Archive | April, 2013

UAN Untuk Kecerdasan Siapa?

19 Apr

Pagi ini (19/4) seperti tidak ada pekerjaan akibat datang terlalu pagi saya menyempatkan diri untuk membuka my twitter (@indah_liner). Mencoba rollback history, saya justru menemukan tweet yang melampirkan berita berjudul “Ujian nasional lebih banyak mudarat ketimbang manfaat”. Selain itu, mungkin secara kebetulan atau memang berjodoh saya sempat menonton salah satu acara favorit di Trans7 yaitu Hitam Putih yang juga membahas mengenai tujuan Ujian Akhir Nasional (UAN) di Indonesia. Dan karena itulah saya rasa hal ini perlu saya tuliskan pada blog ini agar teman-teman juga dapat memberikan pendapatnya.

Sebenarnya permasalahan terkait pendidikan di Indonesia sudah sering diungkit bahkan hampir setiap tahun. Saya sendiri adalah salah satu yang dahulu pernah mengikuti UAN baik SMP dan SMA. Masalah seperti ini yang terjadi di dalam dunia pendidikan di Indonesia memang menjadi sangat rumit. Kali ini saya akan mengungkapkan beberapa hal mengenai UAN di Indonesia untuk siswa. This is fully my opinion about UAN in Indonesia.

Mengapa sih UAN itu penting? Apakah nilai UAN membantu saya untuk mendapatkan Universitas yang saya inginkan secara cuma-cuma?. Dan jawaban yang saya terima adalah tidak. Bahkan ketika saya melamar ke kampus yang saya inginkan nilai UAN belum keluar yang berlaku hanya rapor dari semester 1 hingga 5 di SMA saja. Jalur masuk yang ditawarkan dari kampuspun tidak ada yang menyatakan secara terang-terangan bahwa NILAI UAN sangat penting. Namun saat itu saya hanya berfikir bahwa saya tetap wajib lulus UAN karena justru tidak lulus UAN lah yang membuat saya tidak dapat melanjutkan kuliah. Jadi apa sebenarnya fungsi UAN karena saya justru mengakhawatirkan bahwa UAN lah yang menjadi penyebab fungsi peendidikan di Indonesia mati.

Mungkin UAN dianggap oleh dewan pendidikan sebagai ajang menunjukkan dan meningkatkan kwualitas pendidikan di Indonesia. Tapi saya rasa tidak ada yang berubah, justru dengan adanya UAN lebih banyak siswa yang melakukan kecurangan dalam pendidikan. Karena siapapun pasti tidak mau terhambat pendidikan dan karirnya hanya karena kesalahan dari UAN. Kalau memang Dewan Pendidikan hanya memikirkan untuk menunjukkan dan meningkatkan kwualitas, bukankah para siswa telah bersekolah di setiap hari sekolah yang dikatakan kewajiban mereka untuk sekolah. Tapi kenapa mereka tidak mendapatkan hak atas kelulusan mereka setelah hampir setiap hari sekolah.

Dalam keseharian di sekolahpun mereka melakukan pembelajaran, tes pengetahuan, ujian, praktik dan sebagainya yang saya anggap sudah menunjukkan kwualitas siswa tersebut. Bersaing satu sama lain adalah satu bentuk keberanian dan pertanggunjawaban si pelaku. Bukankah persaingan dalam pendidikan dapat dikatakan suatu cara untuk membuktikan kwualitas siswa dan sekolah.

Oke jika Dewan Pendidikan masih bersikeras bahwa UAN wajib dilakukan bagi para siswa. jadi dapat dikatakan bahwa kehidupan para siswa hanya ditentukan dari 3/4 hari pelaksanaan UAN saja. Benar?

Dengan demikian saya rasa datang ke sekolah tidak perlu diwajibkan, bagaimana?. Saya pikir membiarkan siswa bebas memilih bagaimana cara belajar mereka sendiri untuk menghadapi UAN tersebut adalah perlu dicoba. Jadi terserah mereka memilih sistem belajar seperti apa dan mereka pastinya telah memikirkan apakah mereka ingin lulus UAN atau tidak dari jauh-jauh hari. Memikirkan UAN itu wajib dan menjadi penghalang untuk bisa lanjut kuliah, saya rasa punya tekanan tersendiri bagi saya dulu. Jadi dengan memutuskan datang ke sekolah tidak wajib membuat dan memaksa saya untuk memilih saya ingin lulus UAN atau tidak. Bila iya saya harus belajar dan terserah saya belajar yang seperti apa yang saya pilih.

