Menghitung Rating Pertelevisian

2 Oct

Hi! Baiklah, kali ini saya akan membahas soal “Rating” sinetron maupun acara pertelevisian di Indonesia. Bagaimana sebenernya cara menghitung dan mengetahui kapan acara tersebut sedang bagus ratingnya? dan untuk apa sebenarnya fungsi rating itu sendiri?

Pertama-tama saya katakan dan akui dahulu kalau aku bukanlah orang yang pakem/ahli di bidang pertelevisian. Jadi kalau ada yang salah dalam penunilsan ini, mohon dimaafkan dan diperbaiki saja mana yang salahnya.

Suatu acara pertelevisian akan dinilai baik dan pantas ditonton yaitu dapat dilihat dari rating acara itu sendiri. Rating diperoleh dari jaringan/saluran pertelevisian di Indonesia. Saluran tersebut sedemikian rupa diatur untuk dapat menampilkan suatu diagram yang dapat dilihat dan dinilai statusnya. Penilaian status merupakan perhitungan di setiap detiknya saluran acara yang ditonton oleh masyarakatnya. Penilaian status ini ada yang tinggi dan rendah, menjadikannya sebuat rating dalam presentase. Dengan Rating tersebut, suatu saluran tv atau acara tv dapat memperoleh iklan dan keuntungan sponsor lainnya. Jadi rating yang tinggi akan membantu besar dalam suksesnya suatu stasiun tv.

Namun sayangnya, bagi saya sendiri pemahaman mengenai rating cukup mengecewakan terutama di setelah melihat acara tersebut. Ada seseorang yang berkoar-koar “yes, acara kami menang pernghargaan ini dan itu karena kami dapat mempertahankan rating acara kami”. sebenarnya ungkapan tersebut tidaklah aneh. Namun sedikit menjengkelkan jika justru yang mendapatkan penghargaan adalah acara itu-itu saja selama bertahun-tahun. Bukankah rating tersebt menjadi sebuah pertanyaan.

kita contohkan saja misalnya acara X di stasiun tv Y. dan acara A di stasiun tv B.

Y dan B merupakan stasiun TV ternama yang tentu saja salurannya dapat di terima oleh seluruh bagian di Indonesia. bahkan Y dan B lebih jernih diterima di pulau We dari pada siaran tv lokal (HHH). Pokoknya Ydan B jernih banget deh. Jadi Y dan B akan ada di semua TV di Indonesia.

X dan A adalah acara musik. X tanyang pukul 7-9 pagi dan A tayang pukul 9-11 pagi.

Asumsinya adalah X kepagian sehingga beberapa penikmat musik masih terlelap di balik selimutnya. A sukses berat karena semua penikmat musik sudah bangun.

Jika dilihat memang keduanya memiliki jenis acara yang sama namun jam tayang yang berbeda itu membuat saya sedikit aneh bila X dan A justru menjadi nominasi bersamaan. belum lagi secara sepihak kita lihat bahwa sebenarnya tidak semua orang yang menghidupkan Y pasti menonton X begitu pula dengan A dan B. Tidakkah Y perpikir jika saya menonton Y mungkin sebabnya karena tidak ada siaran lain yang dapat saya tonton kecuali Y.

Hal yang sama juga sempat saya pikirkan misalnya sola rating sinetron dan/atau playlist music. Musik udah update kemana-mana eh playlistnya masih yang itu-itu aja. Seharusnya kan diupdate juga.

Saya masih mengakui perhitungan yang cukup baik soal playlist music itu pas jamannya MTV Ampuh. XD

Sebenarnya persaingan ini terlihat tidak sehat dan sedikit membingungkan. tapi ya sudahlah. Nasi sudah menjadi bubur, dari pada tidak ada gunanya mending tambahin cakwe sekalian. Jadi enak  deh itu bubur 🙂 (IP)

Uang Elektronik: Less Cash Society (LCS)

18 Sep

Tahun 2013, Indonesia kembali mencoba mengembangkan sistem elektronik untuk masyarakat. Bank Indonesia bersama dengan bank-bank di Indonesia lainnya berkerja saja untuk membangun dan menyeimbangkan perekonomian di Indonesia. Tujuan sederhananya adalah mengurangi biaya pencetakan uang, mencegah pencucian uang, dan mempercepat velocity of money.

