Archive | General RSS feed for this section

Andai Indonesia Sadar?!

24 May

Sering kali kita berandai-andai tanpa ada tindakan dan dukungan.

Kali ini saya berandai-andai berdasarkan padangan saya terhadap lingkungan saya dan beberapa merupakan input dari rekan dekat saya.

Beberapa hari lalu saya ngobrol bareng dengan rekan, membahas mengenai gossip Hamish dan Raisa. Banyak yang berkomentar patahati baik dari sudut padang laki-laki maupun perempuan. Bukan itu yang akan saya bahas, melainnya perjalanan Hamish saat pertama kali menjadi host di My Trip My Adventure, TransTV. Kembali ke sudut pandang saya saat itu, jujur saya bangga dan acungkan jempol saya kepada para staf TransTV yang meng-create acara TV show se-spectakuler itu. Saya pengikut dan penggemar berat beberapa acara besar dari Korea Selatan seperti 1N2D, RM, RS, Fantastic Duo, dll. Jadi kerap kali saya membandingkan acara yang ditayangkan di TV.

Bukan bermaksud buruk, ini menurut saya terkait MTMA saat pertama kali tayang:

  1. Host-nya total dan “good looking”.
  2. Ide untuk keliling Indonesia, sembari mempromosikan adat istiadat daerah dan keindahanya.
  3. Cara pengambilan gambar yang sangat baik.
  4. Editor dan transkrip yang sangat baik.
  5. Waktu yang konsisten (tidak diperpanjang-panjang) dan tidak bertele-tele.
  6. *pokoknya saat jaman Hamish, Denisumargo, Nadine, Vicky, yang menjadi host saya -Solute-

Yang saya sayangkan saat itu adalah Tidak Ada Dukungan Dari Pemerintah untuk acara sebagus ini. Maksudnya apa? saya saat itu rutin menonton acara MTMA dimana hanya tayang setiap Minggu selama 1 Jam. Setiap usai saya selalu membaca credit title MTMA, yang mau saya cari tau adalah SPONSOR utama. betapa kecewanya saya selama 2 minggu pertama saya pantau tidak ada Logo Pemerintah -Pariwisata Indonesia- dengan slogan mereka “Wonderful Indonesia “. Yang ada dikepala saya, Kenapa tidak ada dukungan dari pemerintah? apakah TransTV yang tidak mengajukan sponsor atau pariwisata yang tidak tau?

At the end, setelah 1-2 bulan acara MTMA ada, dan host semakin banyak, saya melihat Sponsor yang saya cari-cari itu. Tidak hanya di bagian credit title, Wonderful Indonesia juga tampil di opening dan beberpa produk (kaos) yang digunakan host. GREAT! Bayangkan jika yang menonton MTMA adalah orang luar negeri. Sama seperti saya yang menonton 1N2D dari TV online saja yang pada akhirnya mencintai dan ingin tau banyak tentang Korea Selatan.

Lambat, Kurang Perhatian, Kurang Sadar, ini menurut saya terhadap Pemerintah Indonesia dan Penduduknya (ini artinya termasuk saya).

Andai Indonesia Sadar?

  1. Pemerintah secara detail membuat tim sendiri yang tugasnya mengawasi linkungan. Bukan seperti Polisi atau Tentara. Yang saya maksud adalah mereka akan menangkap semua informasi terkini tentang Indonesia secara positif dan inovatif dengan tujuan mempromosikan Indonesia.
  2. Pemerintah tegas terhadap peraturan. saya melihat TV itu tidak ada kontrol, dan terkadang saya mengaggap isinya seperti “Sampah” tidak mendidik saya. Secara jaman sekarang informsai sudah bisa kami dapatkan hanya dengan sebuah tombol. Saya sering membahas ini, apa yang seharusnya dilakukan agar tayangan di indonesia lebih teratur. Filter seperti apa yang seharusnya dilakukan.
  3. Indonesia itu kaya akan Adat Istiadat dan Budaya. Ini merupakan nilai jual yang sangat tinggi.
  4. Indonesia itu punya banyak innovator. Pemuda pemudi jika diberikan kesempatan dan ruang, saya yakin Indonesia akan terkenal jauh dibandingkan Korea Selatan. Jika bingung maksud saya, ini contohnya: Jika saat ini acara TV itu jelek semua dan banyak yang bersifat copy karena scriptwriter yang sudah kehabisan Ide, maka lakukan intern scriptwriter atau sekalian open scriptwriter tujuannya untuk melihat ide-de dari orang lain, meskipun bukan keahliannya. Yang mahal itu idenya, setelah memperoleh ide dan sepakat visi misi, bisa saja intern/open scriptwriter tsbt hanya berfungsi sebagai second scriptwriter atau bisa saja hanya membeli idenya. Next-nya seharusnya sudah paham dong. Yang susah dicari itu Idenya.
  5. Kita itu sering kali hanya melihat kelemahan dan kekurangan Indonesia saja, sehingga tidak pernah mau speak-up dan sering kali hanya ngikut. Atau sekalinya berteriak, malah memalukan negara, heboh, hingga anarkis. Tidak main cerdas.
  6. Kita itu egois, hanya mementingkan lingkungan kecil saja. melihatnya hanya jarak pendek bukan jarak panjang.
  7. Kita itu tidak konsisten dan mudah dipengaruhi. Bodoh.
  8. Kita itu tidak mau rugi sejenak atau mau mencoba hal baru atau tidak mau ambil resiko. Cobalah belajar dari Korea Selatan, yang saat ini mereka berani Speak-up meskipun masih perang dengan Korea Utara. Saya ingat dengan quote acara Hitam Putih “Kita itu tidak berani ambil resiko, padahal belum tentu yang beresiko itu buruk, bisa jadi itu adalah awal dari kebaikan” yang panjang.

