Tag Archives: belajar

I Love You

17 Jan

Rabu (15/1) telah menjadi episode terakhir penayangan acara favorite saya -HITAM PUTIH-. And I don’t know, when it will come back?!

Saya merasa menyesal saat mengetahui berita ini. Bukan karena acara fav saya berakhir melainkan karena kesalahan saya sebab tidak sempat menonton ‘live’ acara tsb untuk episode terakhir.

Keesokannya tepatnya 16/1, entah mengapa perasaan saya memaksa saya untuk menonton ulang HT via YT, alhasil saya mendapatkan berita tersebut dan langsung menonton kebut acara HT. Sangat disayangkan memang, mengapa acara yang saya nilai mendidik dan memberikan kesan tersebut harus berakhir di awal tahun 2014. Acara yang sudah menemani saya selama 2 tahun lebih ini, membuat saya semakin merindukannya. Semoga harapan Kak Dedy C. bisa di kabulkan (“mungkin kita (HT) bisa kembali lagi menghadirkan acara yang lebih mengispirasi”) -saya tunggu come back nya HT.

Sekali lagi saya katakan ‘sangat disayangkan’! Acara yang benar-benar menginspirasi ini harus berakhir. Mengapa tidak berumur panjang sama seperti Bukan Empat Mata?!

Benar, Kak Dedy pernah mengatakan kalau ‘sesuatu yang pernah dimulai pasti akan ada akhirnya’, tapi mengapa HT berakhir dengan kesan yang  kurang baik di mata saya. Mengapa? ‘jujur’ beberapa bulan belakangan saya sempat dikagetkan dengan adanya sesi tambahan dalam HT yang dibantu oleh Bapak Farhat Abas. Ditambah lagi ada isu kalau Kak Dedy mau digantikan dengan FA. Ini maksudnya apa? Apakah ini salah satu cara Tim Kak Dedy untuk membuat kita tidak kaget dengan perkataan ‘HT Berakhir’ yang akhirnya telah Kak Dedy ucapkan?!

Kekecewaan ini membuat mata saya basah. Kekecewaan pertama saya muncul sejak jam tayang HT pindah ke jam 9 malam. Tapi saat itu saya bisa terima karena ini masalah perusahaan. Lalu diikuti dengan adanya sesi perang di HT antara DC dan FA?!  Astaga, kemana acara yang sangat saya cintai itu?!. Tidakkah Kak Dedy menyadari kalau sesi tersebut dapat mengubah pandangan dan minat penonton?!. Acara yang saya anggap meninspirasi itu berubah menjadi wadah HINA-CELA-SUMPAH-GOSIP.

Selama sebulan HT berubah menjadi acara yang benar-benar saya anggap tidak cerdas seperti biasanya. Rasanya saya ingin  orang tua, saudara dan orang-orang yang pernah saya rekomendasikan HT untuk melupakan HT, saat itu. Hingga akhirnya masa acara HT benar-benar harus berakhir, saya masih belum mendapatkan HT kembali seperti suasana yang saya banggakan. Ini membuat saya kecewa dan ingin menangis.

Tapi yang namanya pernah cinta, apapun kejelekan yang pernah ada pasti bisa aku tolak dan tetap mencari sisi positif dari hal yang kucintai itu. Saya lupa Quote ini saya dapatkan dari mana, mungkin dari salah-satu episode HT.

Tidaklah penting bagaimana kamu memulainya. Akan tetapi menjadi sangat penting bagaimana kamu mengakhirinya…

Hitam Putih akan selalu menjadi acara terbaik yang pernah saya tonton. Terima kasih banyak atas kerja keras Kak Dedy dan Tim Hitam Putih.

This is the last quote in the last episode Hitam Putih.

last

Jakarta Hidden Tour or the Real of Jakarta

29 Aug

Ada yang tau dengan semboyan “Enjoy Jakarta”?

Jika masih ada yang belum tau,  maka semboyan tersebut adalah semboyan untuk Jakarta Tour / Wisata di Jakarta oleh Pariwisata Indonesia.

Benar?! Awalnya saya tidak sama sekali punya komentar tentang semboyan ini. Saya hanya menikmati tahun-tahun pertama saya tinggal di Jakata untuk pendidikan tentunya. Namun seiringan dengan waktu, saya mulai merasakan kesesakan di Jakarta terutama tentang lalu lintas yang tidak pernah habisnya.

