Archive | Budaya RSS feed for this section

Jejak Kreativitas Siaran Indonesia

16 May

Saya bukan mau menceritakan jejak sejarah siaran di Indonesia. Saya mau berkomentar tentang siaran di Indonesia saat ini. Jikalau kurang berkenan silahkan tidak perlu melanjutkan membaca halaman ini karena mungkin saja apa yang kalian cari tidak akan kalian temukan.

Kalian tentu tau bagaimana saat ini perkembangan musik di Indonesia. Saya pribadi menilainya ‘bergerak lambat’, ‘tidak banyak yang menarik’, ‘hanya beberapa yang easy listening’ dan ‘tidak eksis’. Mengapa itu bisa terjadi? ini kira-kira penilaian saya (sebenarnya saya sangat berharap banyak pihak yang  bergerak dibidang pertelevisian/industri musik/iklan/hiburan dapat melakukan ini apalagi kalau bisa terlihat hasilnya).

Tidak Ada Dukungan dan Pengawasan dari Industri Televisi/Penyiaran di Indonesia

Dukungan seperti apa yang diinginkan? masih ingat dengan MTV Ampuh? nah itu salah satu channel yang tidak pernah saya lupakan sepanjang masa. Hanya bermodalkan musik, channel ini bisa menjadi media yang baik dalam mempromosikan musik. Dari channel ini pula saya bisa banyak belajar bahasa Inggris (karena Host/VJ-nya terkadang mencampur bahasa).

Memang sudah ada acara tertentu di salah satu Channel Nasional yang pasti hingga keplosok daerah di Indonesia bisa mendapatkan channel ini: saya sebut TVRI, RCTI/MNC group, Transmedia group, SCTV, Indosiar, TVOne, dan MetroTV.

Maaf, TVRI mungkin bukan pilihan terbaik, mengapa? karena TVRI adalah media pemerintah (non-komersil) dan bisa dikatakan channel ini sangat terbatas dengan dana sehingga cukup kecil harapannya untuk dapat menyajikan siaran yang spektakuler. Tapi secara pribadi saya mengucapkan terimakasih dengan TVRI karena TVRI adalah channel pertama yang berhasil mempertemukan Idola saya (SHINee) pada tahun 2009. Ini mengapa saya bilang TVRI adalah stasiun TV yang tidak komersil, karena pada saat ini TVRI hanya ber-partner dengan Kedutaan Korea Selatan mengundang SHINee tanpa memungut biaya untuk dapat menonton penampilannya. Kapan coba bisa nonton SHINee gratis hehehe…

Jika demikian kita coba ke channel yang besar dan tertua dahulu RCTI, SCTV, dan Indosiar. tayangan musik seperti apa yang stasiun ini sajikan? Dahsyat/Inbox/DA? Dari sisi konten, secara pribadi saya bisa bilang ‘aneh’. kenapa aneh? acara musik tapi ada lawaknya. acara musik tapi yang berkenaan dengan musik hanya maksimal 5 artis saja. acara musik tapi menyajikan gosip. acara musik malah curhat…yah ada banyak lagi.

Okay seandainya mau bilang bahwa kalian menyesuaikan dengan audiance. Tapi kalau kalian cerdas dan tidak hanya berfikir komersil, audiance itu ‘kalian’ yang membentuknya. saya jarang nonton Channel Indonesia karena saya bosan dengan kontennya. Konten yang disajikan selain membosankan, tidak jelas pangkal dan ujungnya. Ada acara musik 1 orang dikomentari sampai 1 jam? Ada acara musik dari jam 6 sore sampai jam 1 malam? Ada acara musik malah tangis-tangisan? Coba deh lakukan penelitian/riset kecil-kecilan dari berbagai negara. Bagaimana sebaiknya Penyiaran Nasional seharusnya.

Ini sepenuhnya menjadi Kebijakan Pemerintah. Kalau seandainya Pemerintah Indonesia yang tidak peduli/bergerak lambat saya rasa bisa dimulai dari akarnya yaitu Stasiun TV yang bersangkutan. Buat saja internal SOP dari masing-masing acara/judul. Saya yakin kalau bisa dimulai dari sekarang, 5 tahun atau bisa lebih cepat saya akan kembali mencintai Channel di Indonesia.

Secara singkat saya sangat ingin peryiaran di Indonesia menambahkan/memberlakukan hal-hal berikut ini:

  • Semua konten tidak boleh mengandung unsur SARA (ini perlu pengawasan dari setiap script writer acara)
  • Setiap judul hanya tayang masimal 2 hari per 1,5 jam + 0,5 jam iklan. Hitungannya 1 episode acara berkisar 1,5 jam. Akan lebih baik bila iklan hanya ditampilkan pada ending judul (sponsor)..karena jedah iklan biasaya saya pakai untuk ganti channel yang ujung-ujungnya saya lupa kembali ke channel awal
  • Setiap judul punya slot yang disesuaikan dengan:
    • Variety show, Talk show, Music show >> tidak tercatat dengan catatan tidak mengubah konsep konten
    • Mini seri: 1-2 episode
    • Drama pendek: 4-12 episode
    • Drama sedang: 18-26 episode
    • Drama panjang: 60 episode
    • Drama keluarga: 200 episode
  • Jika ingin memperpanjang judul karena sudah selesai cerita harus update judul misal ditambahkan ‘part 2’/’sesi 2’ dll
  • Harus tegas, pada saat cerita sudah tidak sesuai atau melenceng dari konsep, Penyiaran/Pemerintah harus mencabut hal ijin siarannya (tanpa mengubah nama). Saya ingat dengan judul YKS (Yuk Kita Sahur jadi Yuk Keep Smile)
  • Masih banyak lagi jika serius melakukan riset kecil-kecilan….

Apa keuntungan adanya perubahan? Industri penyiaran jadi lebih beraneka ragam dan menarik. TV akan punya banyak database judul yang setiap saat bisa diulang untuk kembali menyegarkan pikiran audiance.

Saya kangen dengan Tralala-Trilili/Inbox/Dahsyat yang dulu…awal-awal yang menyajikan banyak artis update. yang punya playlist…kalau mau dibuat kreatif lagi, playlist tersebut bisa saja memberikan piagam mingguan yang melakukan rating popular musik mingguan. Pasti akan mencuri perhatian para Manajemen Musik di Indonesia untuk menghasilahkan musik terkini.

CNBLUE MOON Concert in Jakarta (Oct 19¬th, 2013)

22 Oct

Sabtu (19/10) menjadi hari yang membahagiakan bagi Boice (Fans base) CNBLUE. CNBLUE merupakan band kabangsaan Korea Selatan. CNBLUE beranggotakan empat orang yaitu Yong Hwa (main vocal, guitarist dan leader), Jong Hyun (sub vocal dan guitarist), Min Hyuk (sub vocal dan drummer) dan Jung Sin (rapper dan bassist). Selain di Korea Selatan, CNBLUE juga telah melebarkan sayap prestasi dan karirnya di negara Sakura (Jepang). Album yang berhasil mereka garap tidak hanya mencerminkan bahasa negara asalnya, Bahasa Inggris dan Jepang pun mereka berani coba. Alhasil dari kerja kerasnya selama ini, CNBLUE sukses menggelar konsernya di Jakarta pertengahan bulan Oktober 2013.

Konser yang bertajub CNBLUE MOON itu menggambarkan lokasi panggung bak bulan penuh. Penuh degan kemeriahan, keceriaan, teriakkan, kebahagiaan dan musik. Aku akan sedikt berbagi pengalaman tentang konser indah tersebut. Semoga para pembaca berkenan 🙂

PicsArt_1381842594800Sebelumnya, aku ucapkan terima kasih kepada koreanindo.net dan SumSung Galaxy Series yang memberikanku kesempatan untuk mendapatkan tiket konser gratis. Aku akui kalau sebenarnya masih ada yang seharusnya lebih beruntung dibandingkan aku saat itu. Aku akui kalau aku hanya seorang pencinta musik karya empat pemuda Korea Selatan tersebut. Aku akui kalau aku bukanlah maniak CNBLUE yang tau sampai hal terkecilnya atau pantas untuk disejajarkan dengan Boice. Karena aku hanya cinta karya dan pribadi mereka. Aku tidak perduli dengan kehidupan pribadi mereka masing-masing, selama mereka miliki karya, aku akan menantikannya.

