Jakarta Hidden Tour or the Real of Jakarta

Ada yang tau dengan semboyan “Enjoy Jakarta”?

Jika masih ada yang belum tau,  maka semboyan tersebut adalah semboyan untuk Jakarta Tour / Wisata di Jakarta oleh Pariwisata Indonesia.

Benar?! Awalnya saya tidak sama sekali punya komentar tentang semboyan ini. Saya hanya menikmati tahun-tahun pertama saya tinggal di Jakata untuk pendidikan tentunya. Namun seiringan dengan waktu, saya mulai merasakan kesesakan di Jakarta terutama tentang lalu lintas yang tidak pernah habisnya.

Saya atau tepatnya status saya yang pernah menjadi salah satu staf magang di salah satu kampus di Indonesia, pernah mendapatkan ‘seabreg’ buku panduan (guide books) tentang Jakarta. Buku-buku itu diberikan oleh Mentri Pariwisata Indonesia untuk membantu apabila ada mahasiswa asing yang berminat dengan wisata di Jakarta. Dan pada buku panduan itu terpampang dengan jelas semboyan wisata Jakarta.

Kembali ke soal semboyan. Sebenarnya saya pernah bergumam sendiri mengapa semboyan itu terdengar kurang nyaman di telinga. Seolah menjawab kebingungan saya, bos saya bergumam “apanya yang Enjoy Jakarta. Orang macet dimana-mana?!”.

Benar?! Saya rasa itu jawaban yang tepat untuk membantu rasa kekurang nyamanan saya terhadap semboyan tersebut.

Pemikiran ini jauh terlintas, setidaknya sekitar tahun 2011.

Hingga pada 28 Agustus 2013 di salah satu Talk Show Favorite Trans7 ‘Hitam Putih’ dengan menghadirkan pembicara Ronny Poluan (Lulusan Institut Kesenian Jakarta (IKJ)). Beliau adalah pendiri dari Jakarta Hidden Tour. Dalam tour-nya para tourism akan disajikan wisata yang jauh berbeda dari biasanya. Tetap ada sisi keindahan dan keramahan, namun bukan hal-hal yang dipandang positif bagi Jakrata. Bila ingin tau lebih detil apa yang ditawarkan dapat dilihat pada halaman berikut: http://realjakarta.blogspot.com/

Acara yang berlangsung ‘live’ itu sangat menyegarkan hati dan pikiran. Seolah mengangkat kembali rasa kurang nyaman pada tahun 2011, Mas Ronny mampu memberikan dan menjelaskan pengertian wisata versi beliau.

Jakarta pada kenyataannya memang tidak dapat dikatakan Ibu Kota yang Indah, seperti Ibu Kota di Negara luar lainnya. Macam jenis ‘keruetan’ di pusat Ibu Kota Negara Indonesia bisa jadi adalah awal dari ketidak-lahirannya kenyamanan di Kota sendiri. “yaa, bagaimana bisa dibilang alami. Bila gedung-degung tua di Jakarta kini telah mengalami banyak modifikasi. Dari sisi mana yang bisa kita nilai dengan sejarahnya. Kalian tau di sepanjang Bundaran Hotel Indonesia itu hanya gedung Duta Inggris yang masih alami bagunan tua, yang lainnya sudah mengalami modifikasi/moderenisasi”

Penjelasan dari Mas Ronny membuat saja menanggukan kepala. Seakan-akan sependapat, Mas Ronny pun mempertegas dengan mengatakan “jadi sangat jelas bahwa negara asing lah yang lebih mengahargai sejarah di negara kita”.

Sebenarnya saya tidak menyalahkan ataupun membenarkan argument itu, namun argument itu akan menjadi sangat benar karena memang tidak ada tindakan tegas dari pemerintah terutama menyangkut sejarah atau wisata di Jakarta.

Coba kita lihat di Negara Singapore. Indah, bukan?!. Negara itu masih negara yang kecil wilayahnya bila dibandingkan dengan Indonesia. Tapi mengapa Singapore lebih terdengar popular di negara orang?!. Alasan pribadi saya adalah karena Indah dan nyaman. Singapore itu sangat sedikit bangunan tuanya. Tapi mereka memanfaatkan juga bagunan modern dengan sangat maksimal.

Oke. Memang sih Jakarta tidak dapat dikatakan nyaman kerena masih ada ‘macet’, tapi Jakarta masih bisa di buat Indah kok. Bagaimana caranya?!

Bila kita tidak dapat memaksimalkan kota di waktu siang, maka manfaatkan dengan sangat maksimal disaat malam hari. Tambahkan saja keindahan itu pada saat malam hari. Hiasi seluruh bagian Jakarta dengan lampu-lampu warna-warni yang Indah dengan aneka bentuk dan rupa sehingga memberikan kesan bintang bertaburan di Jakarta. Bukankah pada saat malam harilah, Jakarta lebih sepi. Bebas ‘macet’ kan. Dan ini bisa juga digunakan oleh kota-kota di Indonesia loch. Saya rasa masih belum ada istilah night tour.

Jika nilai wisata di Indonesia berubah lebih baik dari sisi manapun, mungkin kita bisa sedikit merubah semboyannya menjadi “The Queen of Asian” itu menurut Mas Ronny. Atau bisa menjadi “Asian star” ini menurut saya hehe…

Tapi bila masih ada masalah seperti tidak aman dan itu menghabiskan banyak energy listrik?!

Benar. Bila egois, memang pasti akan sangat berbahaya. Kalau begitu kita tidak akan sama sekali ada perubahan dan tidak dapat belajar dari orang lain.

Kita masih akan sama seperti tahun lalu, tahun ini dan tahun depan.

–Maaf bila ada keegoisan dalam sharing saya kali ini. (IP)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s