Ya mungkin banyak lagi yang bisa dilakukan oleh kita khususnya Pemerintah.

Kami hanya bisa berharap padamu dan berandai “Andai Indonesia Sadar?!” (ip)

Bunga Tidur

2 Feb

Bunga tidur itu apa?

Impian, harapan, kenangan, kebahagiaan, kekecewaan, ketakutan …

Tidak semua orang bisa mengingat mimpinya untuk satu malam. beruntunglah dimana kita dapat mengingatnya saat kita membuka mata. mengapa? karena alam bawah sadar kita saat tertidur dan bangun kembali memiliki dimensi yang berbeda.

Aku sendiri tipe orang yang jarang bermimpi ataupun dapat mengingat mimpiku. ada, mungkin beberapa mimpi yang bisa aku ingat salah satunya mimpi ini.

Harapan dan doa itu selalu beriringan. sama halnya harapanku dengan usiakun saat ini sebagai seorang wanita. melengkapi kewajiban sebagai anak. benar? menikah. Aku bukan bermimpi menikah. mimpiku adalah menemukan orang yang tepat yang berani mengambil langkah bersamaku.

Di dalam mimpiku, dia seorang yang baik dan tulus. Dia lebih tinggi dariku. Dia memiliki bahu yang nyaman bila aku bersandar padanya. Dia memiliki orang yang harus dia jaga dengan keterbatasan kemampuan. Dia menerimaku dengan senyumnya. Dia membuka lengannya untuk kekuranganku. Dia merangkulku saat aku  benar-benar membutuhkan orang lain.

Ini mimpi, jadi besar kemungkinan bagian penting lainnya sudah aku lupakan saat aku terbangun. Tapi hangat suasana dan rasa nyaman yang diberikan dia dalam mimpi membuatku bahagia menyamput hariku hari itu.

Mimpi dimana membuatku juga menerima dia dan membuka hatiku untuknya. yang aku rasakan pada saat itu adalah aku tidak menyukainya karena orangtuaku. dalam mimpiku, tidak ada pernikahan yang diapksakan seperti drama-drama. saat itu sepertinya dia sudah lama berada disisiku namun aku hanya menganggapnya sebagai orang lain. keberadaannya saat itu membuatku sadar kalau aku juga perlu bahagia dengan caraku sendiri. Dia yang berani berjanji akan membahagiakan orangtuaku.

Aku ingat dimana dia membawaku dengan motornya. Aku yang tidak mau menyentuhnya meski hanya sekedar untuk keamananku saat dibonceng dia. yang akhirnya dia mengatakan sesuatu hal yang membuatku menangis tersedu-sedu. perkataannya membuat tanganku mengulur dengan mudahnya untuk memeluknya dari belakang dan menangis sejadi-jadinya di bahunya. membuatku mengatakan “iya aku mau bahagia”.

Entar bagaimana dia membawaku kesebuah rumah. dalam bayang-bayang ada yang mengatakan itu akan menjadi rumahmu. tapi aneh, rumah itu saat ini adalah warung yang ditempati oleh seorang ibu-ibu lanjut usia yang sangat kejam. ibu itu tidak suka dengan keberadaanku. lalu ada seorang anak bertubuh tinggi, namun kembali ada yang berbisik mengatakan anak itu adalah anak ‘dia’ yang memiliki latar belakang yang berbeda dengan anak-anak lainnya. anak itu tinggi namun tingkahnya benar-benar seperti anak usia 7 tahun. anak itu marah saat ibu itu memarahiku yang aku sendiri tidak tau alasannya. untuk menenangkan anak itu, aku menariknya dengan memeluknya dan mengelus dadanya dari belakang. dan anak itu menangis di bahuku karena dia tidak suka ada orang berteriak padaku. saat itu aku tidak tau persis dimana ‘dia’ tapi aku melihatnya tersenyum.

Ini mimpi jadi jelas semua wajah yang ada dimimpiku tidak ada yang aku ingat. tapi sikap ‘dia’ dan anak laki-laki itu membuatku sangat nyaman bangun di pagi hari itu. Mimpi yang membuatku ingin selalu memimpikan mereka kembali dan melihat akhir ceritanya. Mimpu di rabu (1/2)

Kemana Para Atlet Indonesia

24 Jan

Kerja keras yang tidak terlihat

Usaha yang tidak dihargai

Mimpi yang tidak pernah tercapai

Senin (23/1) saya bersama salah seorang rekan kerja ngobrol bareng. Awalnya hanya membahas mengenai tawaran beliau untuk saya mulai rajin olahraga. Selain untuk kesehatan juga manambah kemampuan dan minat saya sejak SMP terhadap badminton. Benar, saya sangat menyukai badminton. Sepertinya dari semua olahraga, badmintonlah yang pertama mencuri perhatian saya mungkin karena saya tinggal di kota kecil jadi permainan yang paling mudah dimainkan dan sedikit keren hanya badminton.

Apa yang kami obrolin sehingga tiga kalimat saya quote pada tulisan saya ini.

Awalnya saya hanya menanyakan terkait atlet badminton saat ini. saya mengungkapkan bahwa kenapa piala sudirman menjadi sangat sulit kita raih ya? mengapa para pemain badminton di Indonesia (sorry) hanya itu-itu saja ya? emang masa para pemain badminton itu sampai usia berapa seharusnya?

rekan kerja yang biasa saya panggil ayah tersebuh hanya merespon dengan senyuman. hingga akhirnya saya memancing beliau untuk lebih banyak mengungkapkan pengalaman beliau terkait ‘keluh kesah’ saya terhadap para atlet badminton.

