Archive | Indonesia RSS feed for this section

Jejak Kreativitas Siaran Indonesia

16 May

Saya bukan mau menceritakan jejak sejarah siaran di Indonesia. Saya mau berkomentar tentang siaran di Indonesia saat ini. Jikalau kurang berkenan silahkan tidak perlu melanjutkan membaca halaman ini karena mungkin saja apa yang kalian cari tidak akan kalian temukan.

Kalian tentu tau bagaimana saat ini perkembangan musik di Indonesia. Saya pribadi menilainya ‘bergerak lambat’, ‘tidak banyak yang menarik’, ‘hanya beberapa yang easy listening’ dan ‘tidak eksis’. Mengapa itu bisa terjadi? ini kira-kira penilaian saya (sebenarnya saya sangat berharap banyak pihak yang  bergerak dibidang pertelevisian/industri musik/iklan/hiburan dapat melakukan ini apalagi kalau bisa terlihat hasilnya).

Tidak Ada Dukungan dan Pengawasan dari Industri Televisi/Penyiaran di Indonesia

Dukungan seperti apa yang diinginkan? masih ingat dengan MTV Ampuh? nah itu salah satu channel yang tidak pernah saya lupakan sepanjang masa. Hanya bermodalkan musik, channel ini bisa menjadi media yang baik dalam mempromosikan musik. Dari channel ini pula saya bisa banyak belajar bahasa Inggris (karena Host/VJ-nya terkadang mencampur bahasa).

Memang sudah ada acara tertentu di salah satu Channel Nasional yang pasti hingga keplosok daerah di Indonesia bisa mendapatkan channel ini: saya sebut TVRI, RCTI/MNC group, Transmedia group, SCTV, Indosiar, TVOne, dan MetroTV.

Maaf, TVRI mungkin bukan pilihan terbaik, mengapa? karena TVRI adalah media pemerintah (non-komersil) dan bisa dikatakan channel ini sangat terbatas dengan dana sehingga cukup kecil harapannya untuk dapat menyajikan siaran yang spektakuler. Tapi secara pribadi saya mengucapkan terimakasih dengan TVRI karena TVRI adalah channel pertama yang berhasil mempertemukan Idola saya (SHINee) pada tahun 2009. Ini mengapa saya bilang TVRI adalah stasiun TV yang tidak komersil, karena pada saat ini TVRI hanya ber-partner dengan Kedutaan Korea Selatan mengundang SHINee tanpa memungut biaya untuk dapat menonton penampilannya. Kapan coba bisa nonton SHINee gratis hehehe…

Jika demikian kita coba ke channel yang besar dan tertua dahulu RCTI, SCTV, dan Indosiar. tayangan musik seperti apa yang stasiun ini sajikan? Dahsyat/Inbox/DA? Dari sisi konten, secara pribadi saya bisa bilang ‘aneh’. kenapa aneh? acara musik tapi ada lawaknya. acara musik tapi yang berkenaan dengan musik hanya maksimal 5 artis saja. acara musik tapi menyajikan gosip. acara musik malah curhat…yah ada banyak lagi.

Okay seandainya mau bilang bahwa kalian menyesuaikan dengan audiance. Tapi kalau kalian cerdas dan tidak hanya berfikir komersil, audiance itu ‘kalian’ yang membentuknya. saya jarang nonton Channel Indonesia karena saya bosan dengan kontennya. Konten yang disajikan selain membosankan, tidak jelas pangkal dan ujungnya. Ada acara musik 1 orang dikomentari sampai 1 jam? Ada acara musik dari jam 6 sore sampai jam 1 malam? Ada acara musik malah tangis-tangisan? Coba deh lakukan penelitian/riset kecil-kecilan dari berbagai negara. Bagaimana sebaiknya Penyiaran Nasional seharusnya.

Ini sepenuhnya menjadi Kebijakan Pemerintah. Kalau seandainya Pemerintah Indonesia yang tidak peduli/bergerak lambat saya rasa bisa dimulai dari akarnya yaitu Stasiun TV yang bersangkutan. Buat saja internal SOP dari masing-masing acara/judul. Saya yakin kalau bisa dimulai dari sekarang, 5 tahun atau bisa lebih cepat saya akan kembali mencintai Channel di Indonesia.

Secara singkat saya sangat ingin peryiaran di Indonesia menambahkan/memberlakukan hal-hal berikut ini:

  • Semua konten tidak boleh mengandung unsur SARA (ini perlu pengawasan dari setiap script writer acara)
  • Setiap judul hanya tayang masimal 2 hari per 1,5 jam + 0,5 jam iklan. Hitungannya 1 episode acara berkisar 1,5 jam. Akan lebih baik bila iklan hanya ditampilkan pada ending judul (sponsor)..karena jedah iklan biasaya saya pakai untuk ganti channel yang ujung-ujungnya saya lupa kembali ke channel awal
  • Setiap judul punya slot yang disesuaikan dengan:
    • Variety show, Talk show, Music show >> tidak tercatat dengan catatan tidak mengubah konsep konten
    • Mini seri: 1-2 episode
    • Drama pendek: 4-12 episode
    • Drama sedang: 18-26 episode
    • Drama panjang: 60 episode
    • Drama keluarga: 200 episode
  • Jika ingin memperpanjang judul karena sudah selesai cerita harus update judul misal ditambahkan ‘part 2’/’sesi 2’ dll
  • Harus tegas, pada saat cerita sudah tidak sesuai atau melenceng dari konsep, Penyiaran/Pemerintah harus mencabut hal ijin siarannya (tanpa mengubah nama). Saya ingat dengan judul YKS (Yuk Kita Sahur jadi Yuk Keep Smile)
  • Masih banyak lagi jika serius melakukan riset kecil-kecilan….