Rasa terima kasih untuk Koreanindo dan Samsung, benar-benar aku ucapkan dengan tulus. Berkat merekalah aku dapat menikmati konser terindah tersebut. Berkat mereka aku benar-benar bisa melihat Jonghyun memainkan gitarnya dengan elegan. Entah direncanakan atau secara kebetulan aku mendapatkan tiket dimana posisi Jonghyun bisa aku nikmati disepanjang konser. Terima kasih.

Suasana konser sangat ramai bahkan mendekati full. Penuh dengan lampu yang berwarna-warni. Alunan musik dari awal hingga akhir begitu mengajakku untuk berlompat dan berlonjak ria. Begitu mengesankan. Benar-benar berbeda rasanya saat menonton karya boys/girls band Korea Selatan. CNBLUE benar-benar mengajak kita untuk merasakan euphoria pesta konser perdana mereka di Indonesia.

Aku berharap CNBLUE akan kembali menyelenggarakan konser di Indonesia. Dan saat itu tiba, semoga aku sudah lebih siap dan lebih baik untuk bergabung bersama CNBLUE.

Terima kasih CNBLUE. Terima kasih Indonesia. (IP)

PicsArt_1382403970661

Menghitung Rating Pertelevisian

2 Oct

Hi! Baiklah, kali ini saya akan membahas soal “Rating” sinetron maupun acara pertelevisian di Indonesia. Bagaimana sebenernya cara menghitung dan mengetahui kapan acara tersebut sedang bagus ratingnya? dan untuk apa sebenarnya fungsi rating itu sendiri?

Pertama-tama saya katakan dan akui dahulu kalau aku bukanlah orang yang pakem/ahli di bidang pertelevisian. Jadi kalau ada yang salah dalam penunilsan ini, mohon dimaafkan dan diperbaiki saja mana yang salahnya.

Suatu acara pertelevisian akan dinilai baik dan pantas ditonton yaitu dapat dilihat dari rating acara itu sendiri. Rating diperoleh dari jaringan/saluran pertelevisian di Indonesia. Saluran tersebut sedemikian rupa diatur untuk dapat menampilkan suatu diagram yang dapat dilihat dan dinilai statusnya. Penilaian status merupakan perhitungan di setiap detiknya saluran acara yang ditonton oleh masyarakatnya. Penilaian status ini ada yang tinggi dan rendah, menjadikannya sebuat rating dalam presentase. Dengan Rating tersebut, suatu saluran tv atau acara tv dapat memperoleh iklan dan keuntungan sponsor lainnya. Jadi rating yang tinggi akan membantu besar dalam suksesnya suatu stasiun tv.

Namun sayangnya, bagi saya sendiri pemahaman mengenai rating cukup mengecewakan terutama di setelah melihat acara tersebut. Ada seseorang yang berkoar-koar “yes, acara kami menang pernghargaan ini dan itu karena kami dapat mempertahankan rating acara kami”. sebenarnya ungkapan tersebut tidaklah aneh. Namun sedikit menjengkelkan jika justru yang mendapatkan penghargaan adalah acara itu-itu saja selama bertahun-tahun. Bukankah rating tersebt menjadi sebuah pertanyaan.

kita contohkan saja misalnya acara X di stasiun tv Y. dan acara A di stasiun tv B.

Y dan B merupakan stasiun TV ternama yang tentu saja salurannya dapat di terima oleh seluruh bagian di Indonesia. bahkan Y dan B lebih jernih diterima di pulau We dari pada siaran tv lokal (HHH). Pokoknya Ydan B jernih banget deh. Jadi Y dan B akan ada di semua TV di Indonesia.

X dan A adalah acara musik. X tanyang pukul 7-9 pagi dan A tayang pukul 9-11 pagi.

Asumsinya adalah X kepagian sehingga beberapa penikmat musik masih terlelap di balik selimutnya. A sukses berat karena semua penikmat musik sudah bangun.

Jika dilihat memang keduanya memiliki jenis acara yang sama namun jam tayang yang berbeda itu membuat saya sedikit aneh bila X dan A justru menjadi nominasi bersamaan. belum lagi secara sepihak kita lihat bahwa sebenarnya tidak semua orang yang menghidupkan Y pasti menonton X begitu pula dengan A dan B. Tidakkah Y perpikir jika saya menonton Y mungkin sebabnya karena tidak ada siaran lain yang dapat saya tonton kecuali Y.

Hal yang sama juga sempat saya pikirkan misalnya sola rating sinetron dan/atau playlist music. Musik udah update kemana-mana eh playlistnya masih yang itu-itu aja. Seharusnya kan diupdate juga.

Saya masih mengakui perhitungan yang cukup baik soal playlist music itu pas jamannya MTV Ampuh. XD

Sebenarnya persaingan ini terlihat tidak sehat dan sedikit membingungkan. tapi ya sudahlah. Nasi sudah menjadi bubur, dari pada tidak ada gunanya mending tambahin cakwe sekalian. Jadi enak  deh itu bubur 🙂 (IP)

Uang Elektronik: Less Cash Society (LCS)

18 Sep

Tahun 2013, Indonesia kembali mencoba mengembangkan sistem elektronik untuk masyarakat. Bank Indonesia bersama dengan bank-bank di Indonesia lainnya berkerja saja untuk membangun dan menyeimbangkan perekonomian di Indonesia. Tujuan sederhananya adalah mengurangi biaya pencetakan uang, mencegah pencucian uang, dan mempercepat velocity of money.

Uang Elektronik (Less Cash) yaitu sebuah card yang berfungsi sebagai pengganti uang. Caranya mungkin sama dengan penggunaan e-tol/e-tiket kereta yang telah lebih dulu luncur di masyarakat Indonesia. Pengguna/pemilik dapat melakukan pembayaran hanya dengan menempelkan card dan dapat melakukan pengisian perdana. Meskipun masa uji coba baru dilakukan di lingkungan Universitas Indonesia, Less Cash ini cukup mencuri perhatian masyarakat UI. Saya sendiri berharap pengeluaran uang rupiah/pencetakan uang dapat dikurangi. ‘yaa, agak miris juga sih melihat mata uang kita menjadi sangat rendah belakangan ini’. Saya bukan ahlinya bila ingin mambahas soal mata uang kita lebih dalam –sorry. Yang saya tau adalah masih banyak PK (Pekerjaan Kantor) di bidang ekonomi Indonesia.

Semoga dengan adanya Less Cash ini dapat bermanfaat dengan sangat baik di seluruh Indonesia. Kapan lagi bisa melihat Indonesia bisa melakukan pembayaran (seperti makan, bus/trans-kota, dll) tanpa harus berinteraksi dengan uang. Semoga lebih safety juga. (IP)

Sosialisasi Less cash society (LCS) di universitas Indonesia

@Kantin Prima PAU, FISIP, & FKM

(17 September – 4 Oktober 2013)

Bazaar LCS UI

@Perpustakaan UI

(1-4 Oktober 2013)

Jakarta Hidden Tour or the Real of Jakarta

29 Aug

Ada yang tau dengan semboyan “Enjoy Jakarta”?

Jika masih ada yang belum tau,  maka semboyan tersebut adalah semboyan untuk Jakarta Tour / Wisata di Jakarta oleh Pariwisata Indonesia.

Benar?! Awalnya saya tidak sama sekali punya komentar tentang semboyan ini. Saya hanya menikmati tahun-tahun pertama saya tinggal di Jakata untuk pendidikan tentunya. Namun seiringan dengan waktu, saya mulai merasakan kesesakan di Jakarta terutama tentang lalu lintas yang tidak pernah habisnya.

Saya atau tepatnya status saya yang pernah menjadi salah satu staf magang di salah satu kampus di Indonesia, pernah mendapatkan ‘seabreg’ buku panduan (guide books) tentang Jakarta. Buku-buku itu diberikan oleh Mentri Pariwisata Indonesia untuk membantu apabila ada mahasiswa asing yang berminat dengan wisata di Jakarta. Dan pada buku panduan itu terpampang dengan jelas semboyan wisata Jakarta.