Dan dari percakapan tsb saya dapat menyimpulkan bahwa sistem kepemimpinan untuk olahraga badminton di Indonesia saat ini sangat buruk! mengapa?

saya sudah lama menyadari mengapa pada atlet badminton yang biasanya berangkat mewakili nama Indonesia hanya berasal dari club itu itu saja. Menurut saya sendiri berdasarkan pandangan saya terhadap cara main para atlet senior seperti taufik didayat sudah tidak bisa dipertanyakan lagi. dulu saya hanya menganggap jika taufik kalah itu hanya 2 penyebabnya dia gugup jadi hilang kontrol atau dia sedang tidak enak badan. kalau saya perhatikan, bola bola taufik jauh lebih baik daripada lawan bertahannya li chong wei.

selain taufik saya juga memperhatikan para pemain lainnya (sorry) yang dapat saya bilang ‘payah’ seperti mereka tidak pernah serius bermain, masih labil, kadang saya berfikir senior saya jauh lebih baik mainnya dari pada mereka.

masih ingat dengan kasus atlet badminton Indonesia yang didiskualifikasi karena tidak sportif yang mengakibatkan dia tidak dapat main untuk beberapa pertandingan (?) saya pikir mereka benar-benar akan di-take-out dari daftar atlet badminton dan memberikan kesempatan kepada atlet lainnya yang mungkin jauh lebih sportif daripada mereka. saya kurang paham masalah ini apakah disebabkan pelatih atau atletnya (?) tapi yang saya percaya adalah “saya sendiri yang dapat memutuskan apa yang akan saya pilih sebagai langkah saya di kemudian hari bukan orang lain”, jadi berdasarkan prinsip saya itu saya akan memberikan nilai 0 (nol besar) kepada atlet yang tidak sportif padahal membawa nama besar Indonesia di pundak mereka. bukankah itu artinya mereka tidak siap disebut dengan atlet?

saya juga bertanya tentang apakah benar se-indonesia ini tidak ada atlet yang bisa kita perjuangkan ataupun tampil membawa nama Indonesia?

Ayah mengatakan ‘banyak’ namun sepertinya sulit untuk dipilih. Alasan yang dikemukakan sangat membuat hati ini miris. Apakah masih ada main belakang dan senioritas padalah mereka yang melakukan seleksi adalah juga pada atlet dan pelatih untuk nama baik Indonesia. Demi piala yang sudah tidak pernah balik kerumahnya lagi.

miris sekali bila hingga saat ini pada pemimpin ataupun sistem kepemimpinan olahraga di Indonesia belum berani pasang badan dan menggunakan kacamata kuda untuk mendapatkan kembali piala dan nama baik Indonesia.

Sebagai tambahan untuk mereka yang bergerak di bidang olahraga: mengapa saat di Olimpiade Rio 2016, Indonesia hanya memfokuskan pada badminton? atlet lainnya bagaimana? mengapa Indonesia hanya mengirimkan segelintir atlet tidak seperti negara lainnya yang mengirimkan banyak atlet untuk berbagai bidang lomba? tidakah memikirkan peluangnya?

saya kaget saat tiba-tiba banyak iklan yang menyebutkan akan memberikan hadiah bermiliar-miliar untuk yang berasil memperoleh medali di Olimpiade Rio 2016. lalu yang tidak membawa medali apapun bagaiman? apakah tidak mendapatkan royalti? Mengapa uang sebesar itu tidak digunakan untuk menambah kontingen Indonesia saja. Hadiah boleh diberikan, saya rasa ratusan juta sudah cukup karena mereka atlet yang membawa nama baik Indonesia. saya yakin mereka akan mendapatkan banyak royalti dan keuntungan lainnya jika media kita bisa dengan benar memasarkan mereka.

Saya menganggap kepemimpinan seperti ini adalah kepemimpinan yang masih plinplan. tidak berani ambil resiko dan peluang. Saya juga tidak tau seberapa kaya atau miskinnya Indonesia ini.

Atlet lainnya yang saya harap tidak disia-siakan adalah Rio Haryanto (Pembalap F1 Indonesia). Jangan sampai dia mengibarkan bendera selain Indonesia hanya karena tidak pernah mendapatkan peluangnya dari negaranya sendiri. Penyesalan itu bisa terlihat saat sudah terjadi.

salam hangat! (ip)

Jejak Kreativitas Siaran Indonesia

16 May

Saya bukan mau menceritakan jejak sejarah siaran di Indonesia. Saya mau berkomentar tentang siaran di Indonesia saat ini. Jikalau kurang berkenan silahkan tidak perlu melanjutkan membaca halaman ini karena mungkin saja apa yang kalian cari tidak akan kalian temukan.

Kalian tentu tau bagaimana saat ini perkembangan musik di Indonesia. Saya pribadi menilainya ‘bergerak lambat’, ‘tidak banyak yang menarik’, ‘hanya beberapa yang easy listening’ dan ‘tidak eksis’. Mengapa itu bisa terjadi? ini kira-kira penilaian saya (sebenarnya saya sangat berharap banyak pihak yang  bergerak dibidang pertelevisian/industri musik/iklan/hiburan dapat melakukan ini apalagi kalau bisa terlihat hasilnya).