Uang Elektronik (Less Cash) yaitu sebuah card yang berfungsi sebagai pengganti uang. Caranya mungkin sama dengan penggunaan e-tol/e-tiket kereta yang telah lebih dulu luncur di masyarakat Indonesia. Pengguna/pemilik dapat melakukan pembayaran hanya dengan menempelkan card dan dapat melakukan pengisian perdana. Meskipun masa uji coba baru dilakukan di lingkungan Universitas Indonesia, Less Cash ini cukup mencuri perhatian masyarakat UI. Saya sendiri berharap pengeluaran uang rupiah/pencetakan uang dapat dikurangi. ‘yaa, agak miris juga sih melihat mata uang kita menjadi sangat rendah belakangan ini’. Saya bukan ahlinya bila ingin mambahas soal mata uang kita lebih dalam –sorry. Yang saya tau adalah masih banyak PK (Pekerjaan Kantor) di bidang ekonomi Indonesia.

Semoga dengan adanya Less Cash ini dapat bermanfaat dengan sangat baik di seluruh Indonesia. Kapan lagi bisa melihat Indonesia bisa melakukan pembayaran (seperti makan, bus/trans-kota, dll) tanpa harus berinteraksi dengan uang. Semoga lebih safety juga. (IP)

Sosialisasi Less cash society (LCS) di universitas Indonesia

@Kantin Prima PAU, FISIP, & FKM

(17 September – 4 Oktober 2013)

Bazaar LCS UI

@Perpustakaan UI

(1-4 Oktober 2013)

Jakarta Hidden Tour or the Real of Jakarta

29 Aug

Ada yang tau dengan semboyan “Enjoy Jakarta”?

Jika masih ada yang belum tau,  maka semboyan tersebut adalah semboyan untuk Jakarta Tour / Wisata di Jakarta oleh Pariwisata Indonesia.

Benar?! Awalnya saya tidak sama sekali punya komentar tentang semboyan ini. Saya hanya menikmati tahun-tahun pertama saya tinggal di Jakata untuk pendidikan tentunya. Namun seiringan dengan waktu, saya mulai merasakan kesesakan di Jakarta terutama tentang lalu lintas yang tidak pernah habisnya.

Saya atau tepatnya status saya yang pernah menjadi salah satu staf magang di salah satu kampus di Indonesia, pernah mendapatkan ‘seabreg’ buku panduan (guide books) tentang Jakarta. Buku-buku itu diberikan oleh Mentri Pariwisata Indonesia untuk membantu apabila ada mahasiswa asing yang berminat dengan wisata di Jakarta. Dan pada buku panduan itu terpampang dengan jelas semboyan wisata Jakarta.

Kembali ke soal semboyan. Sebenarnya saya pernah bergumam sendiri mengapa semboyan itu terdengar kurang nyaman di telinga. Seolah menjawab kebingungan saya, bos saya bergumam “apanya yang Enjoy Jakarta. Orang macet dimana-mana?!”.

Benar?! Saya rasa itu jawaban yang tepat untuk membantu rasa kekurang nyamanan saya terhadap semboyan tersebut.

Pemikiran ini jauh terlintas, setidaknya sekitar tahun 2011.

Hingga pada 28 Agustus 2013 di salah satu Talk Show Favorite Trans7 ‘Hitam Putih’ dengan menghadirkan pembicara Ronny Poluan (Lulusan Institut Kesenian Jakarta (IKJ)). Beliau adalah pendiri dari Jakarta Hidden Tour. Dalam tour-nya para tourism akan disajikan wisata yang jauh berbeda dari biasanya. Tetap ada sisi keindahan dan keramahan, namun bukan hal-hal yang dipandang positif bagi Jakrata. Bila ingin tau lebih detil apa yang ditawarkan dapat dilihat pada halaman berikut: http://realjakarta.blogspot.com/

Acara yang berlangsung ‘live’ itu sangat menyegarkan hati dan pikiran. Seolah mengangkat kembali rasa kurang nyaman pada tahun 2011, Mas Ronny mampu memberikan dan menjelaskan pengertian wisata versi beliau.

Jakarta pada kenyataannya memang tidak dapat dikatakan Ibu Kota yang Indah, seperti Ibu Kota di Negara luar lainnya. Macam jenis ‘keruetan’ di pusat Ibu Kota Negara Indonesia bisa jadi adalah awal dari ketidak-lahirannya kenyamanan di Kota sendiri. “yaa, bagaimana bisa dibilang alami. Bila gedung-degung tua di Jakarta kini telah mengalami banyak modifikasi. Dari sisi mana yang bisa kita nilai dengan sejarahnya. Kalian tau di sepanjang Bundaran Hotel Indonesia itu hanya gedung Duta Inggris yang masih alami bagunan tua, yang lainnya sudah mengalami modifikasi/moderenisasi”

Penjelasan dari Mas Ronny membuat saja menanggukan kepala. Seakan-akan sependapat, Mas Ronny pun mempertegas dengan mengatakan “jadi sangat jelas bahwa negara asing lah yang lebih mengahargai sejarah di negara kita”.

Sebenarnya saya tidak menyalahkan ataupun membenarkan argument itu, namun argument itu akan menjadi sangat benar karena memang tidak ada tindakan tegas dari pemerintah terutama menyangkut sejarah atau wisata di Jakarta.

Coba kita lihat di Negara Singapore. Indah, bukan?!. Negara itu masih negara yang kecil wilayahnya bila dibandingkan dengan Indonesia. Tapi mengapa Singapore lebih terdengar popular di negara orang?!. Alasan pribadi saya adalah karena Indah dan nyaman. Singapore itu sangat sedikit bangunan tuanya. Tapi mereka memanfaatkan juga bagunan modern dengan sangat maksimal.

Oke. Memang sih Jakarta tidak dapat dikatakan nyaman kerena masih ada ‘macet’, tapi Jakarta masih bisa di buat Indah kok. Bagaimana caranya?!

Bila kita tidak dapat memaksimalkan kota di waktu siang, maka manfaatkan dengan sangat maksimal disaat malam hari. Tambahkan saja keindahan itu pada saat malam hari. Hiasi seluruh bagian Jakarta dengan lampu-lampu warna-warni yang Indah dengan aneka bentuk dan rupa sehingga memberikan kesan bintang bertaburan di Jakarta. Bukankah pada saat malam harilah, Jakarta lebih sepi. Bebas ‘macet’ kan. Dan ini bisa juga digunakan oleh kota-kota di Indonesia loch. Saya rasa masih belum ada istilah night tour.

Jika nilai wisata di Indonesia berubah lebih baik dari sisi manapun, mungkin kita bisa sedikit merubah semboyannya menjadi “The Queen of Asian” itu menurut Mas Ronny. Atau bisa menjadi “Asian star” ini menurut saya hehe…

Tapi bila masih ada masalah seperti tidak aman dan itu menghabiskan banyak energy listrik?!

Benar. Bila egois, memang pasti akan sangat berbahaya. Kalau begitu kita tidak akan sama sekali ada perubahan dan tidak dapat belajar dari orang lain.

Kita masih akan sama seperti tahun lalu, tahun ini dan tahun depan.

–Maaf bila ada keegoisan dalam sharing saya kali ini. (IP)

Smart child

20 Aug

Malam itu terasa sedikit membosankan. Apapun yang ingin aku lakukan menjadi serba salah. Ingin nonton TV nggak ada yang bagus. Ingin baca buku, baru minggu lalu aku selesaikan. Pilihan tinggal dua membaca komik Conan atau makan. Akhirnya aku memilih untuk membaca komik setidaknnya hingga magrib usai.

Bersebelahan dengan menonton acara favorit Hitam Putih, aku pun hampir menyelesaikan komik Conan dalam sekejap. Dan tidak terasa perutku sudah mulai berteriak untuk diisi sesuatu. Yaaa karena malam ini aku malas memasak nasi, aku putuskan hanya menggantinya dengan mie dan telur. Alhasil aku turun dari kamar untuk menuju dapur kosan.

Terlihat disana satu keluarga kecil yang berstatus penjaga kosanku sedang bercengkraman ria. Menceritakan pengalaman hari ini bersama kedua anak perempuannya. Anak pertama panggilannya Fitri (10 tahun) dan kedua panggilannya Puput (7 tahun). Mereka masing-masing masih duduk di bangku sekolah dasar.

“Halo Ibu…” sapaku malam itu

“eh, ada kak Indah. Makan kak?”

“Iya nih, lagi pingin makan mie sama telur bu”

“wah..tadi saya juga makan mie bareng anak-anak. Habis saya males masak, Kak”

“Oh..jadi udah pada makan semua nih. Padahal kakak mau masak-in loch” candaku pada Fitri dan Puput yang tampak malu

Akhirnya aku memfokuskan mie dan panciku. Sambil sedikit mendengarkan percakapan keluarga itu sih. Bukan sengaja untuk menguping. Tapi aku itu ‘mau tidak mau’ pasti mendengar percakapan mereka dimana posisi percakapannya berada di belakangku.