Kembali ke soal semboyan. Sebenarnya saya pernah bergumam sendiri mengapa semboyan itu terdengar kurang nyaman di telinga. Seolah menjawab kebingungan saya, bos saya bergumam “apanya yang Enjoy Jakarta. Orang macet dimana-mana?!”.

Benar?! Saya rasa itu jawaban yang tepat untuk membantu rasa kekurang nyamanan saya terhadap semboyan tersebut.

Pemikiran ini jauh terlintas, setidaknya sekitar tahun 2011.

Hingga pada 28 Agustus 2013 di salah satu Talk Show Favorite Trans7 ‘Hitam Putih’ dengan menghadirkan pembicara Ronny Poluan (Lulusan Institut Kesenian Jakarta (IKJ)). Beliau adalah pendiri dari Jakarta Hidden Tour. Dalam tour-nya para tourism akan disajikan wisata yang jauh berbeda dari biasanya. Tetap ada sisi keindahan dan keramahan, namun bukan hal-hal yang dipandang positif bagi Jakrata. Bila ingin tau lebih detil apa yang ditawarkan dapat dilihat pada halaman berikut: http://realjakarta.blogspot.com/

Acara yang berlangsung ‘live’ itu sangat menyegarkan hati dan pikiran. Seolah mengangkat kembali rasa kurang nyaman pada tahun 2011, Mas Ronny mampu memberikan dan menjelaskan pengertian wisata versi beliau.

Jakarta pada kenyataannya memang tidak dapat dikatakan Ibu Kota yang Indah, seperti Ibu Kota di Negara luar lainnya. Macam jenis ‘keruetan’ di pusat Ibu Kota Negara Indonesia bisa jadi adalah awal dari ketidak-lahirannya kenyamanan di Kota sendiri. “yaa, bagaimana bisa dibilang alami. Bila gedung-degung tua di Jakarta kini telah mengalami banyak modifikasi. Dari sisi mana yang bisa kita nilai dengan sejarahnya. Kalian tau di sepanjang Bundaran Hotel Indonesia itu hanya gedung Duta Inggris yang masih alami bagunan tua, yang lainnya sudah mengalami modifikasi/moderenisasi”

Penjelasan dari Mas Ronny membuat saja menanggukan kepala. Seakan-akan sependapat, Mas Ronny pun mempertegas dengan mengatakan “jadi sangat jelas bahwa negara asing lah yang lebih mengahargai sejarah di negara kita”.

Sebenarnya saya tidak menyalahkan ataupun membenarkan argument itu, namun argument itu akan menjadi sangat benar karena memang tidak ada tindakan tegas dari pemerintah terutama menyangkut sejarah atau wisata di Jakarta.

Coba kita lihat di Negara Singapore. Indah, bukan?!. Negara itu masih negara yang kecil wilayahnya bila dibandingkan dengan Indonesia. Tapi mengapa Singapore lebih terdengar popular di negara orang?!. Alasan pribadi saya adalah karena Indah dan nyaman. Singapore itu sangat sedikit bangunan tuanya. Tapi mereka memanfaatkan juga bagunan modern dengan sangat maksimal.

Oke. Memang sih Jakarta tidak dapat dikatakan nyaman kerena masih ada ‘macet’, tapi Jakarta masih bisa di buat Indah kok. Bagaimana caranya?!

Bila kita tidak dapat memaksimalkan kota di waktu siang, maka manfaatkan dengan sangat maksimal disaat malam hari. Tambahkan saja keindahan itu pada saat malam hari. Hiasi seluruh bagian Jakarta dengan lampu-lampu warna-warni yang Indah dengan aneka bentuk dan rupa sehingga memberikan kesan bintang bertaburan di Jakarta. Bukankah pada saat malam harilah, Jakarta lebih sepi. Bebas ‘macet’ kan. Dan ini bisa juga digunakan oleh kota-kota di Indonesia loch. Saya rasa masih belum ada istilah night tour.