Apa keuntungan adanya perubahan? Industri penyiaran jadi lebih beraneka ragam dan menarik. TV akan punya banyak database judul yang setiap saat bisa diulang untuk kembali menyegarkan pikiran audiance.

Saya kangen dengan Tralala-Trilili/Inbox/Dahsyat yang dulu…awal-awal yang menyajikan banyak artis update. yang punya playlist…kalau mau dibuat kreatif lagi, playlist tersebut bisa saja memberikan piagam mingguan yang melakukan rating popular musik mingguan. Pasti akan mencuri perhatian para Manajemen Musik di Indonesia untuk menghasilahkan musik terkini.

He’s my hero (Cerita pendek di bis kota)

4 Jul

Hallo pembaca

Aku mau berbagi cerita pengalaman. ini kisah nyataku. yang meninggalkan kesan terindah di dalam hidupku. mungkin inilah yang pantas dibilang dengan PAHLAWAN.

Ternyata masih ada seseorang yang baik hatinya dari banyaknya penduduk kota yang terkenal dengan rasa ketidak-peduliannya.

Hanya sesaat tapi berkesan dan menyelamatkan hidupku. Dan pahlawan itu akan datang disaat kita benar-benar membutuhkannya.

Begini kisahnya:

Saat itu aku masih berstatus mahasiswi di salah satu PTN di Kota Depok. Pada masa liburan semester panjang biasanya program studi yang aku ambil menyelenggarakan kegiatan Kerja Praktik dan aku mengambil kesempatan itu bersama dengan dua teman dekatku. Pada semester panjang (3 bulan) aku dan dua rekanku berkesempatan bekerja di salah satu organisasi negara di daerah Kebayoran Baru Jakarta. Dan karena aku tinggal di kota Depok maka salah satu cara untuk dapat menempuhnya adalah dengan naik Bis Kota Depok-Blok M.

Hari itu aku bersama teman berangkat bersama seperti biasanya. kami berkumpul di depan gang untuk menunggu bis tersebut. Ya, seperti biasa hari-hari yang kami lewati, kami jarang sekali mendapatkan tempat duduk. hal hasil kami harus menahan dalam posisi berdiri untuk 1,5-2 jam lamanya. Biasanya aku selalu sehat, namun entah mengapa pagi itu matahari yang masuk melalui sela-sela jendela bis, benar-benar menampar pipi dan kepalaku. ditambah dengan desakkan para penumpang yang tidak saling mengerti, aku semakin terpojok ke salah satu sisi bis. Betapa tidak beruntungnya aku hari itu, dua temanku justru terdorong ke sudut belakang bis kota. ya setiknya mereka aman, pikirku saat itu.

Mungkin karena waktu dan sinar matahari pagi yang kurang tepat memaksaku sedikir ber-istighfar sepanjang perjalananku. Allahu Akbar, aku benar-benar merasa tidak kuat dengan kondisiku saat itu. Keringat dingin sudah bercucuran di tubuhku, Penglihatanku mulai berubah warna kuning. Lambat laun, aku merasa kakiku sudah tidak mampu menompang tubuhku. aku pikir aku mengantuk saat itu. Tidak, aku akan pingsan bila kondisi ini terus terjadi.

Tiba-tiba, seseorang yang duduk di depanku menarikku dan memintaku untuk duduk di kursinya. Dia laki-laki mengenakan kemeja dan celana formal hitam serta menggendong tas hitam didepannya. Saat itu aku pasrah dengan semua dorongan yang terjadi pada diriku. Allah yang akan menjagaku, aku yakin itu. Benar, laki-laki itu memberikan kelonggaran udara di sekitarku lalu membuka jendela di sisi kananku untuk mengganti udara yang aku hirup. Itu sangat membantuku. Aku sempat kehilangan kesadaran selama perjalanan di tol menuju Blok-M. saat tersadar, bis sudah keluar tol dan aku mulai mengangkat kepalaku dengan sedikit memijat, namun tidak berani menatap wajah pahlawanku.

Aku berniat melihat wajahnya namun aku tidak berani. aku malu dan ragu saat itu. Aku hanya berfikir mungkin sebentar lagi aku akan lebih membaik dan lebih enak untuk mengucapkan terima kasih padanya. Namun apa yang aku pikirkan tidak sejalan dengan apa yang ditakdirkan oleh Allah. Saat di simpang lampu merah setelah tol, laki-laki itu menjauh dariku menuju sisi pintu. Oh tidak! dia akan keluar. Saat keberanian itu datang, pahlawanku sudah keluar bis dan aku tidak bisa melihat wajahnya.

Demi Allah, aku tidak ingat wajahnya. Aku hanya ingin mengucapkan terima kasih atas segala bantuannya, hari itu.

Bila diantara pembaca ini adalah dia yang pernah menjadi pahlawanku. aku ingin mengucapkan dengan sungguh-sungguh untuk rasa Terima kasih ku kepada kau yang saat itu membantuku. Semoga kita bisa bertemu lagi dengan situasi yang lebih baik.

I Love You

17 Jan

Rabu (15/1) telah menjadi episode terakhir penayangan acara favorite saya -HITAM PUTIH-. And I don’t know, when it will come back?!

Saya merasa menyesal saat mengetahui berita ini. Bukan karena acara fav saya berakhir melainkan karena kesalahan saya sebab tidak sempat menonton ‘live’ acara tsb untuk episode terakhir.

Keesokannya tepatnya 16/1, entah mengapa perasaan saya memaksa saya untuk menonton ulang HT via YT, alhasil saya mendapatkan berita tersebut dan langsung menonton kebut acara HT. Sangat disayangkan memang, mengapa acara yang saya nilai mendidik dan memberikan kesan tersebut harus berakhir di awal tahun 2014. Acara yang sudah menemani saya selama 2 tahun lebih ini, membuat saya semakin merindukannya. Semoga harapan Kak Dedy C. bisa di kabulkan (“mungkin kita (HT) bisa kembali lagi menghadirkan acara yang lebih mengispirasi”) -saya tunggu come back nya HT.

Sekali lagi saya katakan ‘sangat disayangkan’! Acara yang benar-benar menginspirasi ini harus berakhir. Mengapa tidak berumur panjang sama seperti Bukan Empat Mata?!

Benar, Kak Dedy pernah mengatakan kalau ‘sesuatu yang pernah dimulai pasti akan ada akhirnya’, tapi mengapa HT berakhir dengan kesan yang  kurang baik di mata saya. Mengapa? ‘jujur’ beberapa bulan belakangan saya sempat dikagetkan dengan adanya sesi tambahan dalam HT yang dibantu oleh Bapak Farhat Abas. Ditambah lagi ada isu kalau Kak Dedy mau digantikan dengan FA. Ini maksudnya apa? Apakah ini salah satu cara Tim Kak Dedy untuk membuat kita tidak kaget dengan perkataan ‘HT Berakhir’ yang akhirnya telah Kak Dedy ucapkan?!

Kekecewaan ini membuat mata saya basah. Kekecewaan pertama saya muncul sejak jam tayang HT pindah ke jam 9 malam. Tapi saat itu saya bisa terima karena ini masalah perusahaan. Lalu diikuti dengan adanya sesi perang di HT antara DC dan FA?!  Astaga, kemana acara yang sangat saya cintai itu?!. Tidakkah Kak Dedy menyadari kalau sesi tersebut dapat mengubah pandangan dan minat penonton?!. Acara yang saya anggap meninspirasi itu berubah menjadi wadah HINA-CELA-SUMPAH-GOSIP.

Selama sebulan HT berubah menjadi acara yang benar-benar saya anggap tidak cerdas seperti biasanya. Rasanya saya ingin  orang tua, saudara dan orang-orang yang pernah saya rekomendasikan HT untuk melupakan HT, saat itu. Hingga akhirnya masa acara HT benar-benar harus berakhir, saya masih belum mendapatkan HT kembali seperti suasana yang saya banggakan. Ini membuat saya kecewa dan ingin menangis.

Tapi yang namanya pernah cinta, apapun kejelekan yang pernah ada pasti bisa aku tolak dan tetap mencari sisi positif dari hal yang kucintai itu. Saya lupa Quote ini saya dapatkan dari mana, mungkin dari salah-satu episode HT.

Tidaklah penting bagaimana kamu memulainya. Akan tetapi menjadi sangat penting bagaimana kamu mengakhirinya…

Hitam Putih akan selalu menjadi acara terbaik yang pernah saya tonton. Terima kasih banyak atas kerja keras Kak Dedy dan Tim Hitam Putih.

This is the last quote in the last episode Hitam Putih.

last

CNBLUE MOON Concert in Jakarta (Oct 19¬th, 2013)

22 Oct

Sabtu (19/10) menjadi hari yang membahagiakan bagi Boice (Fans base) CNBLUE. CNBLUE merupakan band kabangsaan Korea Selatan. CNBLUE beranggotakan empat orang yaitu Yong Hwa (main vocal, guitarist dan leader), Jong Hyun (sub vocal dan guitarist), Min Hyuk (sub vocal dan drummer) dan Jung Sin (rapper dan bassist). Selain di Korea Selatan, CNBLUE juga telah melebarkan sayap prestasi dan karirnya di negara Sakura (Jepang). Album yang berhasil mereka garap tidak hanya mencerminkan bahasa negara asalnya, Bahasa Inggris dan Jepang pun mereka berani coba. Alhasil dari kerja kerasnya selama ini, CNBLUE sukses menggelar konsernya di Jakarta pertengahan bulan Oktober 2013.

Konser yang bertajub CNBLUE MOON itu menggambarkan lokasi panggung bak bulan penuh. Penuh degan kemeriahan, keceriaan, teriakkan, kebahagiaan dan musik. Aku akan sedikt berbagi pengalaman tentang konser indah tersebut. Semoga para pembaca berkenan 🙂

PicsArt_1381842594800Sebelumnya, aku ucapkan terima kasih kepada koreanindo.net dan SumSung Galaxy Series yang memberikanku kesempatan untuk mendapatkan tiket konser gratis. Aku akui kalau sebenarnya masih ada yang seharusnya lebih beruntung dibandingkan aku saat itu. Aku akui kalau aku hanya seorang pencinta musik karya empat pemuda Korea Selatan tersebut. Aku akui kalau aku bukanlah maniak CNBLUE yang tau sampai hal terkecilnya atau pantas untuk disejajarkan dengan Boice. Karena aku hanya cinta karya dan pribadi mereka. Aku tidak perduli dengan kehidupan pribadi mereka masing-masing, selama mereka miliki karya, aku akan menantikannya.

Rasa terima kasih untuk Koreanindo dan Samsung, benar-benar aku ucapkan dengan tulus. Berkat merekalah aku dapat menikmati konser terindah tersebut. Berkat mereka aku benar-benar bisa melihat Jonghyun memainkan gitarnya dengan elegan. Entah direncanakan atau secara kebetulan aku mendapatkan tiket dimana posisi Jonghyun bisa aku nikmati disepanjang konser. Terima kasih.

Suasana konser sangat ramai bahkan mendekati full. Penuh dengan lampu yang berwarna-warni. Alunan musik dari awal hingga akhir begitu mengajakku untuk berlompat dan berlonjak ria. Begitu mengesankan. Benar-benar berbeda rasanya saat menonton karya boys/girls band Korea Selatan. CNBLUE benar-benar mengajak kita untuk merasakan euphoria pesta konser perdana mereka di Indonesia.

Aku berharap CNBLUE akan kembali menyelenggarakan konser di Indonesia. Dan saat itu tiba, semoga aku sudah lebih siap dan lebih baik untuk bergabung bersama CNBLUE.

Terima kasih CNBLUE. Terima kasih Indonesia. (IP)

PicsArt_1382403970661

Menghitung Rating Pertelevisian

2 Oct

Hi! Baiklah, kali ini saya akan membahas soal “Rating” sinetron maupun acara pertelevisian di Indonesia. Bagaimana sebenernya cara menghitung dan mengetahui kapan acara tersebut sedang bagus ratingnya? dan untuk apa sebenarnya fungsi rating itu sendiri?

Pertama-tama saya katakan dan akui dahulu kalau aku bukanlah orang yang pakem/ahli di bidang pertelevisian. Jadi kalau ada yang salah dalam penunilsan ini, mohon dimaafkan dan diperbaiki saja mana yang salahnya.

Suatu acara pertelevisian akan dinilai baik dan pantas ditonton yaitu dapat dilihat dari rating acara itu sendiri. Rating diperoleh dari jaringan/saluran pertelevisian di Indonesia. Saluran tersebut sedemikian rupa diatur untuk dapat menampilkan suatu diagram yang dapat dilihat dan dinilai statusnya. Penilaian status merupakan perhitungan di setiap detiknya saluran acara yang ditonton oleh masyarakatnya. Penilaian status ini ada yang tinggi dan rendah, menjadikannya sebuat rating dalam presentase. Dengan Rating tersebut, suatu saluran tv atau acara tv dapat memperoleh iklan dan keuntungan sponsor lainnya. Jadi rating yang tinggi akan membantu besar dalam suksesnya suatu stasiun tv.

Namun sayangnya, bagi saya sendiri pemahaman mengenai rating cukup mengecewakan terutama di setelah melihat acara tersebut. Ada seseorang yang berkoar-koar “yes, acara kami menang pernghargaan ini dan itu karena kami dapat mempertahankan rating acara kami”. sebenarnya ungkapan tersebut tidaklah aneh. Namun sedikit menjengkelkan jika justru yang mendapatkan penghargaan adalah acara itu-itu saja selama bertahun-tahun. Bukankah rating tersebt menjadi sebuah pertanyaan.

kita contohkan saja misalnya acara X di stasiun tv Y. dan acara A di stasiun tv B.

Y dan B merupakan stasiun TV ternama yang tentu saja salurannya dapat di terima oleh seluruh bagian di Indonesia. bahkan Y dan B lebih jernih diterima di pulau We dari pada siaran tv lokal (HHH). Pokoknya Ydan B jernih banget deh. Jadi Y dan B akan ada di semua TV di Indonesia.

X dan A adalah acara musik. X tanyang pukul 7-9 pagi dan A tayang pukul 9-11 pagi.

Asumsinya adalah X kepagian sehingga beberapa penikmat musik masih terlelap di balik selimutnya. A sukses berat karena semua penikmat musik sudah bangun.

Jika dilihat memang keduanya memiliki jenis acara yang sama namun jam tayang yang berbeda itu membuat saya sedikit aneh bila X dan A justru menjadi nominasi bersamaan. belum lagi secara sepihak kita lihat bahwa sebenarnya tidak semua orang yang menghidupkan Y pasti menonton X begitu pula dengan A dan B. Tidakkah Y perpikir jika saya menonton Y mungkin sebabnya karena tidak ada siaran lain yang dapat saya tonton kecuali Y.

Hal yang sama juga sempat saya pikirkan misalnya sola rating sinetron dan/atau playlist music. Musik udah update kemana-mana eh playlistnya masih yang itu-itu aja. Seharusnya kan diupdate juga.

Saya masih mengakui perhitungan yang cukup baik soal playlist music itu pas jamannya MTV Ampuh. XD

Sebenarnya persaingan ini terlihat tidak sehat dan sedikit membingungkan. tapi ya sudahlah. Nasi sudah menjadi bubur, dari pada tidak ada gunanya mending tambahin cakwe sekalian. Jadi enak  deh itu bubur 🙂 (IP)

Uang Elektronik: Less Cash Society (LCS)

18 Sep

Tahun 2013, Indonesia kembali mencoba mengembangkan sistem elektronik untuk masyarakat. Bank Indonesia bersama dengan bank-bank di Indonesia lainnya berkerja saja untuk membangun dan menyeimbangkan perekonomian di Indonesia. Tujuan sederhananya adalah mengurangi biaya pencetakan uang, mencegah pencucian uang, dan mempercepat velocity of money.

Uang Elektronik (Less Cash) yaitu sebuah card yang berfungsi sebagai pengganti uang. Caranya mungkin sama dengan penggunaan e-tol/e-tiket kereta yang telah lebih dulu luncur di masyarakat Indonesia. Pengguna/pemilik dapat melakukan pembayaran hanya dengan menempelkan card dan dapat melakukan pengisian perdana. Meskipun masa uji coba baru dilakukan di lingkungan Universitas Indonesia, Less Cash ini cukup mencuri perhatian masyarakat UI. Saya sendiri berharap pengeluaran uang rupiah/pencetakan uang dapat dikurangi. ‘yaa, agak miris juga sih melihat mata uang kita menjadi sangat rendah belakangan ini’. Saya bukan ahlinya bila ingin mambahas soal mata uang kita lebih dalam –sorry. Yang saya tau adalah masih banyak PK (Pekerjaan Kantor) di bidang ekonomi Indonesia.

Semoga dengan adanya Less Cash ini dapat bermanfaat dengan sangat baik di seluruh Indonesia. Kapan lagi bisa melihat Indonesia bisa melakukan pembayaran (seperti makan, bus/trans-kota, dll) tanpa harus berinteraksi dengan uang. Semoga lebih safety juga. (IP)

Sosialisasi Less cash society (LCS) di universitas Indonesia

@Kantin Prima PAU, FISIP, & FKM

(17 September – 4 Oktober 2013)

Bazaar LCS UI

@Perpustakaan UI

(1-4 Oktober 2013)

Jakarta Hidden Tour or the Real of Jakarta

29 Aug

Ada yang tau dengan semboyan “Enjoy Jakarta”?

Jika masih ada yang belum tau,  maka semboyan tersebut adalah semboyan untuk Jakarta Tour / Wisata di Jakarta oleh Pariwisata Indonesia.

Benar?! Awalnya saya tidak sama sekali punya komentar tentang semboyan ini. Saya hanya menikmati tahun-tahun pertama saya tinggal di Jakata untuk pendidikan tentunya. Namun seiringan dengan waktu, saya mulai merasakan kesesakan di Jakarta terutama tentang lalu lintas yang tidak pernah habisnya.

Saya atau tepatnya status saya yang pernah menjadi salah satu staf magang di salah satu kampus di Indonesia, pernah mendapatkan ‘seabreg’ buku panduan (guide books) tentang Jakarta. Buku-buku itu diberikan oleh Mentri Pariwisata Indonesia untuk membantu apabila ada mahasiswa asing yang berminat dengan wisata di Jakarta. Dan pada buku panduan itu terpampang dengan jelas semboyan wisata Jakarta.

Kembali ke soal semboyan. Sebenarnya saya pernah bergumam sendiri mengapa semboyan itu terdengar kurang nyaman di telinga. Seolah menjawab kebingungan saya, bos saya bergumam “apanya yang Enjoy Jakarta. Orang macet dimana-mana?!”.

Benar?! Saya rasa itu jawaban yang tepat untuk membantu rasa kekurang nyamanan saya terhadap semboyan tersebut.

Pemikiran ini jauh terlintas, setidaknya sekitar tahun 2011.

Hingga pada 28 Agustus 2013 di salah satu Talk Show Favorite Trans7 ‘Hitam Putih’ dengan menghadirkan pembicara Ronny Poluan (Lulusan Institut Kesenian Jakarta (IKJ)). Beliau adalah pendiri dari Jakarta Hidden Tour. Dalam tour-nya para tourism akan disajikan wisata yang jauh berbeda dari biasanya. Tetap ada sisi keindahan dan keramahan, namun bukan hal-hal yang dipandang positif bagi Jakrata. Bila ingin tau lebih detil apa yang ditawarkan dapat dilihat pada halaman berikut: http://realjakarta.blogspot.com/

Acara yang berlangsung ‘live’ itu sangat menyegarkan hati dan pikiran. Seolah mengangkat kembali rasa kurang nyaman pada tahun 2011, Mas Ronny mampu memberikan dan menjelaskan pengertian wisata versi beliau.

Jakarta pada kenyataannya memang tidak dapat dikatakan Ibu Kota yang Indah, seperti Ibu Kota di Negara luar lainnya. Macam jenis ‘keruetan’ di pusat Ibu Kota Negara Indonesia bisa jadi adalah awal dari ketidak-lahirannya kenyamanan di Kota sendiri. “yaa, bagaimana bisa dibilang alami. Bila gedung-degung tua di Jakarta kini telah mengalami banyak modifikasi. Dari sisi mana yang bisa kita nilai dengan sejarahnya. Kalian tau di sepanjang Bundaran Hotel Indonesia itu hanya gedung Duta Inggris yang masih alami bagunan tua, yang lainnya sudah mengalami modifikasi/moderenisasi”

Penjelasan dari Mas Ronny membuat saja menanggukan kepala. Seakan-akan sependapat, Mas Ronny pun mempertegas dengan mengatakan “jadi sangat jelas bahwa negara asing lah yang lebih mengahargai sejarah di negara kita”.

Sebenarnya saya tidak menyalahkan ataupun membenarkan argument itu, namun argument itu akan menjadi sangat benar karena memang tidak ada tindakan tegas dari pemerintah terutama menyangkut sejarah atau wisata di Jakarta.

Coba kita lihat di Negara Singapore. Indah, bukan?!. Negara itu masih negara yang kecil wilayahnya bila dibandingkan dengan Indonesia. Tapi mengapa Singapore lebih terdengar popular di negara orang?!. Alasan pribadi saya adalah karena Indah dan nyaman. Singapore itu sangat sedikit bangunan tuanya. Tapi mereka memanfaatkan juga bagunan modern dengan sangat maksimal.

Oke. Memang sih Jakarta tidak dapat dikatakan nyaman kerena masih ada ‘macet’, tapi Jakarta masih bisa di buat Indah kok. Bagaimana caranya?!

Bila kita tidak dapat memaksimalkan kota di waktu siang, maka manfaatkan dengan sangat maksimal disaat malam hari. Tambahkan saja keindahan itu pada saat malam hari. Hiasi seluruh bagian Jakarta dengan lampu-lampu warna-warni yang Indah dengan aneka bentuk dan rupa sehingga memberikan kesan bintang bertaburan di Jakarta. Bukankah pada saat malam harilah, Jakarta lebih sepi. Bebas ‘macet’ kan. Dan ini bisa juga digunakan oleh kota-kota di Indonesia loch. Saya rasa masih belum ada istilah night tour.

Jika nilai wisata di Indonesia berubah lebih baik dari sisi manapun, mungkin kita bisa sedikit merubah semboyannya menjadi “The Queen of Asian” itu menurut Mas Ronny. Atau bisa menjadi “Asian star” ini menurut saya hehe…

Tapi bila masih ada masalah seperti tidak aman dan itu menghabiskan banyak energy listrik?!

Benar. Bila egois, memang pasti akan sangat berbahaya. Kalau begitu kita tidak akan sama sekali ada perubahan dan tidak dapat belajar dari orang lain.

Kita masih akan sama seperti tahun lalu, tahun ini dan tahun depan.

–Maaf bila ada keegoisan dalam sharing saya kali ini. (IP)

Smart child

20 Aug

Malam itu terasa sedikit membosankan. Apapun yang ingin aku lakukan menjadi serba salah. Ingin nonton TV nggak ada yang bagus. Ingin baca buku, baru minggu lalu aku selesaikan. Pilihan tinggal dua membaca komik Conan atau makan. Akhirnya aku memilih untuk membaca komik setidaknnya hingga magrib usai.

Bersebelahan dengan menonton acara favorit Hitam Putih, aku pun hampir menyelesaikan komik Conan dalam sekejap. Dan tidak terasa perutku sudah mulai berteriak untuk diisi sesuatu. Yaaa karena malam ini aku malas memasak nasi, aku putuskan hanya menggantinya dengan mie dan telur. Alhasil aku turun dari kamar untuk menuju dapur kosan.

Terlihat disana satu keluarga kecil yang berstatus penjaga kosanku sedang bercengkraman ria. Menceritakan pengalaman hari ini bersama kedua anak perempuannya. Anak pertama panggilannya Fitri (10 tahun) dan kedua panggilannya Puput (7 tahun). Mereka masing-masing masih duduk di bangku sekolah dasar.

“Halo Ibu…” sapaku malam itu

“eh, ada kak Indah. Makan kak?”

“Iya nih, lagi pingin makan mie sama telur bu”

“wah..tadi saya juga makan mie bareng anak-anak. Habis saya males masak, Kak”

“Oh..jadi udah pada makan semua nih. Padahal kakak mau masak-in loch” candaku pada Fitri dan Puput yang tampak malu

Akhirnya aku memfokuskan mie dan panciku. Sambil sedikit mendengarkan percakapan keluarga itu sih. Bukan sengaja untuk menguping. Tapi aku itu ‘mau tidak mau’ pasti mendengar percakapan mereka dimana posisi percakapannya berada di belakangku.

“Kak, ini bacanya gimana?” tanya Puput sambil jongkok memperhatikan buku di depan kakaknya.

“A-ni-sha Fi-tri-a” eja Fitri.

“loh kok ‘a’ dibaca ‘ya’. Salah dong kak. Seharusnya nama kaka itu dibaca ‘A-ni-sha Fi-tri-a’ dengan mengeja huruf ‘a’ jelas bukan menjadi ‘iya’” balas Puput cukup polos dan serius

“Bukan. Tapi membacanya ‘Fi-tri-ya’ bukan ‘Fi-tri-a’” bantah kakaknya

“lah ini kan huruf ‘a’ bukan ‘ya’ kak? ‘y’nya mana kak?”

“Lah, kakak itu salah. Nama kamu itu pakai ‘ya’ bukan ‘a’ toh kak” kata Ibu yang sedikit membuat Fitri bingung

“jadi gini toh bu A-ni-sha Fi-tri-ya” perbaikan Fitri sambil menuliskan namanya sendiri

“iya”

Berakhirlah aku mendengarkan percakapan mereka. Karena makananku sudah aku selesaikan.

“Ibu, aku keatas ya. Mari makan semuanya” sapaku sebagai penutup.

“iya, kak Indah”

Sebenarnya selama proses masak dan mendengarkan percakapan aku sedikit menahan nafsu untuk ikut bergabung bersama mereka. Alasannya hanya ingin tau saja, pola pikir anak-anak itu seperti apa. Yaa sambil senyum-senyum aku hanya memikirkan bahwa anak kecil memang polos. Susah untuk dibodohi. Sepintar apapun kita, mereka jauh polos. Aku rasa percakapan mereka tidak ada yang salah. Hanya saja itu akan menentukan bagaimana seorang guru harus pandai menjelaskan pengejaan yang benar dalam Bahasa Indonesia. Aku rasa itu akan sangat penting bagi pemahaman mereka.

–atau jangan-jangan selama ini aku juga belum mengenal Bahasaku sendiri– 😀 (IP)

UAN Untuk Kecerdasan Siapa?

19 Apr

Pagi ini (19/4) seperti tidak ada pekerjaan akibat datang terlalu pagi saya menyempatkan diri untuk membuka my twitter (@indah_liner). Mencoba rollback history, saya justru menemukan tweet yang melampirkan berita berjudul “Ujian nasional lebih banyak mudarat ketimbang manfaat”. Selain itu, mungkin secara kebetulan atau memang berjodoh saya sempat menonton salah satu acara favorit di Trans7 yaitu Hitam Putih yang juga membahas mengenai tujuan Ujian Akhir Nasional (UAN) di Indonesia. Dan karena itulah saya rasa hal ini perlu saya tuliskan pada blog ini agar teman-teman juga dapat memberikan pendapatnya.

Sebenarnya permasalahan terkait pendidikan di Indonesia sudah sering diungkit bahkan hampir setiap tahun. Saya sendiri adalah salah satu yang dahulu pernah mengikuti UAN baik SMP dan SMA. Masalah seperti ini yang terjadi di dalam dunia pendidikan di Indonesia memang menjadi sangat rumit. Kali ini saya akan mengungkapkan beberapa hal mengenai UAN di Indonesia untuk siswa. This is fully my opinion about UAN in Indonesia.

Mengapa sih UAN itu penting? Apakah nilai UAN membantu saya untuk mendapatkan Universitas yang saya inginkan secara cuma-cuma?. Dan jawaban yang saya terima adalah tidak. Bahkan ketika saya melamar ke kampus yang saya inginkan nilai UAN belum keluar yang berlaku hanya rapor dari semester 1 hingga 5 di SMA saja. Jalur masuk yang ditawarkan dari kampuspun tidak ada yang menyatakan secara terang-terangan bahwa NILAI UAN sangat penting. Namun saat itu saya hanya berfikir bahwa saya tetap wajib lulus UAN karena justru tidak lulus UAN lah yang membuat saya tidak dapat melanjutkan kuliah. Jadi apa sebenarnya fungsi UAN karena saya justru mengakhawatirkan bahwa UAN lah yang menjadi penyebab fungsi peendidikan di Indonesia mati.

Mungkin UAN dianggap oleh dewan pendidikan sebagai ajang menunjukkan dan meningkatkan kwualitas pendidikan di Indonesia. Tapi saya rasa tidak ada yang berubah, justru dengan adanya UAN lebih banyak siswa yang melakukan kecurangan dalam pendidikan. Karena siapapun pasti tidak mau terhambat pendidikan dan karirnya hanya karena kesalahan dari UAN. Kalau memang Dewan Pendidikan hanya memikirkan untuk menunjukkan dan meningkatkan kwualitas, bukankah para siswa telah bersekolah di setiap hari sekolah yang dikatakan kewajiban mereka untuk sekolah. Tapi kenapa mereka tidak mendapatkan hak atas kelulusan mereka setelah hampir setiap hari sekolah.

Dalam keseharian di sekolahpun mereka melakukan pembelajaran, tes pengetahuan, ujian, praktik dan sebagainya yang saya anggap sudah menunjukkan kwualitas siswa tersebut. Bersaing satu sama lain adalah satu bentuk keberanian dan pertanggunjawaban si pelaku. Bukankah persaingan dalam pendidikan dapat dikatakan suatu cara untuk membuktikan kwualitas siswa dan sekolah.

Oke jika Dewan Pendidikan masih bersikeras bahwa UAN wajib dilakukan bagi para siswa. jadi dapat dikatakan bahwa kehidupan para siswa hanya ditentukan dari 3/4 hari pelaksanaan UAN saja. Benar?

Dengan demikian saya rasa datang ke sekolah tidak perlu diwajibkan, bagaimana?. Saya pikir membiarkan siswa bebas memilih bagaimana cara belajar mereka sendiri untuk menghadapi UAN tersebut adalah perlu dicoba. Jadi terserah mereka memilih sistem belajar seperti apa dan mereka pastinya telah memikirkan apakah mereka ingin lulus UAN atau tidak dari jauh-jauh hari. Memikirkan UAN itu wajib dan menjadi penghalang untuk bisa lanjut kuliah, saya rasa punya tekanan tersendiri bagi saya dulu. Jadi dengan memutuskan datang ke sekolah tidak wajib membuat dan memaksa saya untuk memilih saya ingin lulus UAN atau tidak. Bila iya saya harus belajar dan terserah saya belajar yang seperti apa yang saya pilih.

Tapi maaf, bisa dikatakan fungsi sekolah hanya sebuah nama saja bila demikian. Jadi siswa terdaftar sebagai siswa suatu sekolah tapi tidak wajib datang ke sekolah. Tidak ada uang bulanan sekolah, Tidak ada absen, tidak ada teman, tidak ada organisasi, tidak ada seragam sekolah, tidak ada ujian kelas, tidak ada quiz dll yang dianggap memakan waktu untuk belajar fokus sesuai targat yaitu UAN. Saran ini resikonya sangat besar karena kembali ke individu siswa dan lingkungan. Namun penghematan untuk pengeluaran sekolah menjadi teratasi. Ini juga memungkinkan lebih banyak tempat sekolah terbuka seperti bimbel/khursus-khursus dibanding sekolah umum.

Ya semua itu pilihan dan penawaran yang pernah saya pikirkan tentang sekolah.

Belajar dan berpengetahuan itu wajib untuk mereka yang hidup. Namun bagaimana cara kita untuk menjadi seseorang yang berpendidikan, kita sendirilah yang memutuskan. *Tidak ada yang tau dari arah manakah ilmu akan datang. Itu tergantung bagaimana kamu menyikapi hidupmu.* (IP)

Menjadi Lebih Baik atau Tidak Sama Sekali

18 Apr

Hari ini (18/4) kembali PT KAI beraksi untuk melakukan penggunsuran terhadap hal-hal diluar kebutuhan utama adanya kereta api dengan tujuan untuk menambah dan pemperbaiki kenyamanan penumpang kereta api di Indonesia itu sendiri. Aksi kali ini direncanakan di Stasiun Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Sesas desus yang terdengar adalah PT KAI akan menggusur pedagang-pedangan yang berada di sekitar Stasiun (beberapa meter dari lokasi).

Keputusan dan tindakan dari PT KAI ini dianggap oleh beberapa kalangan merupakan tindakan yang menentang hak asasi masyarakat Indonesia. Yaitu tentang HAM: “Setiap orang berhak atas pemenuhan kebutuhan dasarnya untuk tumbuh dan berkembang secara layak”. Dan sebagai bentuk perlawanan, terdengar kabar bahwa akan ada unjuk rasa dari pedagang setempat yang ‘mungkin’ juga akan didukung oleh mahasiswa sekitarnya.

Berikut ulasan yang saya baca:

BIENgxbCMAIe0Fs.jpg largeSecara pribadi saya setuju dengan tindakan PT KAI dalam memutuskan dan bertindak tegas terhadap hal-hal yang ditunjukkan sebagai bentuk pembersihan area kereta api. Karena saya sendiri sejak lama memimpikan area yang rapi, teratur dan akibatnya membuat saya lebih nyaman berada disekitarnya. Ini bukan mengartikan bahwa saya membenci adanya pedagang di area stasiun. Namun saya pribadi menjadi lebih nyaman bila Negara Indonesia menjadi lebih teratur.

Sebagai awalan ini mungkin berat bagi dua belah pihak. Tidak mungkin secara egois PT KAI bertindak keras kepada rakyat kecuali mereka telah memikirkan kelanjutan dari tindakan mereka. Hanya saja, mungkin kita yang tidak tau.

Sering kali, saya atau beberapa orang yang pernah berdiskusi bersama mengharapkan “Kapan Indonesia menjadi TERTIB terutama Jakarta yang merupakan Ibu Kota Negara yang notabennya banyak negara asing akan mengomentari”. Bukankah tidak nyaman bila Indonesia hanya dikenal di mata negara asing hanya bila kita menyebutkan BALI bukan Indonesia apalagi JAKARTA. Sebagai contoh atau cambukan ‘hinaan’ terhadap Indonesia adalah ‘JB berkata Indonesia, dimana itu, entahlah di suatu tempat yang antah berantah!‘. Menyakitkan bukan mendengarnya. Bukan! maksud saya bukan masalah hinaan itu namun apakah alasan JB memberikan komentar tentang Indonesia seperti itu. Pernah memikirkannya?! saya rasa hanya beberapa dari kalian saja.

Mungkinkah salah satu alasan dibalik hinaan itu adalah fasilitas Indonesia yang tidak membuatnya nyaman, sehingga tidak ada kesan yang tertinggal dari Indonesia. Maka bersama ini saya mengharapkan bantuan pembaca untuk melakukan tindakan yang melahirkan KETERTIBAN dan kenyamanan untuk Indonesia.

Saya tidak tau dalam bentuk apa para pembaca akan berkontribusi menertipkan Indonesia. Bisa jadi dengan menggunakan helm ketika bermotor, mematuhi lalu lintas tanpa protes, memberikan hak kepada pejalan kaki, menyebrang pada tempatnya alias di jembatan penyebrangan atau zebra cross, tidak menghentikan kendaraan di sembarang tempat, membuang sampah pada tempatnya dan sebagainya.

Sekali lagi saya mengatakan bahwa saya bukan mengungkit masalah penggusuran, namun apa yang saya komentari ini adalah lebih ke masalah ketertiban di Indonesia yang semakin lama semakin sulit untuk dibenahi bila tidak dimulai dari sekarang. Terima kasih. (IP)