“Kak, ini bacanya gimana?” tanya Puput sambil jongkok memperhatikan buku di depan kakaknya.

“A-ni-sha Fi-tri-a” eja Fitri.

“loh kok ‘a’ dibaca ‘ya’. Salah dong kak. Seharusnya nama kaka itu dibaca ‘A-ni-sha Fi-tri-a’ dengan mengeja huruf ‘a’ jelas bukan menjadi ‘iya’” balas Puput cukup polos dan serius

“Bukan. Tapi membacanya ‘Fi-tri-ya’ bukan ‘Fi-tri-a’” bantah kakaknya

“lah ini kan huruf ‘a’ bukan ‘ya’ kak? ‘y’nya mana kak?”

“Lah, kakak itu salah. Nama kamu itu pakai ‘ya’ bukan ‘a’ toh kak” kata Ibu yang sedikit membuat Fitri bingung

“jadi gini toh bu A-ni-sha Fi-tri-ya” perbaikan Fitri sambil menuliskan namanya sendiri

“iya”

Berakhirlah aku mendengarkan percakapan mereka. Karena makananku sudah aku selesaikan.

“Ibu, aku keatas ya. Mari makan semuanya” sapaku sebagai penutup.

“iya, kak Indah”

Sebenarnya selama proses masak dan mendengarkan percakapan aku sedikit menahan nafsu untuk ikut bergabung bersama mereka. Alasannya hanya ingin tau saja, pola pikir anak-anak itu seperti apa. Yaa sambil senyum-senyum aku hanya memikirkan bahwa anak kecil memang polos. Susah untuk dibodohi. Sepintar apapun kita, mereka jauh polos. Aku rasa percakapan mereka tidak ada yang salah. Hanya saja itu akan menentukan bagaimana seorang guru harus pandai menjelaskan pengejaan yang benar dalam Bahasa Indonesia. Aku rasa itu akan sangat penting bagi pemahaman mereka.

–atau jangan-jangan selama ini aku juga belum mengenal Bahasaku sendiri– 😀 (IP)

Learn from DramaTV: The Queen Classroom

16 Aug

Memang terdengar sangat menyedihkan apabila karakter dalam sebuah drama TV adalah sebuah kenyataan. Tapi peristiwa didalam sebuah drama TV biasanya mengadung setidaknya 15% hal nyata. Mengapa aku dapat mengatakan demikian?! Bukan karena aku sudah melakukan sebuah penelitian khusus, namun lebih kurang itu sebuah feeling semata. Salah bila aku berfikir demikian?!. Tidak.

Menurutku tidak akan jadi sebuah drama TV yang baik kalau tidak bisa menyampaikan apa yang juga dirasakan oleh penulisnya. Itulah mengapa sebuah drama TV biasanya mengandung hal yang nyata. Atau sebaliknya, biasanya sikap penonton akan menirukan apa yang mereka lihat, salah satunya drama TV. Dan ini juga dapat membuat drama TV menjadi nyata dikemudian hari. Bukankah kita tidak akan percaya bahwa “Ibu Tiri” itu biasannya jahat kalau bukan dari drama TV “Cinderella”. Padahal tidak semua Ibu Tiri itu jahat, tapi memang ada beberapa kasus Ibu Tiri yang memiliki kejutan.

Kali ini aku akan sedikit mengulas cerita dari sebuah Drama TV Korea tahun 2013 berjudul The Queen Classroom. Sebenarnya drama TV ini adalah drama recycle dari drama TV Jepang tahun 2005 dengan judul yang sama persis. Mungkin perbedaannya adalah budaya dan suasana yang menjadi sedikit lebih modern. Ini kisah anak sekolah yang masih ingin mencari kesenangan dunia dan dalam proses pencarian jati diri. Kisah siswa kelas 6 SD yang akan memulai perjalanan baru yang dirasa akan lebih rumit pasca kelulusannya. Ide cerita sebenarnya cukup sederhana.

Sikap Diskriminasi.

