Aturan Dibuat Untuk Dilanggar

20 Jul

Pagi ini (20/7) cuaca sangat pas di tubuh saya, tidak dingin dan tidak panas atau setidaknya tidak membuat tubuh saya basah oleh keringat seperti hari-hari biasanya ketika saya berangkat ke kantor. Cuaca ini seolah-olah mewakili alam semesta yang ikut serta bergembira menyambut datangnya Bulan yang penuh dengan Rahmat bagi umat Muslim sedunia, yaitu Bulan Ramadhan.

Akan tetapi tetap selalu ada orang-orang yang tidak ikut serta mendukung kebahagiaan yang saya rasakan pagi ini. Saya tidak membenci mereka ataupun dendam dengan mereka karena telah berhasil membuat kebahagiaan saya rusak dalam beberapa saat setelah kedatangan mereka.

Saat itu saya sedang asik berjalan menuju kantor dengan jam keberangkatan yang sama seperti biasanya dan headset di telinga serta iringan musik di dalamnya. Di perjalanan saya banyak melewati area yang sudah pasti sering saya lewati sebelumnya. Tapi kali ini ada satu area yang membuat saya mendapatkan suasana yang berbeda. Saya  tercengang karenanya.

Kendaraan mewah tampak berjalan menuju saya. Dengan mengikuti arah kendaraan itu saya mulai mengeluarkan ekspresi yang tentunya sangat jelek untuk dilihat. Saya mengerutkan dahi, kemudian sedikit memiringkan kepala saya ke arah kiri bahkan saya menghentikan langkah saya saat itu juga. Menarik nafas dan segera membuangnya kembali. Sepertinya ada yang salah dengan mobil tersebut. Apa ya?

Kembali saya melanjutkan perjalanan yang hanya tinggal beberapa meter saja dari meja saya bekerja. Dengan heran saya kembali membalik tubuh saya untuk menghadap ke mobil tadi. Memikirkan apa yang salah dengan mobil mewah tersebut. Ahh.. (akhirnya saya mendapatkan titik terang). Mobil itu berhenti ditempat yang tidak sepantasnya dengan keadaan saat itu.

Mobil berhenti di tengah-tengah area penyebrangan atau di sekitar area putar kendaraan (Turn-U). Bukankah itu salah?

Saat itu saya langsung menghentikan kembali langkah saya. Bukan untuk menghampiri mobil tersebut, saya justru mengambil kamera saya dan memotretnya.

Masih terdiam dan terpana dengan kendaraan tersebut. Kemudian saya menunggu siapa dibalik mobil mewah tersebut. Oho… ternyata seorang lelaki dengan kemeja putih bergaris dengan postur tubuh yang berisi dan sepatu yang mengkilap keluar dari dalam mobil tersebut.

Keadaan seperti ini sebenarnya sering sekali terjadi di Indonesia. Aturan yang dibuat bukan untuk dipatuhi. Selama tidak ada yang menegur tentunya masyarakat Indonesia berpikir kalau aturan itu bisa dilanggar. Tentunya ini adalah bagian dari kebiasaan masyarakat Indonesia yang kemudian menjadi budaya buruk bagi Negara.

Sepadat itukah kandaraan di Indonesia hingga tidak ada tempat yang lebih layak sebagai tempat pemberhentian? jika demikian, mengapa tidak dibatasi saja kendaraan di Indonesia atau sekalian saja dinaikan pajak kendaraan dengan setinggi-tingginya.

Di media dan di pemerintahan tentunya isu ini sudah sering dibahas. Tapi kalau hanya dibahas ya percuma saja. Saya pribadi menunggu tindakannya. Masyarakat sebenarnya menunggu kebijakan dari pemerintah.

Saya bukan bermaksud menaikkan rate pribadi saya. Saat kejadiaan tersebut saya juga tidak berbuat banyak yang setidaknya dapat dinilai baik dalam hal ini.

Saya hanya ingin mengungkapkan bahwa sangat sulit mengubah suatu kebiasaan. Karena sebuah kebiasaan itu pasti memiliki nilainya. Sedangkan nilainya sendiri dapat ditentukan oleh diri kita masing-masing atau justru oleh orang lain atau lingkungan.

Perubahan dapat dilakukan bukan karena adanya dorongan dari orang lain melainkan dari diri kita sendiri. (IP)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: