Archive | Drama RSS feed for this section

Learn from DramaTV: The Queen Classroom

16 Aug

Memang terdengar sangat menyedihkan apabila karakter dalam sebuah drama TV adalah sebuah kenyataan. Tapi peristiwa didalam sebuah drama TV biasanya mengadung setidaknya 15% hal nyata. Mengapa aku dapat mengatakan demikian?! Bukan karena aku sudah melakukan sebuah penelitian khusus, namun lebih kurang itu sebuah feeling semata. Salah bila aku berfikir demikian?!. Tidak.

Menurutku tidak akan jadi sebuah drama TV yang baik kalau tidak bisa menyampaikan apa yang juga dirasakan oleh penulisnya. Itulah mengapa sebuah drama TV biasanya mengandung hal yang nyata. Atau sebaliknya, biasanya sikap penonton akan menirukan apa yang mereka lihat, salah satunya drama TV. Dan ini juga dapat membuat drama TV menjadi nyata dikemudian hari. Bukankah kita tidak akan percaya bahwa “Ibu Tiri” itu biasannya jahat kalau bukan dari drama TV “Cinderella”. Padahal tidak semua Ibu Tiri itu jahat, tapi memang ada beberapa kasus Ibu Tiri yang memiliki kejutan.

Kali ini aku akan sedikit mengulas cerita dari sebuah Drama TV Korea tahun 2013 berjudul The Queen Classroom. Sebenarnya drama TV ini adalah drama recycle dari drama TV Jepang tahun 2005 dengan judul yang sama persis. Mungkin perbedaannya adalah budaya dan suasana yang menjadi sedikit lebih modern. Ini kisah anak sekolah yang masih ingin mencari kesenangan dunia dan dalam proses pencarian jati diri. Kisah siswa kelas 6 SD yang akan memulai perjalanan baru yang dirasa akan lebih rumit pasca kelulusannya. Ide cerita sebenarnya cukup sederhana.

Sikap Diskriminasi.

Benar, sikap diskriminasi sebenarnya adalah hal yang lumrah terjadi dalam kehidupan serumit apapun. Bahkan bisa juga menimpa dirimu dalam keluargamu sendiri. Karena sikap diskriminasi akan muncul disaat seseorang mulai membandingkan antar satu dan lainnya. Namun drama TV ini menjadi menarik karena pelaku diskriminasi adalah seorang siswa dan korban adalah siswa lainnya. Belum lagi situasi diskriminasi yang dilakukan dapat mengakibatkan hilangnya nyawa orang lain. Sikap diskriminasi oleh dan kepada siswa yang seharusnya dunia mereka masih dipenuhi dengan kebahagiaan dan permainan. Ini tidak benar, bukan?

Drama TV ini baik untuk seorang guru yang memiliki pendirian kuat dan benar-benar ingin dianggap sebagai pahlawan tanpa jasa. Seorang guru seharusnya berhasil mendidik siswa bukan hanya dari hal-hal dapat dinilai dengan kasat mata melainkan juga berhasil mendidik siswa sehingga menghasilkan sebuah ketulusan dan penilaian dari hati. Menjadi seorang guru yang pintar dan baik tentunya dapat dilakukan oleh banyak orang namun menjadi Guru yang menginggalkan kesan Istimewa bagi siswa sehingga siswa itu berani berlari disaat sang guru membutuhkannya, aku rasa itu akan cukup sulit.

Dalam ceritanya, pembelajaran yang diberikan tidak hanya tampak dari sisi siswa namun juga dari sisi guru. Siswa yang baik seharusnya mampu membedakan dari sisi mana seorang guru dapat dinilai baik atau jahat. Jangan takut untuk bertanya dan mencari tau pokok permasalahannya. Karena sekolah bukan hanya sekedar –Guru memberikan masalah dan Siswa yang menyelesaikannya. Ada sebuah alasan, mengapa seorang guru bersikap demikian dihadapanmu, ‘mungkin’. Dan cobalah untuk positive thinking. (IP)

Berikut kutipan dari seorang siswa dalam drama TV The Queen Classroom:

Bukannya aku tidak percaya pada mimpi yang tidak mungkin.

Aku percaya pada kemungkinannya.

Guru hanya membimbing. Anak-anak yang menemukan jalannya sendiri, merubah hidup mereka dan dunianya untuk hidup yang lebih baik.

Mendapatkan kampus yang bagus dan pekerjaan yang bagus tidak bisa menjadi tujuan.

Ujian atau nilai bukan segalanya.

Percayailah apa yang kamu percayai.

Tidak masalah melakukan kesalahan. Tidak masalah jika gagal.

Saat aku bahagia, temanku juga harus bahagia.

Anggaplah dirimu berharga, dan anggaplah temanmu juga berharga, jadi kau bisa hidup bahagia hari ini bersama teman-temanmu.

Harapan: Industri Penyiaran di Indonesia

12 Jul

 

Negara Indonesia, di dalam dunia pertelevisian terkenal dengan sinetron yang dramatis. Banyak rekan-rekan saya yang memiliki komentar yang sama jika ditanya mengenai sinetron yang paling berkesan bagi mereka. Secara pribadi saya ingin mengungkapkan pemikiran saya mengenai pertelevisian Indonesia, tujuannya tidak lain hanya berharap bahwa suatu saat nanti Industri Penyiaran di Indonesia menjadi lebih baik lagi.

Menurut saya, mungkin dapat dikatakan perterlevisian Indonesia mulai berubah sejak banyaknya stasiun TV swasta yang membentangkan sayapnya untuk berani bersaing dengan TV lokal dengan tujuan memperkaya jenis informasi yang dapat disampaikan ke masyarakat. Ini baik menurut saya, sehingga dapat menggali kreativitas masyarakat Indonesia itu sendiri. Tapi semakin lama, saya pribadi merasa jenuh dengan cara yang dilakukan penyiaran tersebut. Saya jenuh bukan terhadap acaranya tetapi kejenuhan itu muncul ketika acara dibuat menjadi ngawur ngidul. Tidak perlu berbasa basi lagi, secara terang-terangan saya akan mencoba membahas apa yang menjadi komentar saya terhadap penyiaran di TV.

Sinetron , Indonesia yang mayoritas penggemar sinetron tentunya sangat menarik perhatiaan saya saat ini. Saya tidak mengatakan kalau sinetron di Indonesia itu buruk akan tetapi terkadang kurang mengerti maksud dari pembuatan sinetron tersebut. Pernah saya mendapatkan kesempatan ngobrol dengan salah satu manajer stasiun TV Swasta di Indonesia. Dalam hal ini saya menanyakan secara langsung mengenai apa yang saya kurang mengerti tersebut. Dan ternyata jawabannya sangat menarik perhatian saya, beliau mengatakan bahwa “Terkadang sinetron yang dibuat memang hanya untuk membuat masyarakat menjadi senang saja, alur cerita dibuat banyak mengandung komedi. Lagipula dilihat dari kondisi Indonesia saat ini banyak yang berpandangan bahwa cerita yang mengandung cerita cinta, komedi, sex, dan horor akan lebih menjual di mata masyarakat Indonesia yang masih mempercayai banyak mitos. Memang jika diperhatian terutama dari sudut pemikiran mahasiswa, tentunya jenis film atau sinetron yang seperti itu kuranglah mendidik. Tapi yang menjadi target para pertelevisiaan adalah Rating perusahaan karena tidak dapat dipungkiri bahwa kami juga membutuhkan biaya untuk terus mendukung pertelevisian Indonesia.”

Terkesima dengan penjelasan tersebut saya dengan santai kembali bertanya mengenai kebenaran akan adanya kemungkinan bahwa sinetron cenderung tidak akan tamat dengan akhir yang jelas. Dan lagi-lagi beliau menjelaskan dengan gamblangnya dihadapan saya. “Awalnya suatu sinetron dibuat pasti memiliki akhir, akan tetapi rate sinetron itulah yang menentukan kapan sinetron akan diakhiri oleh perusahaan tersebut. Semakin tinggi rate, kemungkinan sinetron akan semakin panjang. Dan tidak dapat dipungkiri bahwa itu juga didukung oleh artis yang memerankannya. maksudnya, ada beberapa artis yang memang konsisten dengan kontrak yang dibuat yang tidak memperhatikan apakah rate naik atau turun sehingga terkadang cerita yang diperankannya mendapat kesan yang berbeda dimata masyarakat. Misalnya kita sebut Agnes M., dia salah satu artis yang menghargai kontrak yang dibuat. sehingga kalau kita perhatian dia sangat jarang tampil di TV untuk bermain di sinetron Indonesia. ataupun kalau dia main, cerita/sinetron yang dimainkannya pasti akan tamat.”

Kembali berfikir, ternyata ketegasan dari artis juga dapat mendukung akan adanya perubahan di pertelevisian Indonesia. Lalu saya bertanya mengenai bagaimana cara perusahaan mengetahui rate acaranya. Dan ternyata sangat mudah, yaitu bahwa di setiap perusahaan pertelevisian memiliki jaringan sendiri yang dapat dideteksi oleh suatu alat signal, yang nantinya kan menghasilkan sebuah grafik, dan rate terhadap acara merekapun dapat terlihat disana (seberapa banyak orang yang melihat acara mereka).

Jadi dengan melihat kondisi yang seperti ini, saya sempat geleng-geleng kepala. Sepertinya cukup sulit untuk mengharapkan adanya perubahan yang sangat signifikan pada pertelevisiaan Indonesia jika perusahaan masih memikirkan uang dan rate dan artis yang juga memikirkan uang dan pekerjaan. Memang manusia sedikit sulit terlepas dari belenggu yang namanya uang.

Padahal saya banyak berharap dari pertelevisian di Indonesia yang sesungguhnya melalui media inilah semua jenis ilmu dapat tersampaikan. beberapa harapan saya terhadap pertelevisian Indonesia:

  1. Terhadap acara Sinetron/Film/FTV/Laga/Drama, kerapnya dapat dijadwalkan dengan teratur dan baik. Bayangkan saja jika dalam 1 minggu saya menonton TV dengan cerita/alur/pemeran yang selalu sama (bahkan saya suka berprasangka kalau cerita ini tidak akan tamat dengan akhir yang memuaskan). Saya rasa saya akan Bosan! dan saya juga meyakini kalau saya lebih memilih mematikan TV. Terjadwal maksud saya disini bukan masalah setiap harinya. tapi lihat jam-jamnya, masa, sudah juduknya sinetron, dalam 1 hari main 2 kali (sore-malam), selama 2,5 jam atau lebih…emmm saya yakin saya akan benar-benar tertawa melihat pertelevisian Indonesia. Mungkin akan lebih baik jika ditayangin hanya 3 hari atau maksimal 5 hari (jangan sampai 1 minggu sinetron itu melulu). Dimainkan maksimal 2 jam. Ide cerita yang tidak monoton. Arah cerita menunjukan kalau sinetrin ini akan tamat dengan mulus.
  2. Kalau bisa Pemerannya disesuaikan dengan usianya atau penampilannya. Saya sering geleng-geleng kepala kembali kalau melihat artis yang berperan sebagai anak kuliahan atau sudah bekerja atau justru sudah menikah padahal artis ini sendiri masih anak SMP/SMA. Masuk logika kah? Apa tujuan kalian memutuskan karekter/pemeran yang seperti itu?. Sangat lucu kalau sinetron Indonesia ditonton oleh orang-orang asing ‘saya fikir ya’.
  3. Yang paling saya bingung itu, kenapa saya melihat orang-orang yang berperan di sinetron itu selalu tampak fashionable ya? cantik sekali? tidakkah itu aneh?.Mendadak orangnya sudah ada saja dilokasi? datang dari mana?. Yang seperti ini, sebenarnya salah yang bikin skenario atau kameramen atau pengarahnya atau artisnya? lebih gak masuk logika kan. Padahal saya sangat yakin kalau mereka adalah orang-orang yang sudah profesional dibidang tersebut.
  4. Jujur, saya sarankan lebih baik perbanyaklah informasi mengenai standard drama-drama di negara luar. Mungkin bisa dipelajari, maksud saya ini seperti apa.

yah, sepertinya hanya ini dulu yang bisa saya komentari. Sekali lagi saya katakan kembali bahwa saya bukanlah orang yang profesional dibidang ini. saya hanya penikmat sarana yang diberikan oleh negara. Dan saya berharap artikel atau komentar saya ini dapat memperbaiki atau memberikan efek positif bagi pembacanya.

Sesuatu yang dikerjakan dengan sepenuh hati pasti akan menuai keberhasilan“.  (IP)