Cinta Dalam Diam

Jika dihitung-hitung sudah lebih dari 8 tahun saya merantau. Jauh dari pengawasan orangtua. Menghabiskan waktu hanya dengan kesibukan sebagai seorang pelajar dan pekerja.

Rasa bosan dan kangen dengan kehangatan orangtua dan keluarga juga sering kali menghantui teruma saat saya sakit. Menangis dalam tidur karena menahan rasa sakit, berfikir negatif -bagaimana jika karena sakit ini saya mati sendiri tanpa ada yang mengetahui-, berfikir positif -seandainya ada Ibu, saat sakit ini pasti sudah ada tangan hangatnya yang merangkul dan memijatku-, atau sekedar menahan emosi agar tidak menghubungi orangtua untuk tidak membuat mereka khawatir.

Tapi itu hanya bisa saya rasakan sejak saya jauh dengan mereka. Kedewasaan saya juga terlatih karena jauh dari mereka. Dimana saya hanya bisa bercengkraman dengan mereka setahun maksimal 2 kali atau kadang 1 kali saat libur besar Idul Fitri (Lebaran Islam). Saat ini mungkin dirasa jauh lebih baik karena sudah ada teknologi yang membantu. Yang dahulunya saya hanya bisa melepas kangen melihat wajah mereka 2 kali dalam setahun, sekarang kapanpun saya hanya perlu Internet dan malakukan video call.

Saya berfikir selama ini saya sudah cukup baik dan berbakti dengan mereka. namun ternyata tidak. rasa bakti dan cintaku untuk mereka benar-benar belum ada apa-apanya saat saya menyadari betapa mereka mencintaiku.

Ini cerita lama dari adikku. Secara kebetulan, tanggal lahir saya dan adikku yang bungsu, sama. Sekitar tahun 2013, tanpa sengaja saya membuka FB adikku hanya sekedar kepo dengan teman-temannya. Saat itulah untuk pertama kalinya saya melihat unagkapan kangen adikku yang tidak pernah dia ungkapkan. Dalam wall FB-nya dia menuliskan “Kangen Ayuk (panggilan kakak perempuan). Setiap tahun, ulang tahun ngga pernah sama-sama”.

Saya hanya seorang kakak yang lemah tapi mencoba bertahan sendiri di kota orang. Secara otomatis mataku berkaca-kaca. Menyadari seorang adik dengan perbedaan usia 11 tahun denganku, dimana dia baru menyadari makna ulang tahun sekitar usia 5 tahun dan saya sudah tidak bisa ulang tahun bareng dia saat itu. Mengucapkan ‘selamat ulang tahun adik’ hanya bisa saya sampaikan via telpon.

Rasa cinta lainnya yang sangat berarti bagiku. Ibu, seseorang yang bisa jadi paling dekat dengan saya. sosok yang paling mengerti saya tanpa perlu kita ungkapkan kebutuhanku. sosok yang mengajarkan saya ilmu pertama kali. Kalimatnya sederhana dan dia ucapkan mungkin tanpa sadar.

Saat itu, saya dan ibuku sedang curhat ala-ala ibu dan anak. sifat ibuku cukup terbuka dengan anak-anaknya. jadi segala hal bisa jadi akan dia ceritakan. apa lagi denganku yang jarang pulang ke rumah jadi cerita tentang kejadian di rumah adalah dongeng terpanjang akan pasti saya dengar selama kami bertemu. kali ini ibuku menceritakan tentang Bapak dan adik bungsuku.

Singkat cerita, ibuku mengatakan bahwa hingga saat ini bapakku masih suka tidur di kamar adikku. alasannya sederhana karena hanya kamar adikku yang dipasang AC (-.-“). Sebenarnya bukan cuma bapakku, ibuku juga demikian. Jadi kalau di rumah kadang kamar adikku jadi perlu tambah kasur agar bisa tidur untuk 3 orang.

Percakapan terjadi antara ibu dan bapakku saja. Ibu pernah mengatakan agar bapakku membeli lagi AC saja lalu pasang di kamar ibu dan bapakku, tapi tau apa kata bapakku “Ah nanti saja. Masih pingin tidur bareng Indry-Sari (nama adikku)”. Balas ibuku, “woi, Winda (nama tengah adikku) lah besar, lah gadis. kalo malu”. Bapakku hanya senyum lalu lanjut tidur di samping adikku.

Di saat itulah Ibuku mengatakan, “Enak ya bisa tidur bareng lama dengan anak. Coba pikirkan Indah (namaku), belum sempat lama dia sudah kita suruh tidur sendiri karena sudah ada yang lain (adik-adikku) dan sekarang dia sudah jauh (merantau), dan kita ngga tau kapan mungkin bentar lagi menikah. Kapan bisa tidur bareng sama Indah lagi kayak bapak sama Winda”. Ibuku mengatakan itu sedikir berkaca-kaca, dan itupun membuatku berkaca-kaca.

Astaga ternyata mereka masih menyadari kurangnya rasa cinta mereka padaku. Padahal mereka sudah membuatku sekuat, semandiri ini.

Yah, inilah rasa cinta dalam diam yang tidak pernah mereka unagkapkan dan yang saya sadari mendalam. Mungkin banyak rasa cinta mereka tapi tidak pernah kita sadari. Jadi sebagai anak, sadarilah bahwa rasa bakti kita tidak akan pernah cukup menutupi rasa cinta mereka kepada kita.

Semoga kebahagiaan selalu menyertai Ibu, Bapak, Aku dan Adik-Adikku. ❤

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s