Jika nilai wisata di Indonesia berubah lebih baik dari sisi manapun, mungkin kita bisa sedikit merubah semboyannya menjadi “The Queen of Asian” itu menurut Mas Ronny. Atau bisa menjadi “Asian star” ini menurut saya hehe…

Tapi bila masih ada masalah seperti tidak aman dan itu menghabiskan banyak energy listrik?!

Benar. Bila egois, memang pasti akan sangat berbahaya. Kalau begitu kita tidak akan sama sekali ada perubahan dan tidak dapat belajar dari orang lain.

Kita masih akan sama seperti tahun lalu, tahun ini dan tahun depan.

–Maaf bila ada keegoisan dalam sharing saya kali ini. (IP)

This is it

26 Jul

Setelah beberapa waktu yang lalu saya mengangkat cerita tentang Aturan Dibuat Untuk Dilanggar, kini (26/7) Pemandangan menunjukkan adanya perubahan dari lokasi tersebut. Entah apa yang membuta suasana tersebut berubah?!

Sempat terlintas di pikiran saya, kalau tulisan saya yang beberapa waktu lalu saya publikasikan tersebut telah terbaca oleh salah seorang pihak yang berkenaan atau mengetahui lokasi tersebut. Yah, kalaupun pikiran saya salah, saya tetap bersyukur karena ada perubahan ke arah positif dari lokasi tersebut.

Saya berharap perubahaan ini tidak bersifat sementara saja. Kemudian saya juga mengharapkan dari semua pihak untuk dapat bekerja sama dalam mengubah tatanan dan aturan dari dan untuk negara kita ‘Indonesia’.

Terima kasih atas perubahaannya. (IP)

 

 

 

Aturan Dibuat Untuk Dilanggar

20 Jul

Pagi ini (20/7) cuaca sangat pas di tubuh saya, tidak dingin dan tidak panas atau setidaknya tidak membuat tubuh saya basah oleh keringat seperti hari-hari biasanya ketika saya berangkat ke kantor. Cuaca ini seolah-olah mewakili alam semesta yang ikut serta bergembira menyambut datangnya Bulan yang penuh dengan Rahmat bagi umat Muslim sedunia, yaitu Bulan Ramadhan.

Akan tetapi tetap selalu ada orang-orang yang tidak ikut serta mendukung kebahagiaan yang saya rasakan pagi ini. Saya tidak membenci mereka ataupun dendam dengan mereka karena telah berhasil membuat kebahagiaan saya rusak dalam beberapa saat setelah kedatangan mereka.

Saat itu saya sedang asik berjalan menuju kantor dengan jam keberangkatan yang sama seperti biasanya dan headset di telinga serta iringan musik di dalamnya. Di perjalanan saya banyak melewati area yang sudah pasti sering saya lewati sebelumnya. Tapi kali ini ada satu area yang membuat saya mendapatkan suasana yang berbeda. Saya  tercengang karenanya.

Kendaraan mewah tampak berjalan menuju saya. Dengan mengikuti arah kendaraan itu saya mulai mengeluarkan ekspresi yang tentunya sangat jelek untuk dilihat. Saya mengerutkan dahi, kemudian sedikit memiringkan kepala saya ke arah kiri bahkan saya menghentikan langkah saya saat itu juga. Menarik nafas dan segera membuangnya kembali. Sepertinya ada yang salah dengan mobil tersebut. Apa ya?

Kembali saya melanjutkan perjalanan yang hanya tinggal beberapa meter saja dari meja saya bekerja. Dengan heran saya kembali membalik tubuh saya untuk menghadap ke mobil tadi. Memikirkan apa yang salah dengan mobil mewah tersebut. Ahh.. (akhirnya saya mendapatkan titik terang). Mobil itu berhenti ditempat yang tidak sepantasnya dengan keadaan saat itu.

Mobil berhenti di tengah-tengah area penyebrangan atau di sekitar area putar kendaraan (Turn-U). Bukankah itu salah?

Saat itu saya langsung menghentikan kembali langkah saya. Bukan untuk menghampiri mobil tersebut, saya justru mengambil kamera saya dan memotretnya.

Masih terdiam dan terpana dengan kendaraan tersebut. Kemudian saya menunggu siapa dibalik mobil mewah tersebut. Oho… ternyata seorang lelaki dengan kemeja putih bergaris dengan postur tubuh yang berisi dan sepatu yang mengkilap keluar dari dalam mobil tersebut.

