Archive | July, 2014

He’s my hero (Cerita pendek di bis kota)

4 Jul

Hallo pembaca

Aku mau berbagi cerita pengalaman. ini kisah nyataku. yang meninggalkan kesan terindah di dalam hidupku. mungkin inilah yang pantas dibilang dengan PAHLAWAN.

Ternyata masih ada seseorang yang baik hatinya dari banyaknya penduduk kota yang terkenal dengan rasa ketidak-peduliannya.

Hanya sesaat tapi berkesan dan menyelamatkan hidupku. Dan pahlawan itu akan datang disaat kita benar-benar membutuhkannya.

Begini kisahnya:

Saat itu aku masih berstatus mahasiswi di salah satu PTN di Kota Depok. Pada masa liburan semester panjang biasanya program studi yang aku ambil menyelenggarakan kegiatan Kerja Praktik dan aku mengambil kesempatan itu bersama dengan dua teman dekatku. Pada semester panjang (3 bulan) aku dan dua rekanku berkesempatan bekerja di salah satu organisasi negara di daerah Kebayoran Baru Jakarta. Dan karena aku tinggal di kota Depok maka salah satu cara untuk dapat menempuhnya adalah dengan naik Bis Kota Depok-Blok M.

Hari itu aku bersama teman berangkat bersama seperti biasanya. kami berkumpul di depan gang untuk menunggu bis tersebut. Ya, seperti biasa hari-hari yang kami lewati, kami jarang sekali mendapatkan tempat duduk. hal hasil kami harus menahan dalam posisi berdiri untuk 1,5-2 jam lamanya. Biasanya aku selalu sehat, namun entah mengapa pagi itu matahari yang masuk melalui sela-sela jendela bis, benar-benar menampar pipi dan kepalaku. ditambah dengan desakkan para penumpang yang tidak saling mengerti, aku semakin terpojok ke salah satu sisi bis. Betapa tidak beruntungnya aku hari itu, dua temanku justru terdorong ke sudut belakang bis kota. ya setiknya mereka aman, pikirku saat itu.

Mungkin karena waktu dan sinar matahari pagi yang kurang tepat memaksaku sedikir ber-istighfar sepanjang perjalananku. Allahu Akbar, aku benar-benar merasa tidak kuat dengan kondisiku saat itu. Keringat dingin sudah bercucuran di tubuhku, Penglihatanku mulai berubah warna kuning. Lambat laun, aku merasa kakiku sudah tidak mampu menompang tubuhku. aku pikir aku mengantuk saat itu. Tidak, aku akan pingsan bila kondisi ini terus terjadi.

Tiba-tiba, seseorang yang duduk di depanku menarikku dan memintaku untuk duduk di kursinya. Dia laki-laki mengenakan kemeja dan celana formal hitam serta menggendong tas hitam didepannya. Saat itu aku pasrah dengan semua dorongan yang terjadi pada diriku. Allah yang akan menjagaku, aku yakin itu. Benar, laki-laki itu memberikan kelonggaran udara di sekitarku lalu membuka jendela di sisi kananku untuk mengganti udara yang aku hirup. Itu sangat membantuku. Aku sempat kehilangan kesadaran selama perjalanan di tol menuju Blok-M. saat tersadar, bis sudah keluar tol dan aku mulai mengangkat kepalaku dengan sedikit memijat, namun tidak berani menatap wajah pahlawanku.

Aku berniat melihat wajahnya namun aku tidak berani. aku malu dan ragu saat itu. Aku hanya berfikir mungkin sebentar lagi aku akan lebih membaik dan lebih enak untuk mengucapkan terima kasih padanya. Namun apa yang aku pikirkan tidak sejalan dengan apa yang ditakdirkan oleh Allah. Saat di simpang lampu merah setelah tol, laki-laki itu menjauh dariku menuju sisi pintu. Oh tidak! dia akan keluar. Saat keberanian itu datang, pahlawanku sudah keluar bis dan aku tidak bisa melihat wajahnya.

Demi Allah, aku tidak ingat wajahnya. Aku hanya ingin mengucapkan terima kasih atas segala bantuannya, hari itu.

Bila diantara pembaca ini adalah dia yang pernah menjadi pahlawanku. aku ingin mengucapkan dengan sungguh-sungguh untuk rasa Terima kasih ku kepada kau yang saat itu membantuku. Semoga kita bisa bertemu lagi dengan situasi yang lebih baik.