UAN Untuk Kecerdasan Siapa?

Pagi ini (19/4) seperti tidak ada pekerjaan akibat datang terlalu pagi saya menyempatkan diri untuk membuka my twitter (@indah_liner). Mencoba rollback history, saya justru menemukan tweet yang melampirkan berita berjudul “Ujian nasional lebih banyak mudarat ketimbang manfaat”. Selain itu, mungkin secara kebetulan atau memang berjodoh saya sempat menonton salah satu acara favorit di Trans7 yaitu Hitam Putih yang juga membahas mengenai tujuan Ujian Akhir Nasional (UAN) di Indonesia. Dan karena itulah saya rasa hal ini perlu saya tuliskan pada blog ini agar teman-teman juga dapat memberikan pendapatnya.

Sebenarnya permasalahan terkait pendidikan di Indonesia sudah sering diungkit bahkan hampir setiap tahun. Saya sendiri adalah salah satu yang dahulu pernah mengikuti UAN baik SMP dan SMA. Masalah seperti ini yang terjadi di dalam dunia pendidikan di Indonesia memang menjadi sangat rumit. Kali ini saya akan mengungkapkan beberapa hal mengenai UAN di Indonesia untuk siswa. This is fully my opinion about UAN in Indonesia.

Mengapa sih UAN itu penting? Apakah nilai UAN membantu saya untuk mendapatkan Universitas yang saya inginkan secara cuma-cuma?. Dan jawaban yang saya terima adalah tidak. Bahkan ketika saya melamar ke kampus yang saya inginkan nilai UAN belum keluar yang berlaku hanya rapor dari semester 1 hingga 5 di SMA saja. Jalur masuk yang ditawarkan dari kampuspun tidak ada yang menyatakan secara terang-terangan bahwa NILAI UAN sangat penting. Namun saat itu saya hanya berfikir bahwa saya tetap wajib lulus UAN karena justru tidak lulus UAN lah yang membuat saya tidak dapat melanjutkan kuliah. Jadi apa sebenarnya fungsi UAN karena saya justru mengakhawatirkan bahwa UAN lah yang menjadi penyebab fungsi peendidikan di Indonesia mati.

Mungkin UAN dianggap oleh dewan pendidikan sebagai ajang menunjukkan dan meningkatkan kwualitas pendidikan di Indonesia. Tapi saya rasa tidak ada yang berubah, justru dengan adanya UAN lebih banyak siswa yang melakukan kecurangan dalam pendidikan. Karena siapapun pasti tidak mau terhambat pendidikan dan karirnya hanya karena kesalahan dari UAN. Kalau memang Dewan Pendidikan hanya memikirkan untuk menunjukkan dan meningkatkan kwualitas, bukankah para siswa telah bersekolah di setiap hari sekolah yang dikatakan kewajiban mereka untuk sekolah. Tapi kenapa mereka tidak mendapatkan hak atas kelulusan mereka setelah hampir setiap hari sekolah.

Dalam keseharian di sekolahpun mereka melakukan pembelajaran, tes pengetahuan, ujian, praktik dan sebagainya yang saya anggap sudah menunjukkan kwualitas siswa tersebut. Bersaing satu sama lain adalah satu bentuk keberanian dan pertanggunjawaban si pelaku. Bukankah persaingan dalam pendidikan dapat dikatakan suatu cara untuk membuktikan kwualitas siswa dan sekolah.

Oke jika Dewan Pendidikan masih bersikeras bahwa UAN wajib dilakukan bagi para siswa. jadi dapat dikatakan bahwa kehidupan para siswa hanya ditentukan dari 3/4 hari pelaksanaan UAN saja. Benar?

Dengan demikian saya rasa datang ke sekolah tidak perlu diwajibkan, bagaimana?. Saya pikir membiarkan siswa bebas memilih bagaimana cara belajar mereka sendiri untuk menghadapi UAN tersebut adalah perlu dicoba. Jadi terserah mereka memilih sistem belajar seperti apa dan mereka pastinya telah memikirkan apakah mereka ingin lulus UAN atau tidak dari jauh-jauh hari. Memikirkan UAN itu wajib dan menjadi penghalang untuk bisa lanjut kuliah, saya rasa punya tekanan tersendiri bagi saya dulu. Jadi dengan memutuskan datang ke sekolah tidak wajib membuat dan memaksa saya untuk memilih saya ingin lulus UAN atau tidak. Bila iya saya harus belajar dan terserah saya belajar yang seperti apa yang saya pilih.

Tapi maaf, bisa dikatakan fungsi sekolah hanya sebuah nama saja bila demikian. Jadi siswa terdaftar sebagai siswa suatu sekolah tapi tidak wajib datang ke sekolah. Tidak ada uang bulanan sekolah, Tidak ada absen, tidak ada teman, tidak ada organisasi, tidak ada seragam sekolah, tidak ada ujian kelas, tidak ada quiz dll yang dianggap memakan waktu untuk belajar fokus sesuai targat yaitu UAN. Saran ini resikonya sangat besar karena kembali ke individu siswa dan lingkungan. Namun penghematan untuk pengeluaran sekolah menjadi teratasi. Ini juga memungkinkan lebih banyak tempat sekolah terbuka seperti bimbel/khursus-khursus dibanding sekolah umum.

Ya semua itu pilihan dan penawaran yang pernah saya pikirkan tentang sekolah.

Belajar dan berpengetahuan itu wajib untuk mereka yang hidup. Namun bagaimana cara kita untuk menjadi seseorang yang berpendidikan, kita sendirilah yang memutuskan. *Tidak ada yang tau dari arah manakah ilmu akan datang. Itu tergantung bagaimana kamu menyikapi hidupmu.* (IP)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s