Keadaan seperti ini sebenarnya sering sekali terjadi di Indonesia. Aturan yang dibuat bukan untuk dipatuhi. Selama tidak ada yang menegur tentunya masyarakat Indonesia berpikir kalau aturan itu bisa dilanggar. Tentunya ini adalah bagian dari kebiasaan masyarakat Indonesia yang kemudian menjadi budaya buruk bagi Negara.

Sepadat itukah kandaraan di Indonesia hingga tidak ada tempat yang lebih layak sebagai tempat pemberhentian? jika demikian, mengapa tidak dibatasi saja kendaraan di Indonesia atau sekalian saja dinaikan pajak kendaraan dengan setinggi-tingginya.

Di media dan di pemerintahan tentunya isu ini sudah sering dibahas. Tapi kalau hanya dibahas ya percuma saja. Saya pribadi menunggu tindakannya. Masyarakat sebenarnya menunggu kebijakan dari pemerintah.

Saya bukan bermaksud menaikkan rate pribadi saya. Saat kejadiaan tersebut saya juga tidak berbuat banyak yang setidaknya dapat dinilai baik dalam hal ini.

Saya hanya ingin mengungkapkan bahwa sangat sulit mengubah suatu kebiasaan. Karena sebuah kebiasaan itu pasti memiliki nilainya. Sedangkan nilainya sendiri dapat ditentukan oleh diri kita masing-masing atau justru oleh orang lain atau lingkungan.

Perubahan dapat dilakukan bukan karena adanya dorongan dari orang lain melainkan dari diri kita sendiri. (IP)

Hak Cipta vs Hak Milik : Budaya Indonesia

29 Jun

Perbincangan hangat (25/6) yang lalu, telah melibatkan dua manusia dengan style dan pemahaman yang berbeda. Perbincangan tersebut seolah-olah membawa kami kedalam suasana komentator yang sudah profesional. Tidak, kami bukanlah seorang yang telah profesional, kami hanya dua wanita yang sedang menikmati santap makan siang yang diselingi dengan perbincangan yang tentunya sedang marak dibicarakan.

Saat ini banyak pemberitaan di pertelevisian Indonesia mengangkat tema Budaya Indonesia. Sekali lagi dan entah kapan akan berakhir, Budaya Indonesia mendapat cobaan. Kembali terulang pada masalah yang sama, Budaya Indonesia dikabarkan akan diklaim sebagai Budaya Negara Tetangga. Dengan adanya pemberitaan ini, secara pribadi saya meyakini bahwa ternyata Budaya Indonesia ini sangat kaya dan beragam sehingga banyak menarik perhatian Negara lain untuk turut serta dalam membudayakannya di Negara mereka sendiri.

Lalu, Apakah ini salah Budaya tersebut?

Tidak, sangat tidak mungkin Budaya salah. Budaya adalah sebuah hasil karya seni yang menjadi kebiasaan di dalam garis kehidupan masyarakatnya. Budaya hanya bersaing dalam tingkat kualitas di mata msyarakat yang paling berkesan maka dialah pemenangnya. Akan tetapi perlu banyak dukungan dari pihak-pihak terkait baik dari masyarakat, pemerintah dan hukum dimana budaya itu berada.

Kiat-kiat apa saja yang seharusnya kita lakukan untuk Budaya Indonesia?

Seperti sebelumnya saya menyebutkan bahwa perlu ada banyak dukungan dari pihak luar dalam hal ini. Membudayakan Budaya Indonesia tentunya tidaklah mudah ditambah lagi telah banyaknya budaya lain yang berhasil mencuri perhatian masyarakat karena kesesuaiannya dengan era globalisasi ini. Untuk itulah kita sebagai masyarakat yang peduli perlu ada tindakan tegas untuk Budaya sendiri. “Mencontoh itu boleh akan tetapi bukan untuk di Jiplak/Plagiarism“. Mencontoh bagaimana Negara lain mempelajari dan membudayakan Budaya mereka.