Saya atau tepatnya status saya yang pernah menjadi salah satu staf magang di salah satu kampus di Indonesia, pernah mendapatkan ‘seabreg’ buku panduan (guide books) tentang Jakarta. Buku-buku itu diberikan oleh Mentri Pariwisata Indonesia untuk membantu apabila ada mahasiswa asing yang berminat dengan wisata di Jakarta. Dan pada buku panduan itu terpampang dengan jelas semboyan wisata Jakarta.

Kembali ke soal semboyan. Sebenarnya saya pernah bergumam sendiri mengapa semboyan itu terdengar kurang nyaman di telinga. Seolah menjawab kebingungan saya, bos saya bergumam “apanya yang Enjoy Jakarta. Orang macet dimana-mana?!”.

Benar?! Saya rasa itu jawaban yang tepat untuk membantu rasa kekurang nyamanan saya terhadap semboyan tersebut.

Pemikiran ini jauh terlintas, setidaknya sekitar tahun 2011.

Hingga pada 28 Agustus 2013 di salah satu Talk Show Favorite Trans7 ‘Hitam Putih’ dengan menghadirkan pembicara Ronny Poluan (Lulusan Institut Kesenian Jakarta (IKJ)). Beliau adalah pendiri dari Jakarta Hidden Tour. Dalam tour-nya para tourism akan disajikan wisata yang jauh berbeda dari biasanya. Tetap ada sisi keindahan dan keramahan, namun bukan hal-hal yang dipandang positif bagi Jakrata. Bila ingin tau lebih detil apa yang ditawarkan dapat dilihat pada halaman berikut: http://realjakarta.blogspot.com/

Acara yang berlangsung ‘live’ itu sangat menyegarkan hati dan pikiran. Seolah mengangkat kembali rasa kurang nyaman pada tahun 2011, Mas Ronny mampu memberikan dan menjelaskan pengertian wisata versi beliau.

Jakarta pada kenyataannya memang tidak dapat dikatakan Ibu Kota yang Indah, seperti Ibu Kota di Negara luar lainnya. Macam jenis ‘keruetan’ di pusat Ibu Kota Negara Indonesia bisa jadi adalah awal dari ketidak-lahirannya kenyamanan di Kota sendiri. “yaa, bagaimana bisa dibilang alami. Bila gedung-degung tua di Jakarta kini telah mengalami banyak modifikasi. Dari sisi mana yang bisa kita nilai dengan sejarahnya. Kalian tau di sepanjang Bundaran Hotel Indonesia itu hanya gedung Duta Inggris yang masih alami bagunan tua, yang lainnya sudah mengalami modifikasi/moderenisasi”

Penjelasan dari Mas Ronny membuat saja menanggukan kepala. Seakan-akan sependapat, Mas Ronny pun mempertegas dengan mengatakan “jadi sangat jelas bahwa negara asing lah yang lebih mengahargai sejarah di negara kita”.

Sebenarnya saya tidak menyalahkan ataupun membenarkan argument itu, namun argument itu akan menjadi sangat benar karena memang tidak ada tindakan tegas dari pemerintah terutama menyangkut sejarah atau wisata di Jakarta.

Coba kita lihat di Negara Singapore. Indah, bukan?!. Negara itu masih negara yang kecil wilayahnya bila dibandingkan dengan Indonesia. Tapi mengapa Singapore lebih terdengar popular di negara orang?!. Alasan pribadi saya adalah karena Indah dan nyaman. Singapore itu sangat sedikit bangunan tuanya. Tapi mereka memanfaatkan juga bagunan modern dengan sangat maksimal.

Oke. Memang sih Jakarta tidak dapat dikatakan nyaman kerena masih ada ‘macet’, tapi Jakarta masih bisa di buat Indah kok. Bagaimana caranya?!

Bila kita tidak dapat memaksimalkan kota di waktu siang, maka manfaatkan dengan sangat maksimal disaat malam hari. Tambahkan saja keindahan itu pada saat malam hari. Hiasi seluruh bagian Jakarta dengan lampu-lampu warna-warni yang Indah dengan aneka bentuk dan rupa sehingga memberikan kesan bintang bertaburan di Jakarta. Bukankah pada saat malam harilah, Jakarta lebih sepi. Bebas ‘macet’ kan. Dan ini bisa juga digunakan oleh kota-kota di Indonesia loch. Saya rasa masih belum ada istilah night tour.

Jika nilai wisata di Indonesia berubah lebih baik dari sisi manapun, mungkin kita bisa sedikit merubah semboyannya menjadi “The Queen of Asian” itu menurut Mas Ronny. Atau bisa menjadi “Asian star” ini menurut saya hehe…

Tapi bila masih ada masalah seperti tidak aman dan itu menghabiskan banyak energy listrik?!

