Hak Cipta vs Hak Milik : Budaya Indonesia

Perbincangan hangat (25/6) yang lalu, telah melibatkan dua manusia dengan style dan pemahaman yang berbeda. Perbincangan tersebut seolah-olah membawa kami kedalam suasana komentator yang sudah profesional. Tidak, kami bukanlah seorang yang telah profesional, kami hanya dua wanita yang sedang menikmati santap makan siang yang diselingi dengan perbincangan yang tentunya sedang marak dibicarakan.

Saat ini banyak pemberitaan di pertelevisian Indonesia mengangkat tema Budaya Indonesia. Sekali lagi dan entah kapan akan berakhir, Budaya Indonesia mendapat cobaan. Kembali terulang pada masalah yang sama, Budaya Indonesia dikabarkan akan diklaim sebagai Budaya Negara Tetangga. Dengan adanya pemberitaan ini, secara pribadi saya meyakini bahwa ternyata Budaya Indonesia ini sangat kaya dan beragam sehingga banyak menarik perhatian Negara lain untuk turut serta dalam membudayakannya di Negara mereka sendiri.

Lalu, Apakah ini salah Budaya tersebut?

Tidak, sangat tidak mungkin Budaya salah. Budaya adalah sebuah hasil karya seni yang menjadi kebiasaan di dalam garis kehidupan masyarakatnya. Budaya hanya bersaing dalam tingkat kualitas di mata msyarakat yang paling berkesan maka dialah pemenangnya. Akan tetapi perlu banyak dukungan dari pihak-pihak terkait baik dari masyarakat, pemerintah dan hukum dimana budaya itu berada.

Kiat-kiat apa saja yang seharusnya kita lakukan untuk Budaya Indonesia?

Seperti sebelumnya saya menyebutkan bahwa perlu ada banyak dukungan dari pihak luar dalam hal ini. Membudayakan Budaya Indonesia tentunya tidaklah mudah ditambah lagi telah banyaknya budaya lain yang berhasil mencuri perhatian masyarakat karena kesesuaiannya dengan era globalisasi ini. Untuk itulah kita sebagai masyarakat yang peduli perlu ada tindakan tegas untuk Budaya sendiri. “Mencontoh itu boleh akan tetapi bukan untuk di Jiplak/Plagiarism“. Mencontoh bagaimana Negara lain mempelajari dan membudayakan Budaya mereka.

Saya beserta teman berinisial PH berhasil memberikan sedikit komentar mengenai masalah ini. Ditemani dengan santap makan siang kami mencoba menggaris bawahi hal-hal apa saja yang sebaiknya diperbaiki ataupun diperhatikan. Sekali lagi saya katakan bahwa kami bukanlah orang yang perofesional dalam bidang ini. Akan tetapi inilah kami, yang hanya sebatas penikmat Budaya dan hanya mampu memberikan saran yang kami rasa cukup menarik jika dilakukan.

Pemerintah Indonesia, dukungan terbesar ada ditangan mereka yang memang terpilih dan memiliki kedudukan dalam Budaya dan Negara Indonesia. Dukungan telah terlihat dengan secara khusus pemerintah Indonesia membentuk Departemen Budaya yang memang diperuntukkan bagi pembudayaan Budaya Indonesia. Biaya yang dikeluarkan juga tidak tanggung-tanggung bahkan sumber daya manusia juga telah banyak digunakan untuk membudayakannya.

Memang benar bahwa pemerintah telah bergerak dalam membudayakan. Tapi mengapa tidak tampak dimasyarakat, bahkan cenderung tidak terlihat bahwa ada pergerakan dalam budaya Indonesia. Sebenarnya saya dan rekan saya meyakini bahwa Budaya Insonesia telah banyak mencuri perhatian negara Asing untuk mempelajarinya. Tapi kenapa hanya negara Asing, negara sendiri mengapa tidak ada dukungan untuk mencuri penhatian mata masyarakat Indonesia terlebih dahulu. Jadi ini perlu adanya gebrekan baru didalam pengpublikasian.

Publikasi, dukungan yang juga menjadi perantara antara masyakat dan budaya adalah bagaimana mempublikasikannya. Beberapa waktu belakangan saya telah banyak menyimak pertelevisian Indonesia yang menghadirkan dan membahas mengenai Budaya Indonesia. Itu sangat baik sekali, dengan kemasan yang lebih menarik, maka lambat tahun Budaya Indonesia akan semakin kaya dan kreatif. Tapi kalau hanya berupa berita dan talkshow, maka itu akan sia-sia. Mengapa tidak dijadikan musiman? kita buat musiman di dalam pertelevisisan Indonesia. Akan tetapi ini memerlukan kerjasama dan kesepakatan dalam pelaksanaannya.

Indonesia terkenal dengan sinetron yang tidak jarang dibuat hingga tanpa ending. Bagaimana kalau kita buat menjadi beberapa cerita yang mengangkat tentang budaya. Misalnya kita buat menjadi drama yang terdiri dari maksimal 11 episode dan hanya tanyang 2 kali dalam seminggu dan perlu maksimal 2 jam beserta iklan. Otomatis drama tersebut membutuhkan setidaknya 2,5 bulan untuk tamat. Dalam seminggu terdapat 7 hari maka setidaknya kita memiliki 3 jenis drama yang berbeda. 2,5 bulan yang diperlukan bukankah menjadi angka musiman dalam satu tahun. Selain perfilman indonesia menjadi kaya jenis Film, tingkat persaingan antar produser juga akan lebih terasa karena mereka akan mengusahakan cerita akan tamat dengan ending yang maksimal bukan menggantung dan tidak terarah.

Dukungan ini merupakan media publikasi yang saya rasa sangat baik dan mudah disampaikan ke otak masyarakat secara visual. Dimana masyarakat Indonesia masih mudah menangkap ide yang berbau romantis, comedy dan pengetahuan. Sekaligus menjadi media yang juga dapat dinikmati oleh orang asing. Bukankah ini menguntungkan?

Hukum, semua yang saya paparkan diatas perlu juga dukungan dari Negara melalui badan hukum. Ketegasan dan kejelasan digambarkan melalui hukum sehingga tidak ada penyalahgunaan taupun menyimpangan baik Budaya Indonesia ataupun pengpublikasiannya.

Barulah imbas yang akan terpengaruh dari hasil jerih payah tersebut adalah pemahaman masyarakat atas pentingnya Budaya.

We can be something from anything” dan “Terkadang kita perlu JATUH dulu untuk mengetahui arti BERDIRI dengan KUAT”. (IP)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s