Saya beserta teman berinisial PH berhasil memberikan sedikit komentar mengenai masalah ini. Ditemani dengan santap makan siang kami mencoba menggaris bawahi hal-hal apa saja yang sebaiknya diperbaiki ataupun diperhatikan. Sekali lagi saya katakan bahwa kami bukanlah orang yang perofesional dalam bidang ini. Akan tetapi inilah kami, yang hanya sebatas penikmat Budaya dan hanya mampu memberikan saran yang kami rasa cukup menarik jika dilakukan.

Pemerintah Indonesia, dukungan terbesar ada ditangan mereka yang memang terpilih dan memiliki kedudukan dalam Budaya dan Negara Indonesia. Dukungan telah terlihat dengan secara khusus pemerintah Indonesia membentuk Departemen Budaya yang memang diperuntukkan bagi pembudayaan Budaya Indonesia. Biaya yang dikeluarkan juga tidak tanggung-tanggung bahkan sumber daya manusia juga telah banyak digunakan untuk membudayakannya.

Memang benar bahwa pemerintah telah bergerak dalam membudayakan. Tapi mengapa tidak tampak dimasyarakat, bahkan cenderung tidak terlihat bahwa ada pergerakan dalam budaya Indonesia. Sebenarnya saya dan rekan saya meyakini bahwa Budaya Insonesia telah banyak mencuri perhatian negara Asing untuk mempelajarinya. Tapi kenapa hanya negara Asing, negara sendiri mengapa tidak ada dukungan untuk mencuri penhatian mata masyarakat Indonesia terlebih dahulu. Jadi ini perlu adanya gebrekan baru didalam pengpublikasian.

Publikasi, dukungan yang juga menjadi perantara antara masyakat dan budaya adalah bagaimana mempublikasikannya. Beberapa waktu belakangan saya telah banyak menyimak pertelevisian Indonesia yang menghadirkan dan membahas mengenai Budaya Indonesia. Itu sangat baik sekali, dengan kemasan yang lebih menarik, maka lambat tahun Budaya Indonesia akan semakin kaya dan kreatif. Tapi kalau hanya berupa berita dan talkshow, maka itu akan sia-sia. Mengapa tidak dijadikan musiman? kita buat musiman di dalam pertelevisisan Indonesia. Akan tetapi ini memerlukan kerjasama dan kesepakatan dalam pelaksanaannya.

Indonesia terkenal dengan sinetron yang tidak jarang dibuat hingga tanpa ending. Bagaimana kalau kita buat menjadi beberapa cerita yang mengangkat tentang budaya. Misalnya kita buat menjadi drama yang terdiri dari maksimal 11 episode dan hanya tanyang 2 kali dalam seminggu dan perlu maksimal 2 jam beserta iklan. Otomatis drama tersebut membutuhkan setidaknya 2,5 bulan untuk tamat. Dalam seminggu terdapat 7 hari maka setidaknya kita memiliki 3 jenis drama yang berbeda. 2,5 bulan yang diperlukan bukankah menjadi angka musiman dalam satu tahun. Selain perfilman indonesia menjadi kaya jenis Film, tingkat persaingan antar produser juga akan lebih terasa karena mereka akan mengusahakan cerita akan tamat dengan ending yang maksimal bukan menggantung dan tidak terarah.

Dukungan ini merupakan media publikasi yang saya rasa sangat baik dan mudah disampaikan ke otak masyarakat secara visual. Dimana masyarakat Indonesia masih mudah menangkap ide yang berbau romantis, comedy dan pengetahuan. Sekaligus menjadi media yang juga dapat dinikmati oleh orang asing. Bukankah ini menguntungkan?

Hukum, semua yang saya paparkan diatas perlu juga dukungan dari Negara melalui badan hukum. Ketegasan dan kejelasan digambarkan melalui hukum sehingga tidak ada penyalahgunaan taupun menyimpangan baik Budaya Indonesia ataupun pengpublikasiannya.

Barulah imbas yang akan terpengaruh dari hasil jerih payah tersebut adalah pemahaman masyarakat atas pentingnya Budaya.

We can be something from anything” dan “Terkadang kita perlu JATUH dulu untuk mengetahui arti BERDIRI dengan KUAT”. (IP)