Benar, sikap diskriminasi sebenarnya adalah hal yang lumrah terjadi dalam kehidupan serumit apapun. Bahkan bisa juga menimpa dirimu dalam keluargamu sendiri. Karena sikap diskriminasi akan muncul disaat seseorang mulai membandingkan antar satu dan lainnya. Namun drama TV ini menjadi menarik karena pelaku diskriminasi adalah seorang siswa dan korban adalah siswa lainnya. Belum lagi situasi diskriminasi yang dilakukan dapat mengakibatkan hilangnya nyawa orang lain. Sikap diskriminasi oleh dan kepada siswa yang seharusnya dunia mereka masih dipenuhi dengan kebahagiaan dan permainan. Ini tidak benar, bukan?

Drama TV ini baik untuk seorang guru yang memiliki pendirian kuat dan benar-benar ingin dianggap sebagai pahlawan tanpa jasa. Seorang guru seharusnya berhasil mendidik siswa bukan hanya dari hal-hal dapat dinilai dengan kasat mata melainkan juga berhasil mendidik siswa sehingga menghasilkan sebuah ketulusan dan penilaian dari hati. Menjadi seorang guru yang pintar dan baik tentunya dapat dilakukan oleh banyak orang namun menjadi Guru yang menginggalkan kesan Istimewa bagi siswa sehingga siswa itu berani berlari disaat sang guru membutuhkannya, aku rasa itu akan cukup sulit.

Dalam ceritanya, pembelajaran yang diberikan tidak hanya tampak dari sisi siswa namun juga dari sisi guru. Siswa yang baik seharusnya mampu membedakan dari sisi mana seorang guru dapat dinilai baik atau jahat. Jangan takut untuk bertanya dan mencari tau pokok permasalahannya. Karena sekolah bukan hanya sekedar –Guru memberikan masalah dan Siswa yang menyelesaikannya. Ada sebuah alasan, mengapa seorang guru bersikap demikian dihadapanmu, ‘mungkin’. Dan cobalah untuk positive thinking. (IP)

Berikut kutipan dari seorang siswa dalam drama TV The Queen Classroom:

Bukannya aku tidak percaya pada mimpi yang tidak mungkin.

Aku percaya pada kemungkinannya.

Guru hanya membimbing. Anak-anak yang menemukan jalannya sendiri, merubah hidup mereka dan dunianya untuk hidup yang lebih baik.

Mendapatkan kampus yang bagus dan pekerjaan yang bagus tidak bisa menjadi tujuan.

Ujian atau nilai bukan segalanya.

Percayailah apa yang kamu percayai.

Tidak masalah melakukan kesalahan. Tidak masalah jika gagal.

Saat aku bahagia, temanku juga harus bahagia.

Anggaplah dirimu berharga, dan anggaplah temanmu juga berharga, jadi kau bisa hidup bahagia hari ini bersama teman-temanmu.

UAN Untuk Kecerdasan Siapa?

19 Apr

Pagi ini (19/4) seperti tidak ada pekerjaan akibat datang terlalu pagi saya menyempatkan diri untuk membuka my twitter (@indah_liner). Mencoba rollback history, saya justru menemukan tweet yang melampirkan berita berjudul “Ujian nasional lebih banyak mudarat ketimbang manfaat”. Selain itu, mungkin secara kebetulan atau memang berjodoh saya sempat menonton salah satu acara favorit di Trans7 yaitu Hitam Putih yang juga membahas mengenai tujuan Ujian Akhir Nasional (UAN) di Indonesia. Dan karena itulah saya rasa hal ini perlu saya tuliskan pada blog ini agar teman-teman juga dapat memberikan pendapatnya.

Sebenarnya permasalahan terkait pendidikan di Indonesia sudah sering diungkit bahkan hampir setiap tahun. Saya sendiri adalah salah satu yang dahulu pernah mengikuti UAN baik SMP dan SMA. Masalah seperti ini yang terjadi di dalam dunia pendidikan di Indonesia memang menjadi sangat rumit. Kali ini saya akan mengungkapkan beberapa hal mengenai UAN di Indonesia untuk siswa. This is fully my opinion about UAN in Indonesia.

Mengapa sih UAN itu penting? Apakah nilai UAN membantu saya untuk mendapatkan Universitas yang saya inginkan secara cuma-cuma?. Dan jawaban yang saya terima adalah tidak. Bahkan ketika saya melamar ke kampus yang saya inginkan nilai UAN belum keluar yang berlaku hanya rapor dari semester 1 hingga 5 di SMA saja. Jalur masuk yang ditawarkan dari kampuspun tidak ada yang menyatakan secara terang-terangan bahwa NILAI UAN sangat penting. Namun saat itu saya hanya berfikir bahwa saya tetap wajib lulus UAN karena justru tidak lulus UAN lah yang membuat saya tidak dapat melanjutkan kuliah. Jadi apa sebenarnya fungsi UAN karena saya justru mengakhawatirkan bahwa UAN lah yang menjadi penyebab fungsi peendidikan di Indonesia mati.