Tidak Ada Dukungan dan Pengawasan dari Industri Televisi/Penyiaran di Indonesia

Dukungan seperti apa yang diinginkan? masih ingat dengan MTV Ampuh? nah itu salah satu channel yang tidak pernah saya lupakan sepanjang masa. Hanya bermodalkan musik, channel ini bisa menjadi media yang baik dalam mempromosikan musik. Dari channel ini pula saya bisa banyak belajar bahasa Inggris (karena Host/VJ-nya terkadang mencampur bahasa).

Memang sudah ada acara tertentu di salah satu Channel Nasional yang pasti hingga keplosok daerah di Indonesia bisa mendapatkan channel ini: saya sebut TVRI, RCTI/MNC group, Transmedia group, SCTV, Indosiar, TVOne, dan MetroTV.

Maaf, TVRI mungkin bukan pilihan terbaik, mengapa? karena TVRI adalah media pemerintah (non-komersil) dan bisa dikatakan channel ini sangat terbatas dengan dana sehingga cukup kecil harapannya untuk dapat menyajikan siaran yang spektakuler. Tapi secara pribadi saya mengucapkan terimakasih dengan TVRI karena TVRI adalah channel pertama yang berhasil mempertemukan Idola saya (SHINee) pada tahun 2009. Ini mengapa saya bilang TVRI adalah stasiun TV yang tidak komersil, karena pada saat ini TVRI hanya ber-partner dengan Kedutaan Korea Selatan mengundang SHINee tanpa memungut biaya untuk dapat menonton penampilannya. Kapan coba bisa nonton SHINee gratis hehehe…

Jika demikian kita coba ke channel yang besar dan tertua dahulu RCTI, SCTV, dan Indosiar. tayangan musik seperti apa yang stasiun ini sajikan? Dahsyat/Inbox/DA? Dari sisi konten, secara pribadi saya bisa bilang ‘aneh’. kenapa aneh? acara musik tapi ada lawaknya. acara musik tapi yang berkenaan dengan musik hanya maksimal 5 artis saja. acara musik tapi menyajikan gosip. acara musik malah curhat…yah ada banyak lagi.

Okay seandainya mau bilang bahwa kalian menyesuaikan dengan audiance. Tapi kalau kalian cerdas dan tidak hanya berfikir komersil, audiance itu ‘kalian’ yang membentuknya. saya jarang nonton Channel Indonesia karena saya bosan dengan kontennya. Konten yang disajikan selain membosankan, tidak jelas pangkal dan ujungnya. Ada acara musik 1 orang dikomentari sampai 1 jam? Ada acara musik dari jam 6 sore sampai jam 1 malam? Ada acara musik malah tangis-tangisan? Coba deh lakukan penelitian/riset kecil-kecilan dari berbagai negara. Bagaimana sebaiknya Penyiaran Nasional seharusnya.

Ini sepenuhnya menjadi Kebijakan Pemerintah. Kalau seandainya Pemerintah Indonesia yang tidak peduli/bergerak lambat saya rasa bisa dimulai dari akarnya yaitu Stasiun TV yang bersangkutan. Buat saja internal SOP dari masing-masing acara/judul. Saya yakin kalau bisa dimulai dari sekarang, 5 tahun atau bisa lebih cepat saya akan kembali mencintai Channel di Indonesia.

Secara singkat saya sangat ingin peryiaran di Indonesia menambahkan/memberlakukan hal-hal berikut ini:

  • Semua konten tidak boleh mengandung unsur SARA (ini perlu pengawasan dari setiap script writer acara)
  • Setiap judul hanya tayang masimal 2 hari per 1,5 jam + 0,5 jam iklan. Hitungannya 1 episode acara berkisar 1,5 jam. Akan lebih baik bila iklan hanya ditampilkan pada ending judul (sponsor)..karena jedah iklan biasaya saya pakai untuk ganti channel yang ujung-ujungnya saya lupa kembali ke channel awal
  • Setiap judul punya slot yang disesuaikan dengan:
    • Variety show, Talk show, Music show >> tidak tercatat dengan catatan tidak mengubah konsep konten
    • Mini seri: 1-2 episode
    • Drama pendek: 4-12 episode
    • Drama sedang: 18-26 episode
    • Drama panjang: 60 episode
    • Drama keluarga: 200 episode
  • Jika ingin memperpanjang judul karena sudah selesai cerita harus update judul misal ditambahkan ‘part 2’/’sesi 2’ dll
  • Harus tegas, pada saat cerita sudah tidak sesuai atau melenceng dari konsep, Penyiaran/Pemerintah harus mencabut hal ijin siarannya (tanpa mengubah nama). Saya ingat dengan judul YKS (Yuk Kita Sahur jadi Yuk Keep Smile)
  • Masih banyak lagi jika serius melakukan riset kecil-kecilan….

Apa keuntungan adanya perubahan? Industri penyiaran jadi lebih beraneka ragam dan menarik. TV akan punya banyak database judul yang setiap saat bisa diulang untuk kembali menyegarkan pikiran audiance.

Saya kangen dengan Tralala-Trilili/Inbox/Dahsyat yang dulu…awal-awal yang menyajikan banyak artis update. yang punya playlist…kalau mau dibuat kreatif lagi, playlist tersebut bisa saja memberikan piagam mingguan yang melakukan rating popular musik mingguan. Pasti akan mencuri perhatian para Manajemen Musik di Indonesia untuk menghasilahkan musik terkini.

I Love You

17 Jan

Rabu (15/1) telah menjadi episode terakhir penayangan acara favorite saya -HITAM PUTIH-. And I don’t know, when it will come back?!