Benar. Bila egois, memang pasti akan sangat berbahaya. Kalau begitu kita tidak akan sama sekali ada perubahan dan tidak dapat belajar dari orang lain.

Kita masih akan sama seperti tahun lalu, tahun ini dan tahun depan.

–Maaf bila ada keegoisan dalam sharing saya kali ini. (IP)

Smart child

20 Aug

Malam itu terasa sedikit membosankan. Apapun yang ingin aku lakukan menjadi serba salah. Ingin nonton TV nggak ada yang bagus. Ingin baca buku, baru minggu lalu aku selesaikan. Pilihan tinggal dua membaca komik Conan atau makan. Akhirnya aku memilih untuk membaca komik setidaknnya hingga magrib usai.

Bersebelahan dengan menonton acara favorit Hitam Putih, aku pun hampir menyelesaikan komik Conan dalam sekejap. Dan tidak terasa perutku sudah mulai berteriak untuk diisi sesuatu. Yaaa karena malam ini aku malas memasak nasi, aku putuskan hanya menggantinya dengan mie dan telur. Alhasil aku turun dari kamar untuk menuju dapur kosan.

Terlihat disana satu keluarga kecil yang berstatus penjaga kosanku sedang bercengkraman ria. Menceritakan pengalaman hari ini bersama kedua anak perempuannya. Anak pertama panggilannya Fitri (10 tahun) dan kedua panggilannya Puput (7 tahun). Mereka masing-masing masih duduk di bangku sekolah dasar.

“Halo Ibu…” sapaku malam itu

“eh, ada kak Indah. Makan kak?”

“Iya nih, lagi pingin makan mie sama telur bu”

“wah..tadi saya juga makan mie bareng anak-anak. Habis saya males masak, Kak”

“Oh..jadi udah pada makan semua nih. Padahal kakak mau masak-in loch” candaku pada Fitri dan Puput yang tampak malu

Akhirnya aku memfokuskan mie dan panciku. Sambil sedikit mendengarkan percakapan keluarga itu sih. Bukan sengaja untuk menguping. Tapi aku itu ‘mau tidak mau’ pasti mendengar percakapan mereka dimana posisi percakapannya berada di belakangku.

“Kak, ini bacanya gimana?” tanya Puput sambil jongkok memperhatikan buku di depan kakaknya.

“A-ni-sha Fi-tri-a” eja Fitri.

“loh kok ‘a’ dibaca ‘ya’. Salah dong kak. Seharusnya nama kaka itu dibaca ‘A-ni-sha Fi-tri-a’ dengan mengeja huruf ‘a’ jelas bukan menjadi ‘iya’” balas Puput cukup polos dan serius

“Bukan. Tapi membacanya ‘Fi-tri-ya’ bukan ‘Fi-tri-a’” bantah kakaknya

“lah ini kan huruf ‘a’ bukan ‘ya’ kak? ‘y’nya mana kak?”

“Lah, kakak itu salah. Nama kamu itu pakai ‘ya’ bukan ‘a’ toh kak” kata Ibu yang sedikit membuat Fitri bingung

“jadi gini toh bu A-ni-sha Fi-tri-ya” perbaikan Fitri sambil menuliskan namanya sendiri

“iya”

Berakhirlah aku mendengarkan percakapan mereka. Karena makananku sudah aku selesaikan.

“Ibu, aku keatas ya. Mari makan semuanya” sapaku sebagai penutup.

“iya, kak Indah”

Sebenarnya selama proses masak dan mendengarkan percakapan aku sedikit menahan nafsu untuk ikut bergabung bersama mereka. Alasannya hanya ingin tau saja, pola pikir anak-anak itu seperti apa. Yaa sambil senyum-senyum aku hanya memikirkan bahwa anak kecil memang polos. Susah untuk dibodohi. Sepintar apapun kita, mereka jauh polos. Aku rasa percakapan mereka tidak ada yang salah. Hanya saja itu akan menentukan bagaimana seorang guru harus pandai menjelaskan pengejaan yang benar dalam Bahasa Indonesia. Aku rasa itu akan sangat penting bagi pemahaman mereka.

–atau jangan-jangan selama ini aku juga belum mengenal Bahasaku sendiri– 😀 (IP)

Learn from DramaTV: The Queen Classroom

16 Aug

Memang terdengar sangat menyedihkan apabila karakter dalam sebuah drama TV adalah sebuah kenyataan. Tapi peristiwa didalam sebuah drama TV biasanya mengadung setidaknya 15% hal nyata. Mengapa aku dapat mengatakan demikian?! Bukan karena aku sudah melakukan sebuah penelitian khusus, namun lebih kurang itu sebuah feeling semata. Salah bila aku berfikir demikian?!. Tidak.