Mungkin UAN dianggap oleh dewan pendidikan sebagai ajang menunjukkan dan meningkatkan kwualitas pendidikan di Indonesia. Tapi saya rasa tidak ada yang berubah, justru dengan adanya UAN lebih banyak siswa yang melakukan kecurangan dalam pendidikan. Karena siapapun pasti tidak mau terhambat pendidikan dan karirnya hanya karena kesalahan dari UAN. Kalau memang Dewan Pendidikan hanya memikirkan untuk menunjukkan dan meningkatkan kwualitas, bukankah para siswa telah bersekolah di setiap hari sekolah yang dikatakan kewajiban mereka untuk sekolah. Tapi kenapa mereka tidak mendapatkan hak atas kelulusan mereka setelah hampir setiap hari sekolah.

Dalam keseharian di sekolahpun mereka melakukan pembelajaran, tes pengetahuan, ujian, praktik dan sebagainya yang saya anggap sudah menunjukkan kwualitas siswa tersebut. Bersaing satu sama lain adalah satu bentuk keberanian dan pertanggunjawaban si pelaku. Bukankah persaingan dalam pendidikan dapat dikatakan suatu cara untuk membuktikan kwualitas siswa dan sekolah.

Oke jika Dewan Pendidikan masih bersikeras bahwa UAN wajib dilakukan bagi para siswa. jadi dapat dikatakan bahwa kehidupan para siswa hanya ditentukan dari 3/4 hari pelaksanaan UAN saja. Benar?

Dengan demikian saya rasa datang ke sekolah tidak perlu diwajibkan, bagaimana?. Saya pikir membiarkan siswa bebas memilih bagaimana cara belajar mereka sendiri untuk menghadapi UAN tersebut adalah perlu dicoba. Jadi terserah mereka memilih sistem belajar seperti apa dan mereka pastinya telah memikirkan apakah mereka ingin lulus UAN atau tidak dari jauh-jauh hari. Memikirkan UAN itu wajib dan menjadi penghalang untuk bisa lanjut kuliah, saya rasa punya tekanan tersendiri bagi saya dulu. Jadi dengan memutuskan datang ke sekolah tidak wajib membuat dan memaksa saya untuk memilih saya ingin lulus UAN atau tidak. Bila iya saya harus belajar dan terserah saya belajar yang seperti apa yang saya pilih.

Tapi maaf, bisa dikatakan fungsi sekolah hanya sebuah nama saja bila demikian. Jadi siswa terdaftar sebagai siswa suatu sekolah tapi tidak wajib datang ke sekolah. Tidak ada uang bulanan sekolah, Tidak ada absen, tidak ada teman, tidak ada organisasi, tidak ada seragam sekolah, tidak ada ujian kelas, tidak ada quiz dll yang dianggap memakan waktu untuk belajar fokus sesuai targat yaitu UAN. Saran ini resikonya sangat besar karena kembali ke individu siswa dan lingkungan. Namun penghematan untuk pengeluaran sekolah menjadi teratasi. Ini juga memungkinkan lebih banyak tempat sekolah terbuka seperti bimbel/khursus-khursus dibanding sekolah umum.

Ya semua itu pilihan dan penawaran yang pernah saya pikirkan tentang sekolah.

Belajar dan berpengetahuan itu wajib untuk mereka yang hidup. Namun bagaimana cara kita untuk menjadi seseorang yang berpendidikan, kita sendirilah yang memutuskan. *Tidak ada yang tau dari arah manakah ilmu akan datang. Itu tergantung bagaimana kamu menyikapi hidupmu.* (IP)

Menjadi Lebih Baik atau Tidak Sama Sekali

18 Apr

Hari ini (18/4) kembali PT KAI beraksi untuk melakukan penggunsuran terhadap hal-hal diluar kebutuhan utama adanya kereta api dengan tujuan untuk menambah dan pemperbaiki kenyamanan penumpang kereta api di Indonesia itu sendiri. Aksi kali ini direncanakan di Stasiun Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Sesas desus yang terdengar adalah PT KAI akan menggusur pedagang-pedangan yang berada di sekitar Stasiun (beberapa meter dari lokasi).