Saya merasa menyesal saat mengetahui berita ini. Bukan karena acara fav saya berakhir melainkan karena kesalahan saya sebab tidak sempat menonton ‘live’ acara tsb untuk episode terakhir.

Keesokannya tepatnya 16/1, entah mengapa perasaan saya memaksa saya untuk menonton ulang HT via YT, alhasil saya mendapatkan berita tersebut dan langsung menonton kebut acara HT. Sangat disayangkan memang, mengapa acara yang saya nilai mendidik dan memberikan kesan tersebut harus berakhir di awal tahun 2014. Acara yang sudah menemani saya selama 2 tahun lebih ini, membuat saya semakin merindukannya. Semoga harapan Kak Dedy C. bisa di kabulkan (“mungkin kita (HT) bisa kembali lagi menghadirkan acara yang lebih mengispirasi”) -saya tunggu come back nya HT.

Sekali lagi saya katakan ‘sangat disayangkan’! Acara yang benar-benar menginspirasi ini harus berakhir. Mengapa tidak berumur panjang sama seperti Bukan Empat Mata?!

Benar, Kak Dedy pernah mengatakan kalau ‘sesuatu yang pernah dimulai pasti akan ada akhirnya’, tapi mengapa HT berakhir dengan kesan yang  kurang baik di mata saya. Mengapa? ‘jujur’ beberapa bulan belakangan saya sempat dikagetkan dengan adanya sesi tambahan dalam HT yang dibantu oleh Bapak Farhat Abas. Ditambah lagi ada isu kalau Kak Dedy mau digantikan dengan FA. Ini maksudnya apa? Apakah ini salah satu cara Tim Kak Dedy untuk membuat kita tidak kaget dengan perkataan ‘HT Berakhir’ yang akhirnya telah Kak Dedy ucapkan?!

Kekecewaan ini membuat mata saya basah. Kekecewaan pertama saya muncul sejak jam tayang HT pindah ke jam 9 malam. Tapi saat itu saya bisa terima karena ini masalah perusahaan. Lalu diikuti dengan adanya sesi perang di HT antara DC dan FA?!  Astaga, kemana acara yang sangat saya cintai itu?!. Tidakkah Kak Dedy menyadari kalau sesi tersebut dapat mengubah pandangan dan minat penonton?!. Acara yang saya anggap meninspirasi itu berubah menjadi wadah HINA-CELA-SUMPAH-GOSIP.

Selama sebulan HT berubah menjadi acara yang benar-benar saya anggap tidak cerdas seperti biasanya. Rasanya saya ingin  orang tua, saudara dan orang-orang yang pernah saya rekomendasikan HT untuk melupakan HT, saat itu. Hingga akhirnya masa acara HT benar-benar harus berakhir, saya masih belum mendapatkan HT kembali seperti suasana yang saya banggakan. Ini membuat saya kecewa dan ingin menangis.

Tapi yang namanya pernah cinta, apapun kejelekan yang pernah ada pasti bisa aku tolak dan tetap mencari sisi positif dari hal yang kucintai itu. Saya lupa Quote ini saya dapatkan dari mana, mungkin dari salah-satu episode HT.

Tidaklah penting bagaimana kamu memulainya. Akan tetapi menjadi sangat penting bagaimana kamu mengakhirinya…

Hitam Putih akan selalu menjadi acara terbaik yang pernah saya tonton. Terima kasih banyak atas kerja keras Kak Dedy dan Tim Hitam Putih.

This is the last quote in the last episode Hitam Putih.

last

Smart child

20 Aug

Malam itu terasa sedikit membosankan. Apapun yang ingin aku lakukan menjadi serba salah. Ingin nonton TV nggak ada yang bagus. Ingin baca buku, baru minggu lalu aku selesaikan. Pilihan tinggal dua membaca komik Conan atau makan. Akhirnya aku memilih untuk membaca komik setidaknnya hingga magrib usai.

Bersebelahan dengan menonton acara favorit Hitam Putih, aku pun hampir menyelesaikan komik Conan dalam sekejap. Dan tidak terasa perutku sudah mulai berteriak untuk diisi sesuatu. Yaaa karena malam ini aku malas memasak nasi, aku putuskan hanya menggantinya dengan mie dan telur. Alhasil aku turun dari kamar untuk menuju dapur kosan.

Terlihat disana satu keluarga kecil yang berstatus penjaga kosanku sedang bercengkraman ria. Menceritakan pengalaman hari ini bersama kedua anak perempuannya. Anak pertama panggilannya Fitri (10 tahun) dan kedua panggilannya Puput (7 tahun). Mereka masing-masing masih duduk di bangku sekolah dasar.

“Halo Ibu…” sapaku malam itu

“eh, ada kak Indah. Makan kak?”

“Iya nih, lagi pingin makan mie sama telur bu”

“wah..tadi saya juga makan mie bareng anak-anak. Habis saya males masak, Kak”

“Oh..jadi udah pada makan semua nih. Padahal kakak mau masak-in loch” candaku pada Fitri dan Puput yang tampak malu

Akhirnya aku memfokuskan mie dan panciku. Sambil sedikit mendengarkan percakapan keluarga itu sih. Bukan sengaja untuk menguping. Tapi aku itu ‘mau tidak mau’ pasti mendengar percakapan mereka dimana posisi percakapannya berada di belakangku.

“Kak, ini bacanya gimana?” tanya Puput sambil jongkok memperhatikan buku di depan kakaknya.

“A-ni-sha Fi-tri-a” eja Fitri.

“loh kok ‘a’ dibaca ‘ya’. Salah dong kak. Seharusnya nama kaka itu dibaca ‘A-ni-sha Fi-tri-a’ dengan mengeja huruf ‘a’ jelas bukan menjadi ‘iya’” balas Puput cukup polos dan serius

“Bukan. Tapi membacanya ‘Fi-tri-ya’ bukan ‘Fi-tri-a’” bantah kakaknya

“lah ini kan huruf ‘a’ bukan ‘ya’ kak? ‘y’nya mana kak?”

“Lah, kakak itu salah. Nama kamu itu pakai ‘ya’ bukan ‘a’ toh kak” kata Ibu yang sedikit membuat Fitri bingung

“jadi gini toh bu A-ni-sha Fi-tri-ya” perbaikan Fitri sambil menuliskan namanya sendiri

“iya”

Berakhirlah aku mendengarkan percakapan mereka. Karena makananku sudah aku selesaikan.

“Ibu, aku keatas ya. Mari makan semuanya” sapaku sebagai penutup.

“iya, kak Indah”

Sebenarnya selama proses masak dan mendengarkan percakapan aku sedikit menahan nafsu untuk ikut bergabung bersama mereka. Alasannya hanya ingin tau saja, pola pikir anak-anak itu seperti apa. Yaa sambil senyum-senyum aku hanya memikirkan bahwa anak kecil memang polos. Susah untuk dibodohi. Sepintar apapun kita, mereka jauh polos. Aku rasa percakapan mereka tidak ada yang salah. Hanya saja itu akan menentukan bagaimana seorang guru harus pandai menjelaskan pengejaan yang benar dalam Bahasa Indonesia. Aku rasa itu akan sangat penting bagi pemahaman mereka.

–atau jangan-jangan selama ini aku juga belum mengenal Bahasaku sendiri– 😀 (IP)

UAN Untuk Kecerdasan Siapa?

19 Apr

Pagi ini (19/4) seperti tidak ada pekerjaan akibat datang terlalu pagi saya menyempatkan diri untuk membuka my twitter (@indah_liner). Mencoba rollback history, saya justru menemukan tweet yang melampirkan berita berjudul “Ujian nasional lebih banyak mudarat ketimbang manfaat”. Selain itu, mungkin secara kebetulan atau memang berjodoh saya sempat menonton salah satu acara favorit di Trans7 yaitu Hitam Putih yang juga membahas mengenai tujuan Ujian Akhir Nasional (UAN) di Indonesia. Dan karena itulah saya rasa hal ini perlu saya tuliskan pada blog ini agar teman-teman juga dapat memberikan pendapatnya.

Sebenarnya permasalahan terkait pendidikan di Indonesia sudah sering diungkit bahkan hampir setiap tahun. Saya sendiri adalah salah satu yang dahulu pernah mengikuti UAN baik SMP dan SMA. Masalah seperti ini yang terjadi di dalam dunia pendidikan di Indonesia memang menjadi sangat rumit. Kali ini saya akan mengungkapkan beberapa hal mengenai UAN di Indonesia untuk siswa. This is fully my opinion about UAN in Indonesia.

Mengapa sih UAN itu penting? Apakah nilai UAN membantu saya untuk mendapatkan Universitas yang saya inginkan secara cuma-cuma?. Dan jawaban yang saya terima adalah tidak. Bahkan ketika saya melamar ke kampus yang saya inginkan nilai UAN belum keluar yang berlaku hanya rapor dari semester 1 hingga 5 di SMA saja. Jalur masuk yang ditawarkan dari kampuspun tidak ada yang menyatakan secara terang-terangan bahwa NILAI UAN sangat penting. Namun saat itu saya hanya berfikir bahwa saya tetap wajib lulus UAN karena justru tidak lulus UAN lah yang membuat saya tidak dapat melanjutkan kuliah. Jadi apa sebenarnya fungsi UAN karena saya justru mengakhawatirkan bahwa UAN lah yang menjadi penyebab fungsi peendidikan di Indonesia mati.

Mungkin UAN dianggap oleh dewan pendidikan sebagai ajang menunjukkan dan meningkatkan kwualitas pendidikan di Indonesia. Tapi saya rasa tidak ada yang berubah, justru dengan adanya UAN lebih banyak siswa yang melakukan kecurangan dalam pendidikan. Karena siapapun pasti tidak mau terhambat pendidikan dan karirnya hanya karena kesalahan dari UAN. Kalau memang Dewan Pendidikan hanya memikirkan untuk menunjukkan dan meningkatkan kwualitas, bukankah para siswa telah bersekolah di setiap hari sekolah yang dikatakan kewajiban mereka untuk sekolah. Tapi kenapa mereka tidak mendapatkan hak atas kelulusan mereka setelah hampir setiap hari sekolah.

Dalam keseharian di sekolahpun mereka melakukan pembelajaran, tes pengetahuan, ujian, praktik dan sebagainya yang saya anggap sudah menunjukkan kwualitas siswa tersebut. Bersaing satu sama lain adalah satu bentuk keberanian dan pertanggunjawaban si pelaku. Bukankah persaingan dalam pendidikan dapat dikatakan suatu cara untuk membuktikan kwualitas siswa dan sekolah.

Oke jika Dewan Pendidikan masih bersikeras bahwa UAN wajib dilakukan bagi para siswa. jadi dapat dikatakan bahwa kehidupan para siswa hanya ditentukan dari 3/4 hari pelaksanaan UAN saja. Benar?