Tapi maaf, bisa dikatakan fungsi sekolah hanya sebuah nama saja bila demikian. Jadi siswa terdaftar sebagai siswa suatu sekolah tapi tidak wajib datang ke sekolah. Tidak ada uang bulanan sekolah, Tidak ada absen, tidak ada teman, tidak ada organisasi, tidak ada seragam sekolah, tidak ada ujian kelas, tidak ada quiz dll yang dianggap memakan waktu untuk belajar fokus sesuai targat yaitu UAN. Saran ini resikonya sangat besar karena kembali ke individu siswa dan lingkungan. Namun penghematan untuk pengeluaran sekolah menjadi teratasi. Ini juga memungkinkan lebih banyak tempat sekolah terbuka seperti bimbel/khursus-khursus dibanding sekolah umum.

Ya semua itu pilihan dan penawaran yang pernah saya pikirkan tentang sekolah.

Belajar dan berpengetahuan itu wajib untuk mereka yang hidup. Namun bagaimana cara kita untuk menjadi seseorang yang berpendidikan, kita sendirilah yang memutuskan. *Tidak ada yang tau dari arah manakah ilmu akan datang. Itu tergantung bagaimana kamu menyikapi hidupmu.* (IP)

Menjadi Lebih Baik atau Tidak Sama Sekali

18 Apr

Hari ini (18/4) kembali PT KAI beraksi untuk melakukan penggunsuran terhadap hal-hal diluar kebutuhan utama adanya kereta api dengan tujuan untuk menambah dan pemperbaiki kenyamanan penumpang kereta api di Indonesia itu sendiri. Aksi kali ini direncanakan di Stasiun Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Sesas desus yang terdengar adalah PT KAI akan menggusur pedagang-pedangan yang berada di sekitar Stasiun (beberapa meter dari lokasi).

Keputusan dan tindakan dari PT KAI ini dianggap oleh beberapa kalangan merupakan tindakan yang menentang hak asasi masyarakat Indonesia. Yaitu tentang HAM: “Setiap orang berhak atas pemenuhan kebutuhan dasarnya untuk tumbuh dan berkembang secara layak”. Dan sebagai bentuk perlawanan, terdengar kabar bahwa akan ada unjuk rasa dari pedagang setempat yang ‘mungkin’ juga akan didukung oleh mahasiswa sekitarnya.

Berikut ulasan yang saya baca:

BIENgxbCMAIe0Fs.jpg largeSecara pribadi saya setuju dengan tindakan PT KAI dalam memutuskan dan bertindak tegas terhadap hal-hal yang ditunjukkan sebagai bentuk pembersihan area kereta api. Karena saya sendiri sejak lama memimpikan area yang rapi, teratur dan akibatnya membuat saya lebih nyaman berada disekitarnya. Ini bukan mengartikan bahwa saya membenci adanya pedagang di area stasiun. Namun saya pribadi menjadi lebih nyaman bila Negara Indonesia menjadi lebih teratur.

Sebagai awalan ini mungkin berat bagi dua belah pihak. Tidak mungkin secara egois PT KAI bertindak keras kepada rakyat kecuali mereka telah memikirkan kelanjutan dari tindakan mereka. Hanya saja, mungkin kita yang tidak tau.

Sering kali, saya atau beberapa orang yang pernah berdiskusi bersama mengharapkan “Kapan Indonesia menjadi TERTIB terutama Jakarta yang merupakan Ibu Kota Negara yang notabennya banyak negara asing akan mengomentari”. Bukankah tidak nyaman bila Indonesia hanya dikenal di mata negara asing hanya bila kita menyebutkan BALI bukan Indonesia apalagi JAKARTA. Sebagai contoh atau cambukan ‘hinaan’ terhadap Indonesia adalah ‘JB berkata Indonesia, dimana itu, entahlah di suatu tempat yang antah berantah!‘. Menyakitkan bukan mendengarnya. Bukan! maksud saya bukan masalah hinaan itu namun apakah alasan JB memberikan komentar tentang Indonesia seperti itu. Pernah memikirkannya?! saya rasa hanya beberapa dari kalian saja.

Mungkinkah salah satu alasan dibalik hinaan itu adalah fasilitas Indonesia yang tidak membuatnya nyaman, sehingga tidak ada kesan yang tertinggal dari Indonesia. Maka bersama ini saya mengharapkan bantuan pembaca untuk melakukan tindakan yang melahirkan KETERTIBAN dan kenyamanan untuk Indonesia.

Saya tidak tau dalam bentuk apa para pembaca akan berkontribusi menertipkan Indonesia. Bisa jadi dengan menggunakan helm ketika bermotor, mematuhi lalu lintas tanpa protes, memberikan hak kepada pejalan kaki, menyebrang pada tempatnya alias di jembatan penyebrangan atau zebra cross, tidak menghentikan kendaraan di sembarang tempat, membuang sampah pada tempatnya dan sebagainya.

Sekali lagi saya mengatakan bahwa saya bukan mengungkit masalah penggusuran, namun apa yang saya komentari ini adalah lebih ke masalah ketertiban di Indonesia yang semakin lama semakin sulit untuk dibenahi bila tidak dimulai dari sekarang. Terima kasih. (IP)