Keputusan dan tindakan dari PT KAI ini dianggap oleh beberapa kalangan merupakan tindakan yang menentang hak asasi masyarakat Indonesia. Yaitu tentang HAM: “Setiap orang berhak atas pemenuhan kebutuhan dasarnya untuk tumbuh dan berkembang secara layak”. Dan sebagai bentuk perlawanan, terdengar kabar bahwa akan ada unjuk rasa dari pedagang setempat yang ‘mungkin’ juga akan didukung oleh mahasiswa sekitarnya.

Berikut ulasan yang saya baca:

BIENgxbCMAIe0Fs.jpg largeSecara pribadi saya setuju dengan tindakan PT KAI dalam memutuskan dan bertindak tegas terhadap hal-hal yang ditunjukkan sebagai bentuk pembersihan area kereta api. Karena saya sendiri sejak lama memimpikan area yang rapi, teratur dan akibatnya membuat saya lebih nyaman berada disekitarnya. Ini bukan mengartikan bahwa saya membenci adanya pedagang di area stasiun. Namun saya pribadi menjadi lebih nyaman bila Negara Indonesia menjadi lebih teratur.

Sebagai awalan ini mungkin berat bagi dua belah pihak. Tidak mungkin secara egois PT KAI bertindak keras kepada rakyat kecuali mereka telah memikirkan kelanjutan dari tindakan mereka. Hanya saja, mungkin kita yang tidak tau.

Sering kali, saya atau beberapa orang yang pernah berdiskusi bersama mengharapkan “Kapan Indonesia menjadi TERTIB terutama Jakarta yang merupakan Ibu Kota Negara yang notabennya banyak negara asing akan mengomentari”. Bukankah tidak nyaman bila Indonesia hanya dikenal di mata negara asing hanya bila kita menyebutkan BALI bukan Indonesia apalagi JAKARTA. Sebagai contoh atau cambukan ‘hinaan’ terhadap Indonesia adalah ‘JB berkata Indonesia, dimana itu, entahlah di suatu tempat yang antah berantah!‘. Menyakitkan bukan mendengarnya. Bukan! maksud saya bukan masalah hinaan itu namun apakah alasan JB memberikan komentar tentang Indonesia seperti itu. Pernah memikirkannya?! saya rasa hanya beberapa dari kalian saja.

Mungkinkah salah satu alasan dibalik hinaan itu adalah fasilitas Indonesia yang tidak membuatnya nyaman, sehingga tidak ada kesan yang tertinggal dari Indonesia. Maka bersama ini saya mengharapkan bantuan pembaca untuk melakukan tindakan yang melahirkan KETERTIBAN dan kenyamanan untuk Indonesia.

Saya tidak tau dalam bentuk apa para pembaca akan berkontribusi menertipkan Indonesia. Bisa jadi dengan menggunakan helm ketika bermotor, mematuhi lalu lintas tanpa protes, memberikan hak kepada pejalan kaki, menyebrang pada tempatnya alias di jembatan penyebrangan atau zebra cross, tidak menghentikan kendaraan di sembarang tempat, membuang sampah pada tempatnya dan sebagainya.

Sekali lagi saya mengatakan bahwa saya bukan mengungkit masalah penggusuran, namun apa yang saya komentari ini adalah lebih ke masalah ketertiban di Indonesia yang semakin lama semakin sulit untuk dibenahi bila tidak dimulai dari sekarang. Terima kasih. (IP)

Refers to yourself

26 Feb

Sering kali saya merasa bahwa saya benar. Ini bukan mengartikan bahwa yang lain salah namun saya hanya beranggapan bahwa yang lain masih kurang tepat. Bersamaan dengan inipun atau secara tidak langsung saya mengakui bahwa saya ini sombong dan keras kepala. Dan ini tentunya tidak sehat untuk diri saya sendiri.

Menjadi seseorang dengan prinsip yang kuat dan teguh pendirian, memang sangat dibutuhkan untuk membentuk pribadi yang kokoh. Apalagi mengingat saya yang tinggal jauh dari orang tua. Tapi dengan ini semua, saya akui bahwa saya merupakan salah seorang yang cukup banyak musuh.

Mungkin perlu saya ceritakan bahwa banyak orang yang mengatakan saya ini sombong dan angkuh. Dan itu terbukti dari sikap keseharian saya.

