Never Happy, ever after!

8 Jun

Minggu (7-6-2015), menjadi salah satu hari yang paling menyedihkan dalam hidup dan perjalananku.

Tuhan, mohon gantikan rasa sakit ini dengan kesehatan keluargaku

buat kami bisa lebih lama bertahan dan bahagia

Tidak pernah ada yang tau kalau niat baik, silahturahmi, itu akan menjadi awal kesedihanku. Pagi-pagi aku sudah beranjak dari tempat tidurku. Hari yang biasanya aku gunakan untuk lebih banyak beristirahat. Dengan meninggalkan setumpuk rendaman pakaian kotor, akupun bersiap-siap ke luar kosan menuju rumah saudaraku. Satu-satunya saudara kandung yang aku punya di kota rantau ini.

Awalnya berjalan dengan lancar, hingga salah satu orangtua sahabatku yang juga merantau di kota yang sama menghubungiku. Ayahnya menghubungiku untuk meminta menghubungi anaknya (sahabatku) yang tidak kunjung mengangkat telponnya. Selepas kontak dari ayahnya, akupun menghubungi sahabatku. Benar, telponnya tidak kunjung diangkat.Hampir saja aku berbelok arah untuk menuju kosannya setibaku di St. Manggarai. namun tiba-tiba aku mendapatkan WhatsApp darinya yang mengatakan bahwa dia sudah menghubungi ibunya dan menintaku untuk tidak perlu menghubunginya.

Mungkin itu salah satu pertanda dari Sang Khaliq agar aku tidak perlu ke ruamah saudaraku

Nasib berkehendak lain. Silahturahmi tetaplah jalan yang harus aku pilih

Aku melanjutkan perjalanan ke rumah saudaraku hingga sampailah di rumahnya.

Semuanya berjalan dengan lancar hingga rencana kepulanganku. Tiba-tiba pamanku mengajak anak-anaknya untuk pergi ke suatu tempat. Anaknya yang paling kecil, mengajakku untuk ikut bersama mereka. Aku menghargai tawaran anaknya, bahkan senang. Karena aku kenal dengan anak-anaknya sejak 6 tahun lamanya. Mereka terutama yang paling kecil bukanlah tipe anak yang suka berlama-lama dengan seseorang kecuali uminya. Atau mungkin karena hari ini, Bibi/Uminya sedang tidak ada di rumah karena ikut diklat, lantas dia lebih merasa dekat denganku. Jujur aku senang.

Akhirnya aku tidak menolak ajakannya namun tidak juga menerima sepenuhnya karena aku sudah punya janji dengan temanku untuk mengajaknya makan siang di Rest. Daebak. Akupun mengatakan dengan perlahan kalau aku harus segera pulang, meskipun tetap memaksa pada akhirnya dia mengerti.

Kebahagiaan itu tidak bertahan lama, yang pada detik berikutnya merupakan detik-detik terberat dalam setiap tarikkan nafasku. Memang bukan pertama kalinya kata-kata itu keluar dari mulut pamanku. Dulu, entah beberapa tahun yang lalu, pamanku pernah menyinggung topik ini. Mungkin aku yang terlalu bodoh atau tidak pernah belajar dari pengalaman. Aku tetap diam tidak menanggapi perkataannya.

“Indah, lebaran dimana?”, tanya paman sembari menyetir

“Tempat Dedi (adikku)”, jawabku jujur. Dedi adikku kedua. Dia sudah bekerja dan tinggal jauh dari rumah, Palembang.

“ITULAH….KAPAN LAGI MAU LEBARAN BARENG! TEMPAT ORANGTUA!”

“KENAPA? MASIH ADA ORANGTUA DI SANA?”

“….”, aku tidak bisa menjawab apapun kecuali ‘tidak’ untuk menjawab pertanyaan keduanya.

“emang ngga bisa apa cuti? kan bisa kumpul. kapan lagi mau nyenengin orangtua?”

