Jejak Kreativitas Siaran Indonesia

Saya bukan mau menceritakan jejak sejarah siaran di Indonesia. Saya mau berkomentar tentang siaran di Indonesia saat ini. Jikalau kurang berkenan silahkan tidak perlu melanjutkan membaca halaman ini karena mungkin saja apa yang kalian cari tidak akan kalian temukan.

Kalian tentu tau bagaimana saat ini perkembangan musik di Indonesia. Saya pribadi menilainya ‘bergerak lambat’, ‘tidak banyak yang menarik’, ‘hanya beberapa yang easy listening’ dan ‘tidak eksis’. Mengapa itu bisa terjadi? ini kira-kira penilaian saya (sebenarnya saya sangat berharap banyak pihak yang  bergerak dibidang pertelevisian/industri musik/iklan/hiburan dapat melakukan ini apalagi kalau bisa terlihat hasilnya).

Tidak Ada Dukungan dan Pengawasan dari Industri Televisi/Penyiaran di Indonesia

Dukungan seperti apa yang diinginkan? masih ingat dengan MTV Ampuh? nah itu salah satu channel yang tidak pernah saya lupakan sepanjang masa. Hanya bermodalkan musik, channel ini bisa menjadi media yang baik dalam mempromosikan musik. Dari channel ini pula saya bisa banyak belajar bahasa Inggris (karena Host/VJ-nya terkadang mencampur bahasa).

Memang sudah ada acara tertentu di salah satu Channel Nasional yang pasti hingga keplosok daerah di Indonesia bisa mendapatkan channel ini: saya sebut TVRI, RCTI/MNC group, Transmedia group, SCTV, Indosiar, TVOne, dan MetroTV.

Maaf, TVRI mungkin bukan pilihan terbaik, mengapa? karena TVRI adalah media pemerintah (non-komersil) dan bisa dikatakan channel ini sangat terbatas dengan dana sehingga cukup kecil harapannya untuk dapat menyajikan siaran yang spektakuler. Tapi secara pribadi saya mengucapkan terimakasih dengan TVRI karena TVRI adalah channel pertama yang berhasil mempertemukan Idola saya (SHINee) pada tahun 2009. Ini mengapa saya bilang TVRI adalah stasiun TV yang tidak komersil, karena pada saat ini TVRI hanya ber-partner dengan Kedutaan Korea Selatan mengundang SHINee tanpa memungut biaya untuk dapat menonton penampilannya. Kapan coba bisa nonton SHINee gratis hehehe…

Jika demikian kita coba ke channel yang besar dan tertua dahulu RCTI, SCTV, dan Indosiar. tayangan musik seperti apa yang stasiun ini sajikan? Dahsyat/Inbox/DA? Dari sisi konten, secara pribadi saya bisa bilang ‘aneh’. kenapa aneh? acara musik tapi ada lawaknya. acara musik tapi yang berkenaan dengan musik hanya maksimal 5 artis saja. acara musik tapi menyajikan gosip. acara musik malah curhat…yah ada banyak lagi.

Okay seandainya mau bilang bahwa kalian menyesuaikan dengan audiance. Tapi kalau kalian cerdas dan tidak hanya berfikir komersil, audiance itu ‘kalian’ yang membentuknya. saya jarang nonton Channel Indonesia karena saya bosan dengan kontennya. Konten yang disajikan selain membosankan, tidak jelas pangkal dan ujungnya. Ada acara musik 1 orang dikomentari sampai 1 jam? Ada acara musik dari jam 6 sore sampai jam 1 malam? Ada acara musik malah tangis-tangisan? Coba deh lakukan penelitian/riset kecil-kecilan dari berbagai negara. Bagaimana sebaiknya Penyiaran Nasional seharusnya.

Ini sepenuhnya menjadi Kebijakan Pemerintah. Kalau seandainya Pemerintah Indonesia yang tidak peduli/bergerak lambat saya rasa bisa dimulai dari akarnya yaitu Stasiun TV yang bersangkutan. Buat saja internal SOP dari masing-masing acara/judul. Saya yakin kalau bisa dimulai dari sekarang, 5 tahun atau bisa lebih cepat saya akan kembali mencintai Channel di Indonesia.

Secara singkat saya sangat ingin peryiaran di Indonesia menambahkan/memberlakukan hal-hal berikut ini:

  • Semua konten tidak boleh mengandung unsur SARA (ini perlu pengawasan dari setiap script writer acara)
  • Setiap judul hanya tayang masimal 2 hari per 1,5 jam + 0,5 jam iklan. Hitungannya 1 episode acara berkisar 1,5 jam. Akan lebih baik bila iklan hanya ditampilkan pada ending judul (sponsor)..karena jedah iklan biasaya saya pakai untuk ganti channel yang ujung-ujungnya saya lupa kembali ke channel awal
  • Setiap judul punya slot yang disesuaikan dengan:
    • Variety show, Talk show, Music show >> tidak tercatat dengan catatan tidak mengubah konsep konten
    • Mini seri: 1-2 episode
    • Drama pendek: 4-12 episode
    • Drama sedang: 18-26 episode
    • Drama panjang: 60 episode
    • Drama keluarga: 200 episode
  • Jika ingin memperpanjang judul karena sudah selesai cerita harus update judul misal ditambahkan ‘part 2’/’sesi 2’ dll
  • Harus tegas, pada saat cerita sudah tidak sesuai atau melenceng dari konsep, Penyiaran/Pemerintah harus mencabut hal ijin siarannya (tanpa mengubah nama). Saya ingat dengan judul YKS (Yuk Kita Sahur jadi Yuk Keep Smile)
  • Masih banyak lagi jika serius melakukan riset kecil-kecilan….

Apa keuntungan adanya perubahan? Industri penyiaran jadi lebih beraneka ragam dan menarik. TV akan punya banyak database judul yang setiap saat bisa diulang untuk kembali menyegarkan pikiran audiance.

Saya kangen dengan Tralala-Trilili/Inbox/Dahsyat yang dulu…awal-awal yang menyajikan banyak artis update. yang punya playlist…kalau mau dibuat kreatif lagi, playlist tersebut bisa saja memberikan piagam mingguan yang melakukan rating popular musik mingguan. Pasti akan mencuri perhatian para Manajemen Musik di Indonesia untuk menghasilahkan musik terkini.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s