Tetapi siang itu (23/2) saya mendapatkan suatu teguran hangat secara tidak langsung dari teman saya (E). Awalnya E menceritakan temannya yang lain, mengenai sikapnya yang keras kepala dan memaksa. YA, saya akui memang temannya yang sekaligus teman saya juga memang keras kepala. Mengingat sifat saya yang juga demikian, maka saya sering kali saya tidak cocok dengan beliau.

Banyak inti percakapan yang dapat saya terima dari E, yaitu Kita seharusnya mengacu pada diri sendiri dan Setiap omongan yang keluar sebaiknya disaring dahulu. Ini menyenangkan untuk dibahas, tetapi ketika saya memposisikan diri saya dalam keadaan yang sensitif, kalimat tersebut seolah-olah ditujuan kepada saya juga XD. “Ini tentunya sangat jelas menarik bagi saya”.

Sama halnya dengan apa yang E paparkan, saya juga menangkap hal-hal dan kebiasaan E yang juga seharusnya dapat dia mengerti atau dia kembalikan ke dalam topik yang dia share kepada saya siang itu. Hal ini terbukti dari beberapa kata/kaliamat yang ia lontarkan yang juga menyinggung diriku (meskipun secara tidak langsung bukan ditujuan atas nama saya). Tetapi kalimat yang ia paparkan cukup untuk membuatku malas berbicara lebih dalam/terbuka kepada E.

Saya disini bukan membahas bahwa saya benar/salah atau E benar/salah apalagi teman E yang benar/salah. Yang jelas adalah bahwa apapun yang akan kita lontarkan atau publikasikan sebagiknya memang kita koreksi dan yakini bahwa itu bermaksud baik untuk semuanya.

Semoga inti dari tulisan ini dapat memberikan makna bagi kita. Saya disini masih tahap belajar akan makna kehidupan dan saya berharap kalian juga dapat mendapatkan hal yang positif sama seperti yang saya harapkan. (IP)

Likes vs Needs

16 Jan

Banyak yang mengatakan bahwa “teori itu mudah untuk dikatakan, tapi sulit untuk dijalankan“, ini perkataan yang tidak saya benarkan namun tidak saya salahkan juga secara pribadi. Saya hanya menganggap kalimat itu adalah kalimat bodoh dari seseorang yang sudah tidak punya alasan lagi atas hidupnya. Saya punya pertanyaan dengan orang yang mengatakan kalimat tersebut, “sudah seberapa keras usaha yang kamu lakukan untuk menjalani hidupmu?“.

Mempelajari sesuatu itu memang tidak ada yang cepat. Itu tergantung dengan seberapa suka dan butuh kalian terhadap hal tersebut. Saya akan jujur dalam hal ini, mari kita contohkan kasusnya terhadap diri saya sendiri.

Saya akui bahwa saya tidak suka dengan bahasa inggris. Entah sejak kapan pikiran saya selalu menanamkan kekerasan dan perlawanan akan keinginan yang lainnya. Otak saya selalu menentang bahasa inggris. Selalu muncul pertanyaan “mengapa saya harus belajar bahasa inggris yang merupakan bukan bahasa keseharian saya. Jika demikian mengapa perusahaan menjadikan bahasa inggris sebagai sesuatu yang penting. Mengapa bukan bahasa indonesia saja yang kita sebarkan ke dunia agar semuanya mau belajar bahasa indonesia. Mengapa harus bahasa inggris dari sekian banyak bahasa di dunia. Mengapa dan mengapa

Apa kalian sadar kalau pertanyaan saya itu bodoh. Bayangkan jika semua orang di dunia mengatakan dan berpikir hal yang sama dengan saya. Apa yang akan terjadi. Tentunya akan ada banyak bahasa yang membingungkan dan tidak ada pemersatu dunia ini.

Sama halnya orang yang menyerah dengan mengatakan teori itu mudah dan praktik itu susah. Sebenarnya semuanya sama, ada sebuah jembatan yang harus kalian lewati untuk menggapainya. Jembatan itu akan lahir dari rasa suka dan rasa butuh. Jadi galilah rasa suka dan butuh kalian dengan cara kalian masing-masing. Sama halnya dengan yang saya lakukan saat ini. Happy working and fighting!. (IP)

SMTOWN Live World Tour III Concert in Jakarta

29 Sep

Udah kangen dengan posting saya?

Silahkan baca post bulan ini di other blog saya di:

 SMTOWN Live World Tour III Concert in Jakarta

Terima kasih. (IP)