“Om, Dedi ngga bisa cuti pas lebaran. Dia kerja, Jadi kita yang deketin dia”

Pendek cerita atau mungkin karena aku sudah tidak cukup baik mendengar perkataan akibat emosiku yang sudah tinggi, akupun diam dan mendengarkan apa maksud perkataannya. Oke, yang dapat aku simpulkan adalah:

1. Mengapa tidak lebaran di Lampung (tempat nenek/Ibu kandung bapakku)?

Sejujurnya aku sudah membicarakannnya dengan Bapakku soal rencana lebaran. tapi bapakku memutuskan untuk lebaran bersama Dedi dan dengan kereta, untuk beberapa hari saja, kami akan berangkat ke Lampung (sama seperti tahun lalu).

2. Kapan lagi mau nyenengin orang tua/orangtua, mumpung dia masih hidup?

Kita tidak pernah tau dengan umur. Mungkin kalau dilihat dari usia, nenekku memang yang paling tua. Tapi umur siapa yang tau?! Menanyakan kebahagiaan?! tidakkah om berpikir kalau aku juga ingin membahagiakan orangtuaku. Apakah omku tau sejak dulu, setiap kali kami (keluargaku) lebaran di Lampung, selalu berakhir dengan tidak bahagia? bahkan aku masih sangat ingat di tahun 2011, aku bertengkar dengan tante (adik ipar bapak/istri adik pertama bapak), aku bertengkar karena aku beranggapan setiap kali kami ke lampung tidak pernah ada sambutan baik dari keluarga adik-adik bapakku dan ibuku selalu menjadi ‘kacung/pembantu’ di rumah nenekku sendiri atau tepatnya rumah mereka.

Alasan yang aku dengar:

“karena masakan Ayuk (panggilan ibuku) yang paling enak”

“Karana pingin sesekali makan masakan Ayuk”

Apakah itu mereka anggap sebagai pujian? Ibuku saat itu sedang sakit ‘ginjal’, Dokter memvonis ginjal ibuku hanya satu yang berfungsi dengan baik, sedangkan yang satunya terdapat batu (sudah dibersihakan batunya). Tidakkah menantu nenekku yang lain mengerti kondisi ibuku?!

Apa yang harus aku lakukan untuk kebahagiaan ibuku? jika diminta untuk menggantikan ginjalnya dengan ginjalku, Silahkan. Asalkan ibuku bisa bahagia.

Itu baru bagian ibuku, bagaimana dengan bapakku?

3. Menyamakan atau mengibaratkan aku dengan omku yang lain yang sudah tidak dia anggap sebagai saudara karena sombong?

Jika aku sudah atau memilih untuk sama seperti omku itu, mungkin aku akan benar-benar melarang bapakku berhubungan dengan keluarganya. Tapi kan tidak. Aku masih menghargai bapakku dan menyayanginya karena tidak mungkin seorang anak memaksa untuk membenci orangtuanya termasuk perasaan bapakku terhadap ibunya.

Jadi, tolong jangan mengibaratkan sesuatu apapun, karena aku bukan orang yang paham dengan segala sesuatu yang tersirat. Orang yang kau anggap sombong itupun belum tentu sombong dimata keluarga yang lain.

Sebutkan saja salahku dimana dan berikan solusinya. Jika itu baik untuk bersama, aku akan melakukannya walaupun kebahagiaanku sebagai taruhannya.

Mau sampai kapan? mau berapa lama lagi kita seperti ini?

kapan drama ini akan berakhir?

Dalam penderitaannya, Cinderella menemukan pangerannya. Aku bukan Cinderella, tapi aku berharap ada suatu yang bagaikan pangeran membawa pergi jauh rasa sedihku dengan memberikan kebahagiaannya kepada orangtuaku.

Aku masih sangat bodoh, jadi masih banyak yang harus aku pelajari. Tidak tau panjang pendeknya usia, aku berharap aku bisa terus belajar tentang hidup dan bisa memperbaiki dan memberikan penerus/garis keturunan bapakku, ibuku, dan agamaku, anak-anak yang baik agama dan ilmunya.

Ya Allah, selalu tundukkan aku untuk agamamu

Jangan buat aku menjadi golongan yang sombong dan dibenci oleh orang lain dengan sikapku

Aku bukan ornag yang sempurna, tapi aku tidak ingin menjadi orang yang paling bersedih di akhir khayatku hingga kau bangkitkan aku kembali

Aku pernah bersalah, maaf dan ampuni aku

NB: Kabahagiaan itu bukan untuk dicari tapi untuk kau buat. Belajar dari hidupku hari itu_(ip)_

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: