sayangi. Secara tidak langsung kekuatan akan lahir dari kelemahan yang diutarakan oleh orang terdekat kita itu, mengubah rasa takut menjadi senyuman yang paling indah. Tapi hingga kapan itu akan bertahan? Pataskah aku lelah dengan cerita itu semua?

Sewajarnya aku TIDAK pantas untuk menyerah dengan cerita dari mereka. Tampung semua cerita mereka hingga batas kemampuanmu. Menjadi orang yang dipercaya itu sangat sulit ditemukan di jagat raya ini. Jadi gunakanlah kesempatan yang telah diberikan. Tanamkan rasa simpati dan tawarkan tangan persahabatanmu pada mereka.

MENJADI PIHAK KE-3

Memastikan bahwa kita adalah pihak ke-3 dari orang-orang terdekat, merupakan hal yang cukup sulit dilakukan. Apalagi jika kita terpilih sebagai orang yang harus menjaga rahasia di kedua belah pihak tersebut. Bagaimana kita bisa memposisikan diri kita adalah pihak ke-3 yang baik bagi mereka. Apakah kita harus diam ketika salah satu pihak bertanya tentang pihak lain yang semestinya kita jaga kerahasiaannya.

Kalau kata teman saya (RR): “Jika kita berhubungan dengan orang yang pintar dalam Komunikasi, maka kita diharapkan dapat waspada terhadap apa yang harus kita ceritakan dengan beliau. Kita juga harus pintar memilah-milah cerita yang beliau berikan kepada kita. Sebab ada banyak makna yang tersirat di dalamnya, sekaligua akan ada banyak peristiwa yang akan terjadi akibat percakapan dengan beliau.”

BOSAN

Menjadi pendengar dan pihak ke-3 merupakan tantangan yang dapat membuat tingkat kebosanan datang dengan cepat. Bosan, bukan karena cerita mereka tapi justru bosan untuk memilih kata-kata atau makna yang paling baik yang tersirat dari cerita-cerita mereka. Bosan dimana kita harus menjadi kuat di hadapan mereka. Bosan karena kita harus tersenyum di hadapan mereka. Bosan, karena ternyata kita memiliki masalah sendiri yang tidak bisa kita bagikan dengan mereka.

Bukan karena tidak ada rasa percaya, tapi justru kita menghawatirkan keadaan mereka ketika kita menceritakan masalah kita pada mereka. Apakah mereka akan mengerti apa yang menjadi masalahnya, atau mereka akan sok tau dengan masalah kita, atau mereka justru akan mengacuhkan masalah yang kita ceritakan.

Menjadi diri sendiri dan percaya pada diri sendiri adalah pilihan yang paling baik untuk saat ini. Teruslah membaik dalam hidup.

Life is not to be survive, but life is to better“, (IP)