Kemana Para Atlet Indonesia

Kerja keras yang tidak terlihat

Usaha yang tidak dihargai

Mimpi yang tidak pernah tercapai

Senin (23/1) saya bersama salah seorang rekan kerja ngobrol bareng. Awalnya hanya membahas mengenai tawaran beliau untuk saya mulai rajin olahraga. Selain untuk kesehatan juga manambah kemampuan dan minat saya sejak SMP terhadap badminton. Benar, saya sangat menyukai badminton. Sepertinya dari semua olahraga, badmintonlah yang pertama mencuri perhatian saya mungkin karena saya tinggal di kota kecil jadi permainan yang paling mudah dimainkan dan sedikit keren hanya badminton.

Apa yang kami obrolin sehingga tiga kalimat saya quote pada tulisan saya ini.

Awalnya saya hanya menanyakan terkait atlet badminton saat ini. saya mengungkapkan bahwa kenapa piala sudirman menjadi sangat sulit kita raih ya? mengapa para pemain badminton di Indonesia (sorry) hanya itu-itu saja ya? emang masa para pemain badminton itu sampai usia berapa seharusnya?

rekan kerja yang biasa saya panggil ayah tersebuh hanya merespon dengan senyuman. hingga akhirnya saya memancing beliau untuk lebih banyak mengungkapkan pengalaman beliau terkait ‘keluh kesah’ saya terhadap para atlet badminton.

Dan dari percakapan tsb saya dapat menyimpulkan bahwa sistem kepemimpinan untuk olahraga badminton di Indonesia saat ini sangat buruk! mengapa?

saya sudah lama menyadari mengapa pada atlet badminton yang biasanya berangkat mewakili nama Indonesia hanya berasal dari club itu itu saja. Menurut saya sendiri berdasarkan pandangan saya terhadap cara main para atlet senior seperti taufik didayat sudah tidak bisa dipertanyakan lagi. dulu saya hanya menganggap jika taufik kalah itu hanya 2 penyebabnya dia gugup jadi hilang kontrol atau dia sedang tidak enak badan. kalau saya perhatikan, bola bola taufik jauh lebih baik daripada lawan bertahannya li chong wei.

selain taufik saya juga memperhatikan para pemain lainnya (sorry) yang dapat saya bilang ‘payah’ seperti mereka tidak pernah serius bermain, masih labil, kadang saya berfikir senior saya jauh lebih baik mainnya dari pada mereka.

masih ingat dengan kasus atlet badminton Indonesia yang didiskualifikasi karena tidak sportif yang mengakibatkan dia tidak dapat main untuk beberapa pertandingan (?) saya pikir mereka benar-benar akan di-take-out dari daftar atlet badminton dan memberikan kesempatan kepada atlet lainnya yang mungkin jauh lebih sportif daripada mereka. saya kurang paham masalah ini apakah disebabkan pelatih atau atletnya (?) tapi yang saya percaya adalah “saya sendiri yang dapat memutuskan apa yang akan saya pilih sebagai langkah saya di kemudian hari bukan orang lain”, jadi berdasarkan prinsip saya itu saya akan memberikan nilai 0 (nol besar) kepada atlet yang tidak sportif padahal membawa nama besar Indonesia di pundak mereka. bukankah itu artinya mereka tidak siap disebut dengan atlet?

saya juga bertanya tentang apakah benar se-indonesia ini tidak ada atlet yang bisa kita perjuangkan ataupun tampil membawa nama Indonesia?

Ayah mengatakan ‘banyak’ namun sepertinya sulit untuk dipilih. Alasan yang dikemukakan sangat membuat hati ini miris. Apakah masih ada main belakang dan senioritas padalah mereka yang melakukan seleksi adalah juga pada atlet dan pelatih untuk nama baik Indonesia. Demi piala yang sudah tidak pernah balik kerumahnya lagi.

miris sekali bila hingga saat ini pada pemimpin ataupun sistem kepemimpinan olahraga di Indonesia belum berani pasang badan dan menggunakan kacamata kuda untuk mendapatkan kembali piala dan nama baik Indonesia.

Sebagai tambahan untuk mereka yang bergerak di bidang olahraga: mengapa saat di Olimpiade Rio 2016, Indonesia hanya memfokuskan pada badminton? atlet lainnya bagaimana? mengapa Indonesia hanya mengirimkan segelintir atlet tidak seperti negara lainnya yang mengirimkan banyak atlet untuk berbagai bidang lomba? tidakah memikirkan peluangnya?

saya kaget saat tiba-tiba banyak iklan yang menyebutkan akan memberikan hadiah bermiliar-miliar untuk yang berasil memperoleh medali di Olimpiade Rio 2016. lalu yang tidak membawa medali apapun bagaiman? apakah tidak mendapatkan royalti? Mengapa uang sebesar itu tidak digunakan untuk menambah kontingen Indonesia saja. Hadiah boleh diberikan, saya rasa ratusan juta sudah cukup karena mereka atlet yang membawa nama baik Indonesia. saya yakin mereka akan mendapatkan banyak royalti dan keuntungan lainnya jika media kita bisa dengan benar memasarkan mereka.

Saya menganggap kepemimpinan seperti ini adalah kepemimpinan yang masih plinplan. tidak berani ambil resiko dan peluang. Saya juga tidak tau seberapa kaya atau miskinnya Indonesia ini.

Atlet lainnya yang saya harap tidak disia-siakan adalah Rio Haryanto (Pembalap F1 Indonesia). Jangan sampai dia mengibarkan bendera selain Indonesia hanya karena tidak pernah mendapatkan peluangnya dari negaranya sendiri. Penyesalan itu bisa terlihat saat sudah terjadi.

salam hangat! (ip)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s