Dengan demikian saya rasa datang ke sekolah tidak perlu diwajibkan, bagaimana?. Saya pikir membiarkan siswa bebas memilih bagaimana cara belajar mereka sendiri untuk menghadapi UAN tersebut adalah perlu dicoba. Jadi terserah mereka memilih sistem belajar seperti apa dan mereka pastinya telah memikirkan apakah mereka ingin lulus UAN atau tidak dari jauh-jauh hari. Memikirkan UAN itu wajib dan menjadi penghalang untuk bisa lanjut kuliah, saya rasa punya tekanan tersendiri bagi saya dulu. Jadi dengan memutuskan datang ke sekolah tidak wajib membuat dan memaksa saya untuk memilih saya ingin lulus UAN atau tidak. Bila iya saya harus belajar dan terserah saya belajar yang seperti apa yang saya pilih.

Tapi maaf, bisa dikatakan fungsi sekolah hanya sebuah nama saja bila demikian. Jadi siswa terdaftar sebagai siswa suatu sekolah tapi tidak wajib datang ke sekolah. Tidak ada uang bulanan sekolah, Tidak ada absen, tidak ada teman, tidak ada organisasi, tidak ada seragam sekolah, tidak ada ujian kelas, tidak ada quiz dll yang dianggap memakan waktu untuk belajar fokus sesuai targat yaitu UAN. Saran ini resikonya sangat besar karena kembali ke individu siswa dan lingkungan. Namun penghematan untuk pengeluaran sekolah menjadi teratasi. Ini juga memungkinkan lebih banyak tempat sekolah terbuka seperti bimbel/khursus-khursus dibanding sekolah umum.

Ya semua itu pilihan dan penawaran yang pernah saya pikirkan tentang sekolah.

Belajar dan berpengetahuan itu wajib untuk mereka yang hidup. Namun bagaimana cara kita untuk menjadi seseorang yang berpendidikan, kita sendirilah yang memutuskan. *Tidak ada yang tau dari arah manakah ilmu akan datang. Itu tergantung bagaimana kamu menyikapi hidupmu.* (IP)

Menjadi Lebih Baik atau Tidak Sama Sekali

18 Apr

Hari ini (18/4) kembali PT KAI beraksi untuk melakukan penggunsuran terhadap hal-hal diluar kebutuhan utama adanya kereta api dengan tujuan untuk menambah dan pemperbaiki kenyamanan penumpang kereta api di Indonesia itu sendiri. Aksi kali ini direncanakan di Stasiun Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Sesas desus yang terdengar adalah PT KAI akan menggusur pedagang-pedangan yang berada di sekitar Stasiun (beberapa meter dari lokasi).

Keputusan dan tindakan dari PT KAI ini dianggap oleh beberapa kalangan merupakan tindakan yang menentang hak asasi masyarakat Indonesia. Yaitu tentang HAM: “Setiap orang berhak atas pemenuhan kebutuhan dasarnya untuk tumbuh dan berkembang secara layak”. Dan sebagai bentuk perlawanan, terdengar kabar bahwa akan ada unjuk rasa dari pedagang setempat yang ‘mungkin’ juga akan didukung oleh mahasiswa sekitarnya.

Berikut ulasan yang saya baca:

BIENgxbCMAIe0Fs.jpg largeSecara pribadi saya setuju dengan tindakan PT KAI dalam memutuskan dan bertindak tegas terhadap hal-hal yang ditunjukkan sebagai bentuk pembersihan area kereta api. Karena saya sendiri sejak lama memimpikan area yang rapi, teratur dan akibatnya membuat saya lebih nyaman berada disekitarnya. Ini bukan mengartikan bahwa saya membenci adanya pedagang di area stasiun. Namun saya pribadi menjadi lebih nyaman bila Negara Indonesia menjadi lebih teratur.

Sebagai awalan ini mungkin berat bagi dua belah pihak. Tidak mungkin secara egois PT KAI bertindak keras kepada rakyat kecuali mereka telah memikirkan kelanjutan dari tindakan mereka. Hanya saja, mungkin kita yang tidak tau.

Sering kali, saya atau beberapa orang yang pernah berdiskusi bersama mengharapkan “Kapan Indonesia menjadi TERTIB terutama Jakarta yang merupakan Ibu Kota Negara yang notabennya banyak negara asing akan mengomentari”. Bukankah tidak nyaman bila Indonesia hanya dikenal di mata negara asing hanya bila kita menyebutkan BALI bukan Indonesia apalagi JAKARTA. Sebagai contoh atau cambukan ‘hinaan’ terhadap Indonesia adalah ‘JB berkata Indonesia, dimana itu, entahlah di suatu tempat yang antah berantah!‘. Menyakitkan bukan mendengarnya. Bukan! maksud saya bukan masalah hinaan itu namun apakah alasan JB memberikan komentar tentang Indonesia seperti itu. Pernah memikirkannya?! saya rasa hanya beberapa dari kalian saja.

Mungkinkah salah satu alasan dibalik hinaan itu adalah fasilitas Indonesia yang tidak membuatnya nyaman, sehingga tidak ada kesan yang tertinggal dari Indonesia. Maka bersama ini saya mengharapkan bantuan pembaca untuk melakukan tindakan yang melahirkan KETERTIBAN dan kenyamanan untuk Indonesia.

Saya tidak tau dalam bentuk apa para pembaca akan berkontribusi menertipkan Indonesia. Bisa jadi dengan menggunakan helm ketika bermotor, mematuhi lalu lintas tanpa protes, memberikan hak kepada pejalan kaki, menyebrang pada tempatnya alias di jembatan penyebrangan atau zebra cross, tidak menghentikan kendaraan di sembarang tempat, membuang sampah pada tempatnya dan sebagainya.

Sekali lagi saya mengatakan bahwa saya bukan mengungkit masalah penggusuran, namun apa yang saya komentari ini adalah lebih ke masalah ketertiban di Indonesia yang semakin lama semakin sulit untuk dibenahi bila tidak dimulai dari sekarang. Terima kasih. (IP)

Refers to yourself

26 Feb

Sering kali saya merasa bahwa saya benar. Ini bukan mengartikan bahwa yang lain salah namun saya hanya beranggapan bahwa yang lain masih kurang tepat. Bersamaan dengan inipun atau secara tidak langsung saya mengakui bahwa saya ini sombong dan keras kepala. Dan ini tentunya tidak sehat untuk diri saya sendiri.

Menjadi seseorang dengan prinsip yang kuat dan teguh pendirian, memang sangat dibutuhkan untuk membentuk pribadi yang kokoh. Apalagi mengingat saya yang tinggal jauh dari orang tua. Tapi dengan ini semua, saya akui bahwa saya merupakan salah seorang yang cukup banyak musuh.

Mungkin perlu saya ceritakan bahwa banyak orang yang mengatakan saya ini sombong dan angkuh. Dan itu terbukti dari sikap keseharian saya.

Tetapi siang itu (23/2) saya mendapatkan suatu teguran hangat secara tidak langsung dari teman saya (E). Awalnya E menceritakan temannya yang lain, mengenai sikapnya yang keras kepala dan memaksa. YA, saya akui memang temannya yang sekaligus teman saya juga memang keras kepala. Mengingat sifat saya yang juga demikian, maka saya sering kali saya tidak cocok dengan beliau.

Banyak inti percakapan yang dapat saya terima dari E, yaitu Kita seharusnya mengacu pada diri sendiri dan Setiap omongan yang keluar sebaiknya disaring dahulu. Ini menyenangkan untuk dibahas, tetapi ketika saya memposisikan diri saya dalam keadaan yang sensitif, kalimat tersebut seolah-olah ditujuan kepada saya juga XD. “Ini tentunya sangat jelas menarik bagi saya”.

Sama halnya dengan apa yang E paparkan, saya juga menangkap hal-hal dan kebiasaan E yang juga seharusnya dapat dia mengerti atau dia kembalikan ke dalam topik yang dia share kepada saya siang itu. Hal ini terbukti dari beberapa kata/kaliamat yang ia lontarkan yang juga menyinggung diriku (meskipun secara tidak langsung bukan ditujuan atas nama saya). Tetapi kalimat yang ia paparkan cukup untuk membuatku malas berbicara lebih dalam/terbuka kepada E.

Saya disini bukan membahas bahwa saya benar/salah atau E benar/salah apalagi teman E yang benar/salah. Yang jelas adalah bahwa apapun yang akan kita lontarkan atau publikasikan sebagiknya memang kita koreksi dan yakini bahwa itu bermaksud baik untuk semuanya.

Semoga inti dari tulisan ini dapat memberikan makna bagi kita. Saya disini masih tahap belajar akan makna kehidupan dan saya berharap kalian juga dapat mendapatkan hal yang positif sama seperti yang saya harapkan. (IP)

Likes vs Needs

16 Jan

Banyak yang mengatakan bahwa “teori itu mudah untuk dikatakan, tapi sulit untuk dijalankan“, ini perkataan yang tidak saya benarkan namun tidak saya salahkan juga secara pribadi. Saya hanya menganggap kalimat itu adalah kalimat bodoh dari seseorang yang sudah tidak punya alasan lagi atas hidupnya. Saya punya pertanyaan dengan orang yang mengatakan kalimat tersebut, “sudah seberapa keras usaha yang kamu lakukan untuk menjalani hidupmu?“.

Mempelajari sesuatu itu memang tidak ada yang cepat. Itu tergantung dengan seberapa suka dan butuh kalian terhadap hal tersebut. Saya akan jujur dalam hal ini, mari kita contohkan kasusnya terhadap diri saya sendiri.

Saya akui bahwa saya tidak suka dengan bahasa inggris. Entah sejak kapan pikiran saya selalu menanamkan kekerasan dan perlawanan akan keinginan yang lainnya. Otak saya selalu menentang bahasa inggris. Selalu muncul pertanyaan “mengapa saya harus belajar bahasa inggris yang merupakan bukan bahasa keseharian saya. Jika demikian mengapa perusahaan menjadikan bahasa inggris sebagai sesuatu yang penting. Mengapa bukan bahasa indonesia saja yang kita sebarkan ke dunia agar semuanya mau belajar bahasa indonesia. Mengapa harus bahasa inggris dari sekian banyak bahasa di dunia. Mengapa dan mengapa

Apa kalian sadar kalau pertanyaan saya itu bodoh. Bayangkan jika semua orang di dunia mengatakan dan berpikir hal yang sama dengan saya. Apa yang akan terjadi. Tentunya akan ada banyak bahasa yang membingungkan dan tidak ada pemersatu dunia ini.

Sama halnya orang yang menyerah dengan mengatakan teori itu mudah dan praktik itu susah. Sebenarnya semuanya sama, ada sebuah jembatan yang harus kalian lewati untuk menggapainya. Jembatan itu akan lahir dari rasa suka dan rasa butuh. Jadi galilah rasa suka dan butuh kalian dengan cara kalian masing-masing. Sama halnya dengan yang saya lakukan saat ini. Happy working and fighting!. (IP)