Menurutku tidak akan jadi sebuah drama TV yang baik kalau tidak bisa menyampaikan apa yang juga dirasakan oleh penulisnya. Itulah mengapa sebuah drama TV biasanya mengandung hal yang nyata. Atau sebaliknya, biasanya sikap penonton akan menirukan apa yang mereka lihat, salah satunya drama TV. Dan ini juga dapat membuat drama TV menjadi nyata dikemudian hari. Bukankah kita tidak akan percaya bahwa “Ibu Tiri” itu biasannya jahat kalau bukan dari drama TV “Cinderella”. Padahal tidak semua Ibu Tiri itu jahat, tapi memang ada beberapa kasus Ibu Tiri yang memiliki kejutan.

Kali ini aku akan sedikit mengulas cerita dari sebuah Drama TV Korea tahun 2013 berjudul The Queen Classroom. Sebenarnya drama TV ini adalah drama recycle dari drama TV Jepang tahun 2005 dengan judul yang sama persis. Mungkin perbedaannya adalah budaya dan suasana yang menjadi sedikit lebih modern. Ini kisah anak sekolah yang masih ingin mencari kesenangan dunia dan dalam proses pencarian jati diri. Kisah siswa kelas 6 SD yang akan memulai perjalanan baru yang dirasa akan lebih rumit pasca kelulusannya. Ide cerita sebenarnya cukup sederhana.

Sikap Diskriminasi.

Benar, sikap diskriminasi sebenarnya adalah hal yang lumrah terjadi dalam kehidupan serumit apapun. Bahkan bisa juga menimpa dirimu dalam keluargamu sendiri. Karena sikap diskriminasi akan muncul disaat seseorang mulai membandingkan antar satu dan lainnya. Namun drama TV ini menjadi menarik karena pelaku diskriminasi adalah seorang siswa dan korban adalah siswa lainnya. Belum lagi situasi diskriminasi yang dilakukan dapat mengakibatkan hilangnya nyawa orang lain. Sikap diskriminasi oleh dan kepada siswa yang seharusnya dunia mereka masih dipenuhi dengan kebahagiaan dan permainan. Ini tidak benar, bukan?

Drama TV ini baik untuk seorang guru yang memiliki pendirian kuat dan benar-benar ingin dianggap sebagai pahlawan tanpa jasa. Seorang guru seharusnya berhasil mendidik siswa bukan hanya dari hal-hal dapat dinilai dengan kasat mata melainkan juga berhasil mendidik siswa sehingga menghasilkan sebuah ketulusan dan penilaian dari hati. Menjadi seorang guru yang pintar dan baik tentunya dapat dilakukan oleh banyak orang namun menjadi Guru yang menginggalkan kesan Istimewa bagi siswa sehingga siswa itu berani berlari disaat sang guru membutuhkannya, aku rasa itu akan cukup sulit.

Dalam ceritanya, pembelajaran yang diberikan tidak hanya tampak dari sisi siswa namun juga dari sisi guru. Siswa yang baik seharusnya mampu membedakan dari sisi mana seorang guru dapat dinilai baik atau jahat. Jangan takut untuk bertanya dan mencari tau pokok permasalahannya. Karena sekolah bukan hanya sekedar –Guru memberikan masalah dan Siswa yang menyelesaikannya. Ada sebuah alasan, mengapa seorang guru bersikap demikian dihadapanmu, ‘mungkin’. Dan cobalah untuk positive thinking. (IP)

Berikut kutipan dari seorang siswa dalam drama TV The Queen Classroom:

Bukannya aku tidak percaya pada mimpi yang tidak mungkin.

Aku percaya pada kemungkinannya.

Guru hanya membimbing. Anak-anak yang menemukan jalannya sendiri, merubah hidup mereka dan dunianya untuk hidup yang lebih baik.

Mendapatkan kampus yang bagus dan pekerjaan yang bagus tidak bisa menjadi tujuan.

Ujian atau nilai bukan segalanya.

Percayailah apa yang kamu percayai.

Tidak masalah melakukan kesalahan. Tidak masalah jika gagal.

Saat aku bahagia, temanku juga harus bahagia.

Anggaplah dirimu berharga, dan anggaplah temanmu juga berharga, jadi kau bisa hidup bahagia hari ini bersama teman-temanmu.